Konten dari Pengguna

Bukan Manusia Serigala! Ketika Quileute Menolak Hipperealitas Wisata Twilight

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Praya Dharani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

The Twilight Saga, sebuah seri film adaptasi novel karya Stephenie Meyer dengan judul yang sama, pertama kali menyapa pembaca pada tahun 2005. Seri yang terdiri atas lima sekuel ini digarap oleh rumah produksi Summit Entertainment di bawah produser Wyck Godfrey serta Karen Rosenfelt, dengan peluncuran perdana pada tahun 2008. Sejauh perjalanannya, menurut data dari Twilight Movies at the Box Office dalam Coleman (2019) seri pertama dari film ini berhasil mencetak angka penjualan dengan pendapatan fantastis sebesar $393,6 juta USD, sebuah pencapaian yang sangat masif jika dikomparasikan dengan ongkos produksi yang relatif minim yakni kisaran $37 juta USD. Kejayaan seri ini memuncak pada sekuel kelima dengan tajuk, “Breaking Dawn Part 2,” yang meraup total $829,7 juta USD dengan penjualan global. Angka-angka tersebut telah membuktikan bahwa, The Twilight Saga tak hanya film semata melainkan sebagai fenomena kultural sekaligus penggerak ekonomi kreatif Amerika Serikat di kancah internasional.

Narasi cerita ini sendiri menelusuri kehidupan Isabella Swan, siswi SMA pindahan asal Arizona yang menapaki babak baru di Kota Forks, Washington, sebuah kota kecil dengan curah hujan tinggi. Di sanalah ia terjerat dalam romansa magis bersama Edward Cullen, sang vampir vegetarian yang karismatik, serta Jacob Black, anggota suku Quileute yang memiliki karakteristik unik sebagai manusia serigala atau werewolf. Namun dibalik kesuksesan romansa ini, muncul pertanyaan tentang sejauh mana kisah fantasi vampir ini mampu mendistorsi pandangan para penggemar terhadap realitas Kota Forks serta eksistensi Suku Quileute dalam dunia nyata?

Forks dan Pantai La Push

Kenapa Forks?

Papan Selamat Datang Ikonik menuju Kota Forks, Washington, Amerika Serikat. (Sumber: Mathaeus Andersen/iStock)

Pemilihan Kota Forks sebagai latar dari cerita ini rupanya bukan tanpa alasan, dalam salah satu unggahannya di blog tentang Twilight’s Backstory, meyer menulis “I knew I needed someplace ridiculously rainy,” ia bergerak hanya dengan bermodalkan penelusuran digital melalui mesin pencari, Google, Meyer akhirnya melabuhkan pilihannya pada kota Forks yang secara geografis terletak di Semenanjung Olympic, Washington, Amerika Serikat. Wilayah ini dikenal dengan curah hujan ekstrem yang mencapai rata-rata 120 inci atau sekitar 3 meter per tahun, menjadikannya salah satu wilayah paling basah di dataran utama Amerika Serikat (Yoder, 2021).

Dalam proses pencarian digitalnya, Meyer juga menemukan La Push, sebuah pemukiman nelayan yang terisolasi sekitar 24 kilometer ke arah barat dari pusat Forks. Terletak secara strategis di muara Sungai Quillayute yang berbatasan langsung dengan Samudra Pasifik, wilayah ini merupakan rumah dari Reservasi Suku Quileute yang memiliki rekam jejak historis selama ribuan tahun. Meyer mengungkapkan dalam narasinya, bahwa ia merasa sangat antusias saat menemukan eksistensi komunitas masyarakat Quileute di sekitar koordinat geografis pilihannya (Reese, 2009).

Pemandangan Second Beach di Taman Nasional Olympic, Washington (La Push). (Sumber: Brianna Parks/Unsplash)

Amerika Serikat dan Perkembangan Wisatanya

Jika melihat sektor pariwisatanya, perkembangan wilayah yang dipicu oleh industri kreatif ini kemudian merubah kota penebang kayu (Forks) yang sempat terpuruk dengan angka pengangguran sekitar 14,6% pada 1999 (Coleman, 2019) menjadi pusat aktivitas ekonomi, dengan gelombang pertumbuhan yang masif terjadi pada sektor ritel tematik, penginapan, hingga layanan jasa tur privat yang dinamis dan berkelanjutan. Lonjakan statistik pengunjung di pusat informasi wisata tercatat sangat signifikan, dari yang hanya berkisar 5.200 jiwa di tahun 2004, menjadi lebih dari 72.000 wisatawan pada puncaknya di tahun 2010, dan menyentuh angka rekor baru sebesar 78.000 pengunjung pada 2024 sebagaimana dipaparkan oleh Lissy Andros, Direktur Eksekutif Kamar Dagang Forks (Martin, 2025).

Fenomena meroketnya popularitas Kota Forks dan pesisir Pantai La Push pasca-ledakan fenomena The Twilight Saga nyatanya melampaui sekadar rekam jejak bagi sektor pariwisata domestik. Jika ditelisik melalui kacamata Hubungan Internasional, dinamika ini merupakan manifestasi nyata dari pop-culture sebagai instrumen soft power serta strategi nation branding yang sangat komprehensif dari Amerika Serikat.

Di sini industri film Hollywood bertindak sebagai aktor non-negara yang berhasil melalui publikasi produk perfilman-nya yang sukses mengonstruksi suatu wilayah geografis terpencil menjadi suatu komoditas pariwisata yang memiliki daya kunjung global. Selaras dengan konsep soft power yang digagas oleh Joseph Nye, di mana hal ini menekankan pada kemampuan suatu negara untuk memikat dan memengaruhi khalayak global melalui daya tarik budaya dan nilai, alih-alih melalui paksaan militer atau insentif ekonomi (Nye, 2021). Dalam kasus ini, Amerika Serikat sebagai aktor negara, berhasil memperkuat citra negaranya sebagai pusat industri kreatif dunia yang mampu menggerakkan arus modal, komoditas, serta manusia untuk melakukan perjalanan lintas batas negara, dibuktikan dari besarnya arus wisatawan internasional ke Semenanjung Olympic.

Dampak positif ini juga merambah pada peningkatan profit bagi Suku Quileute, di mana pendapatan Quileute Oceanside Resort tercatat naik hingga 30% sebagai respons terhadap fenomena Twilight Fever atau Demam Twilight (Reese, 2009). Tak hanya itu, saat memasuki wilayah pesisir La Push, pengunjung akan disambut oleh kedai kopi Jacob's Java. Meskipun produk komersial resmi film ini terbatas di sana, para seniman lokal seperti Ann Penn-Charles membuat kerajinan tangan tradisional seperti topi wol Cowichin berhiaskan rajutan bertuliskan “Jacob” dan “Twilight” dapat ditemukan di Lonesome Creek Store, yang juga memfasilitasi sebuah papan pesan interaktif bagi para penggemar untuk mengekspresikan pesan personal kepada karakter-karakter Twilight idola mereka (Smith, 2010).

Ancaman Hiperrealitas

Meskipun membawa “angin segar” bagi pertumbuhan ekonomi lokal, film fiksi ini nyatanya telah menarik penggemar ke arah hiperrealitas.

Hiperrealitas adalah sebuah konsep yang diungkapkan oleh seorang filsuf Prancis, Jean Baudrillard. Dikatakan bahwa hiperrealitas merupakan suatu kondisi di mana representasi dari media dianggap lebih “nyata” daripada realitas itu sendiri. Dalam konteks pariwisata industri kreatif perfilman hal ini telah melahirkan simulacrum (Sari, 2024), terminologi yang berarti citra buatan yang diproduksi oleh Hollywood, di mana hal ini pada akhirnya menggantikan ruang kenyataan objektif dari Kota Forks dan pemukiman La Push. Akibatnya, banyak sekali wisatawan yang tidak lagi menikmati aspek geografis atau budaya aslinya, melainkan mengonsumsi tanda atau signs fiktif yang dikomersialkan dan dilekatkan pada wilayah tersebut. Misalnya, Penggemar melakukan ziarah ke lokasi fiktif di Forks yang telah dipetakan secara semiotik, seperti penyediaan tempat parkir khusus bagi “Dr. Cullen” di rumah sakit nyata atau pajangan truk merah Bella Swan di balai pusat informasi (Smith, 2010).

Masalah-Masalah yang Timbul

Disorientasi ini menciptakan dampak destruktif yang melampaui sekadar ketidaknyamanan. Kegagalan wisatawan dalam membedakan fiksi dan realitas telah memicu invasi privasi yang serius di komunitas suku Quileute, seperti insiden intrusi di rumah penduduk yang sempat dilaporkan, di mana para penggemar tanpa ragu mengetuk pintu warga untuk mencari rumah fiktif dari karakter Jacob Black atau meminta masuk untuk melihat isi rumah mereka sebagaimana diungkapkan oleh seniman fiber, Eileen Penn, dalam laporan Richard Arlin Walker pada ICT News (2011).

Eksploitasi identitas ini bahkan telah masuk ke ranah yang lebih serius ketika, tim video dari MSN.com masuk tanpa izin ke pemakaman sakral suku dan merekam makam para pemimpin suku untuk tur virtual, yang kemudian harus dihapus setelah protes dari pihak suku (Smith, 2010). Ironisnya, di tengah komodifikasi masif nama dan identitas Quileute melalui berbagai merchandise, suku tersebut justru sering kali dipinggirkan dari rantai keuntungan ekonomi yang dihasilkan oleh industri film vampir tersebut (Harlow, 2012). Fenomena ini menegaskan bahwa pariwisata yang tidak beretika tidak hanya sekadar komersialisasi, melainkan sebuah bentuk perampasan identitas budaya yang sistemik di balik kedok hiburan.

Lantas, Siapa Suku Quiluete itu Sebenarnya?

Seekor Serigala. (Sumber: Milo Weiler/Unsplash)

Budaya asli Suku Quileute nyatanya sangat berbeda dari fiksi Meyer, di mana mereka tidak memiliki legenda vampir dan dijelaskan bahwa asal-usul mereka berasal dari K'wati (Sang Pengubah) yang mengubah serigala menjadi manusia pertama, bukannya manusia yang bisa berubah menjadi serigala dengan sesuka hati demi berperang melawan vampir. Selain itu, masyarakat Quileute memiliki struktur matriarki yang kuat, di mana perempuan memegang posisi kepemimpinan utama, berbanding terbalik dengan penggambaran yang pasif seperti di film (Smith, 2010).

Langkah Strategis Suku Quileute

Untuk mengatasi hiperrealitas yang mengancam identitas ini, suku Quileute bekerja sama dengan Museum Seattle dan Museum Burke, mereka meluncurkan pameran “Behind the Scenes: The Real Story of the Quileute Wolves” dan situs web “Truth vs Twilight” untuk meluruskan miskonsepsi bahwa mereka adalah “manusia serigala” dan menunjukkan sejarah nyata mereka selama 12.000 tahun. Selain itu, suku ini menyelenggarakan lingkaran genderang mingguan atau drum circle sebagai media edukasi bagi pengunjung yang ingin mendalami narasi sejarah asli suku Quileute (Smith, 2010).

Dari kasus ini telah memberikan pelajaran penting tentang bagaimana sebuah narasi fiksi bak pedang bermata dua yang dapat membangkitkan ekonomi daerah sekaligus mengancam integritas masyarakat adat melalui komodifikasi identitas budaya. Kesimpulannya, keberhasilan pariwisata berbasis film tidak boleh hanya diukur dari angka statistik kunjungan kuantitatif, ataupun lonjakan ekonomi skala makro, melainkan harus diseimbangkan dengan perlindungan kedaulatan dan hak intelektual masyarakat lokal. Melalui upaya edukasi mandiri seperti yang dilakukan suku Quileute, diharapkan kedepannya wisatawan dapat beralih dari sekadar mengejar fantasi yang telah dilekatkan menuju apresiasi yang lebih mendalam terhadap latar belakang historis dari manusia itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

  1. Coleman, E. (2019). Twilight tourism: The Forever Twilight Festival: A case study of literary tourism as an economic stimulus. Unsuitable: Conversations about women, history & popular fiction, Duke University. https://sites.duke.edu/unsuitable/twilight-tourism/

  2. Harlow, R. E. (2012). Misrepresenting the Quileute Nation: An anti-imperialist critique of Stephenie Meyer's Twilight saga [Skripsi Sarjana, The Pennsylvania State University]. Schreyer Honors College Digital Repository. https://honors.libraries.psu.edu/catalog/13859

  3. Martin, M. (2025, September 21). Why 'Twilight' has become immortal in this former Washington state logging town. OPB. https://www.opb.org/article/2025/09/21/twilight-anniversary-forks-logging-town/

  4. Nye, J. S. (2021). Soft power and great power competition. Sasakawa Peace Foundation USA. https://spfusa.org/wp-content/uploads/2021/06/PDF-Dr.-Nye.pdf

  5. Reese, D. (2009, Juli 7). Quileute response to Twilight. American Indians in Children's Literature. https://americanindiansinchildrensliterature.blogspot.com/2009/07/quileute-response-to-twilight.html

  6. Sari, A. P. (2024). Hiperrealitas konsumsi keluarga pekerja migran pada tren kendaraan (Studi kasus di Kabupaten Ponorogo) [Skripsi Sarjana, Universitas PGRI Madiun]. Repository UNIPMA. https://eprint.unipma.ac.id/478/4/BAB%20II_ANING.pdf

  7. Smith, B. L. (2010). The Twilight Saga and the Quileute Indian Tribe: Opportunity or cultural exploitation? The Evergreen State College. https://www.evergreen.edu/sites/default/files/smith-the-twilight-saga-9-3-13.pdf

  8. Walker, R. A. (2011, Desember 4). The truth vs. Twilight: Quileute website explores reality and fiction. ICT News. https://ictnews.org/archive/the-truth-vs-twilight-quileute-website-explores-reality-and-fiction/

  9. Yoder, K. (2021, Augustus 25). The ‘Twilight’ romance no one talks about. Grist. https://grist.org/culture/twilight-saga-forks-edward-bella-jacob/