Konten dari Pengguna

Harga Naik, Gaji Tak Terasa: Pertumbuhan Ekonomi di Tengah Tekanan Inflasi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Putri Zakia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Indonesia masih mencatat pertumbuhan ekonomi yang cukup kuat. Namun, di tengah pertumbuhan tersebut, masyarakat tetap menghadapi persoalan lain: harga kebutuhan yang meningkat dan pendapatan yang belum tentu tumbuh dengan kecepatan yang sama.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan sederhana tetapi penting:

jika ekonomi Indonesia tumbuh, mengapa sebagian masyarakat masih merasa daya belinya tertekan?

Jawabannya tidak cukup hanya dengan melihat angka pertumbuhan ekonomi. Untuk memahami kondisi tersebut, perlu melihat beberapa indikator makroekonomi secara bersamaan, mulai dari pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), inflasi, upah, hingga kondisi pasar kerja.

Ekonomi Indonesia Masih Tumbuh

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini menunjukkan aktivitas ekonomi nasional masih berkembang meskipun perekonomian global menghadapi berbagai ketidakpastian.

Sebelumnya, pada triwulan I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi, yakni 5,61 persen yoy. Dengan demikian, pertumbuhan pada triwulan II memang lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya, tetapi tetap berada di atas 5 persen.

Badan Pusat Statistik Indonesia

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi tidak hanya berasal dari satu komponen. Konsumsi rumah tangga, investasi, konsumsi pemerintah, serta aktivitas ekspor dan impor ikut membentuk kinerja perekonomian nasional.

Pada triwulan I 2026, misalnya, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi didukung oleh permintaan domestik, termasuk konsumsi rumah tangga.

Bank Indonesia : Artinya, secara agregat, mesin perekonomian Indonesia masih berjalan.

Namun, pertumbuhan ekonomi nasional tidak otomatis berarti setiap rumah tangga mengalami peningkatan kesejahteraan dengan kecepatan yang sama.

Inflasi Membuat Pertumbuhan Terasa Berbeda

Salah satu indikator penting yang perlu diperhatikan adalah inflasi.

BPS mencatat inflasi Indonesia pada Agustus 2026 sebesar 3,19 % yoy, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,97. Angka tersebut menunjukkan bahwa secara umum tingkat harga pada Agustus 2026 lebih tinggi dibandingkan Agustus tahun sebelumnya.

Inflasi sendiri bukan berarti seluruh harga barang naik dengan persentase yang sama. Setiap kelompok barang dan jasa memiliki perubahan harga yang berbeda. Begitu pula setiap rumah tangga memiliki pola konsumsi yang berbeda.

Karena itu, angka inflasi nasional tidak selalu sama persis dengan kenaikan biaya hidup yang dirasakan setiap individu.

Aktivitas masyarakat saat berbelanja kebutuhan pokok di pasar. Kenaikan harga barang dan jasa dapat memengaruhi daya beli masyarakat meski perekonomian nasional tetap tumbuh. Rabu, 08.25 WIB, di salah satu Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Dok: Putri Zakia.

Seseorang yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk makanan dan transportasi dapat merasakan tekanan harga yang berbeda dengan seseorang yang memiliki pola konsumsi berbeda.

Di sinilah konsep daya beli riil menjadi penting.

Secara sederhana, pendapatan nominal seseorang dapat meningkat, tetapi jika harga barang dan jasa juga meningkat, kenaikan tersebut belum tentu menghasilkan peningkatan kemampuan membeli barang dan jasa dalam jumlah yang lebih besar.

Bagaimana dengan Upah?

Data ketenagakerjaan juga memberikan gambaran mengenai kondisi masyarakat.

BPS mencatat pada Mei 2026 terdapat 155,41 juta orang angkatan kerja dan 148,19 juta orang penduduk bekerja. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,65 persen, turun 0,03 poin persentase dibandingkan Februari 2026.

Sementara itu, rata-rata upah buruh pada Mei 2026 mencapai Rp3,39 juta. Angka tersebut perlu dibaca secara hati-hati. Rata-rata upah buruh bukan berarti seluruh pekerja di Indonesia memperoleh pendapatan sebesar Rp3,39 juta.

Struktur tenaga kerja Indonesia sangat beragam. Ada pekerja formal, pekerja informal, pekerja mandiri, pelaku usaha kecil, hingga pekerja dengan tingkat produktivitas dan pendapatan yang berbeda-beda.

Karena itu, pertanyaan mengenai daya beli tidak cukup dijawab dengan melihat apakah upah meningkat secara nominal. Yang juga perlu diperhatikan adalah bagaimana perkembangan upah tersebut dibandingkan dengan kenaikan harga barang dan jasa.

Pertumbuhan Ekonomi Tidak Sama dengan Kenaikan Pendapatan di sinilah sering muncul kesalahpahaman dalam membaca angka ekonomi.

Pertumbuhan PDB sebesar 5,29 persen berarti nilai produksi barang dan jasa dalam perekonomian meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka tersebut merupakan ukuran kinerja perekonomian secara agregat.

Namun, PDB bukan ukuran langsung mengenai berapa banyak uang yang masuk ke rekening setiap rumah tangga.

Pertumbuhan ekonomi dapat berasal dari berbagai sektor dan aktivitas. Manfaatnya kemudian tersebar melalui upah, keuntungan usaha, investasi, penerimaan pemerintah, serta berbagai aktivitas ekonomi lainnya.

Karena distribusi pendapatan, jenis pekerjaan, dan struktur konsumsi masyarakat berbeda-beda, pengalaman setiap rumah tangga terhadap pertumbuhan ekonomi juga dapat berbeda.

Dengan kata lain, ekonomi bisa tumbuh sementara sebagian masyarakat tetap merasa ruang keuangannya sempit.

Peran Pemerintah dan Bank Indonesia

Kondisi seperti ini membuat kebijakan ekonomi makro memiliki peran penting.

Pemerintah menggunakan kebijakan fiskal melalui APBN untuk menjaga aktivitas ekonomi sekaligus memberikan dukungan kepada masyarakat dan sektor produktif.

Dalam APBN 2026, pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen, dengan asumsi inflasi sebesar 2,5 persen. Belanja negara ditetapkan sebesar Rp3.842,7 triliun, sedangkan pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp3.153,6 triliun.

Kementerian Keuangan

Sementara itu, Bank Indonesia menggunakan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas harga dan mendukung pertumbuhan ekonomi.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada dalam kisaran 4,9–5,7 persen.

Bank Indonesia

Kebijakan tersebut menunjukkan adanya kebutuhan untuk menjaga keseimbangan antara dua tujuan: mempertahankan pertumbuhan ekonomi dan memastikan stabilitas makroekonomi.

Pertumbuhan yang terlalu lemah dapat berdampak pada kesempatan kerja dan pendapatan. Namun, tekanan harga yang terlalu tinggi juga dapat mengurangi daya beli masyarakat.

Tantangannya Bukan Sekadar Mengejar Angka Pertumbuhan

Data-data tersebut memperlihatkan bahwa kondisi ekonomi Indonesia tidak bisa dibaca secara hitam putih.

Di satu sisi, ekonomi Indonesia masih tumbuh lebih dari 5 persen. Pasar kerja juga menunjukkan perbaikan dengan tingkat pengangguran terbuka 4,65 % pada Mei 2026.

Badan Pusat Statistik Indonesia

Di sisi lain, inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19 % dan masyarakat tetap menghadapi perubahan biaya hidup yang berbeda-beda. Karena itu, ukuran keberhasilan ekonomi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah PDB tumbuh atau tidak.

Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah apakah pertumbuhan tersebut mampu menciptakan lapangan kerja yang produktif, meningkatkan pendapatan riil, menjaga stabilitas harga, dan memperluas kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi yang kuat akan lebih bermakna apabila dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan yang dirasakan secara lebih luas.

Sebab bagi masyarakat, kondisi ekonomi bukan hanya tentang angka 5,29 % atau 3,19 %. Ekonomi juga terasa dalam harga makanan di meja makan, biaya transportasi, cicilan, biaya pendidikan, dan jumlah uang yang masih tersisa setelah kebutuhan bulanan terpenuhi.

Di situlah tantangan ekonomi makro Indonesia berada: bukan hanya menjaga ekonomi tetap tumbuh, tetapi memastikan pertumbuhan tersebut berjalan bersama dengan daya beli dan kesejahteraan masyarakat.

Data utama yang dipakai :

  • Pertumbuhan ekonomi Q2 2026: 5,29% yoy.

  • Pertumbuhan ekonomi Q1 2026: 5,61% yoy.

  • Badan Pusat Statistik Indonesia

  • Penduduk bekerja: 148,19 juta orang.

  • Badan Pusat Statistik Indonesia

  • Tingkat Pengangguran Terbuka: 4,65%.

Badan Pusat Statistik Indonesia

  • Rata-rata upah buruh: Rp3,39 juta per bulan.

  • Proyeksi pertumbuhan ekonomi BI 2026: 4,9–5,7%.

Bank Indonesia

  • Target pertumbuhan ekonomi APBN 2026: 5,4%.

Kementerian Keuangan

  • Target inflasi APBN 2026: 2,5%.

Kementerian Keuangan

  • Belanja negara APBN 2026: Rp3.842,7 triliun.