Konten dari Pengguna

Analisis Kelayakan Finansial dan Risiko Ekologis Eco-Tourism di Era Perubahan Iklim

Ridha Fadiyah

Ridha Fadiyah

Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang

·waktu baca 11 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ridha Fadiyah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Apirak AP Sangprot/Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Apirak AP Sangprot/Pexels

Penulis:

Muhamad Furqon A.C, Muhammad Ajinuroki, Ridha Fadiyah, dan Yoga Adrian Lesmana

Email: furqonabimanyu@gmail.com · muhamadajinuroki@gmail.com · ridhafadiyah0803@gmail.com · yogaadrian24@gmail.com

Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang.

1. PENDAHULUAN

Eco-tourism berbasis masyarakat merupakan salah satu bentuk pariwisata yang berpotensi memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan. Namun, kelayakan finansial eco-tourism tidak cukup dinilai dari keuntungan yang diperoleh, tetapi juga perlu mempertimbangkan risiko ekologis dan dampak perubahan iklim. Keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata juga penting untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.

Fenomena pengembangan eco-tourism menjadi semakin penting di tengah perubahan iklim. Destinasi wisata yang bergantung pada alam memiliki kerentanan terhadap perubahan cuaca, bencana, perubahan musim, kerusakan ekosistem, dan perubahan pola kunjungan wisatawan. Deason et al. (2022) menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat meningkatkan gangguan terhadap organisasi community-based ecotourism sehingga kemampuan beradaptasi dan membangun ketahanan menjadi faktor penting dalam keberlanjutan kegiatan wisata.

Pada sisi ekonomi, eco-tourism memberikan peluang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui usaha homestay, jasa pemandu, transportasi, kuliner, kerajinan, dan berbagai aktivitas pendukung lainnya. Penelitian Takaendengan et al. mengenai communal homestay dalam eco-rural tourism menunjukkan bahwa kegiatan tersebut dapat dievaluasi menggunakan indikator finansial seperti NPV, BCR, dan IRR sekaligus memberikan peluang manfaat ekonomi bagi masyarakat lokal.

Namun, terdapat permasalahan ketika kelayakan proyek hanya dilihat berdasarkan keuntungan finansial. Suatu proyek dapat menghasilkan keuntungan, tetapi pada saat yang sama berpotensi memberikan tekanan terhadap lingkungan. Peningkatan jumlah wisatawan dapat menyebabkan peningkatan sampah, penggunaan air, pencemaran, kerusakan vegetasi, dan gangguan terhadap ekosistem apabila tidak dikelola sesuai daya dukung kawasan. Penelitian mengenai sustainable community-based ecotourism menekankan bahwa aspek lingkungan, masyarakat, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi perlu diintegrasikan dalam pengembangan ekowisata.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara kelayakan finansial dan keberlanjutan proyek. Kelayakan finansial menjawab apakah proyek mampu menghasilkan manfaat ekonomi dan mengembalikan investasi, sedangkan keberlanjutan mempertanyakan apakah manfaat tersebut dapat dipertahankan tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial. Penelitian Tarjo et al. (2024) terhadap operator pariwisata di Indonesia menunjukkan bahwa strategi berkelanjutan berhubungan positif dengan manajemen risiko dan kinerja finansial berkelanjutan.

Berdasarkan fenomena tersebut, evaluasi kelayakan proyek eco-tourism perlu dilakukan secara lebih luas. Proyek tidak hanya dinilai dari besar kecilnya keuntungan, tetapi juga dari kemampuan menjaga lingkungan, menghadapi perubahan iklim, dan memberikan manfaat yang berkelanjutan kepada masyarakat lokal. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan mengevaluasi kelayakan proyek eco-tourism berbasis masyarakat melalui tiga kepentingan utama, yaitu kelayakan finansial, risiko ekologis, dan keberlanjutan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim.

2. METODOLOGI PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode library research atau studi kepustakaan. Metode ini dilakukan dengan mengumpulkan dan menganalisis berbagai literatur ilmiah yang berkaitan dengan eco-tourism, community-based tourism, kelayakan finansial, risiko ekologis, perubahan iklim, dan keberlanjutan masyarakat lokal.

Sumber penelitian berupa artikel jurnal ilmiah yang diterbitkan pada periode 2021–2026. Literatur dipilih berdasarkan relevansi dengan topik penelitian dan berasal dari jurnal ilmiah yang dapat ditelusuri secara daring. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian literatur antara lain “ecotourism”, “community-based ecotourism”, “financial feasibility”, “ecological risk”, “climate change”, dan “sustainable tourism”.

Analisis dilakukan secara deskriptif-kritis. Tahap pertama dilakukan dengan mengidentifikasi literatur yang relevan. Tahap kedua dilakukan dengan mengelompokkan temuan penelitian berdasarkan aspek finansial, ekologis, perubahan iklim, dan masyarakat. Tahap ketiga dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian untuk melihat hubungan antara keuntungan ekonomi, risiko lingkungan, dan keberlanjutan sosial. Selanjutnya, hasil tersebut digunakan untuk melakukan evaluasi terhadap kelayakan proyek eco-tourism berbasis masyarakat.

Pendekatan ini dipilih karena penelitian tidak melakukan pengumpulan data primer dari suatu proyek tertentu. Dengan demikian, hasil penelitian merupakan sintesis dan evaluasi terhadap temuan penelitian sebelumnya.

3. PEMBAHASAN

3.1 Kelayakan Finansial Proyek Eco-Tourism

Kelayakan finansial merupakan salah satu aspek penting dalam menilai apakah sebuah proyek eco-tourism dapat dijalankan secara ekonomi. Suatu proyek harus mampu menghasilkan penerimaan yang dapat menutup biaya investasi dan biaya operasional serta memberikan tingkat pengembalian yang sesuai dengan risiko investasi.

Beberapa indikator yang umum digunakan adalah Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Benefit-Cost Ratio (BCR), dan Payback Period. NPV digunakan untuk mengetahui selisih nilai sekarang antara manfaat dan biaya proyek. NPV yang positif menunjukkan bahwa nilai manfaat yang diterima lebih besar dibandingkan investasi berdasarkan tingkat diskonto yang digunakan. IRR menunjukkan tingkat pengembalian investasi, sedangkan BCR membandingkan nilai manfaat dengan biaya. Payback Period menunjukkan waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan investasi awal.

Penggunaan indikator tersebut dapat ditemukan dalam berbagai penelitian pariwisata. Takaendengan et al. menggunakan NPV, BCR, dan IRR untuk mengevaluasi kelayakan finansial usaha communal homestay dalam eco-rural tourism. Penelitian lain mengenai wisata air dan pariwisata juga menggunakan NPV, IRR, BCR, dan Payback Period untuk menilai kelayakan investasi. Hal tersebut menunjukkan bahwa analisis finansial tetap menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan investasi pariwisata.

Namun, hasil finansial tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menyatakan proyek eco-tourism layak. Sebagai contoh, peningkatan jumlah wisatawan dapat meningkatkan pendapatan dan menghasilkan NPV yang positif, tetapi jika pertumbuhan tersebut menyebabkan kerusakan lingkungan, maka biaya ekologis dan sosial yang muncul dalam jangka panjang dapat mengurangi keberlanjutan proyek.

Dengan demikian, evaluasi finansial perlu dilengkapi dengan analisis sensitivitas. Perubahan jumlah wisatawan, harga tiket, biaya operasional, biaya pemeliharaan, dan biaya adaptasi terhadap perubahan iklim perlu dipertimbangkan. Evaluasi menjadi lebih kuat apabila proyek masih dapat bertahan ketika terjadi perubahan pada faktor-faktor utama tersebut.

3.2 Risiko Ekologis dan Perubahan Iklim

Risiko ekologis merupakan aspek penting karena daya tarik utama eco-tourism berasal dari lingkungan alam. Hutan, pantai, mangrove, sungai, pegunungan, dan keanekaragaman hayati merupakan aset yang mendukung kegiatan wisata. Apabila aset tersebut mengalami kerusakan, maka kualitas destinasi dan daya tarik wisata dapat menurun.

Risiko ekologis dapat berupa peningkatan sampah, pencemaran air, kerusakan vegetasi, gangguan terhadap satwa, penggunaan air secara berlebihan, erosi, serta pembangunan fasilitas yang melebihi daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, peningkatan jumlah wisatawan harus diikuti dengan pengelolaan lingkungan yang memadai.

Penelitian mengenai sustainable community-based ecotourism menunjukkan bahwa aspek lingkungan harus menjadi bagian dari proses perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pengambilan keputusan wisata. Model pengembangan yang berkelanjutan tidak hanya berorientasi pada peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga mempertimbangkan dampak kegiatan wisata terhadap masyarakat dan lingkungan.

Risiko tersebut semakin besar ketika dikaitkan dengan perubahan iklim. Perubahan pola curah hujan, peningkatan suhu, banjir, longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem dapat mengganggu kegiatan wisata dan meningkatkan biaya operasional. Deason et al. (2022) menunjukkan bahwa perubahan iklim dapat menimbulkan gangguan terhadap organisasi community-based ecotourism dan membuat kemampuan adaptasi menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan wisata.

Dengan demikian, proyek eco-tourism seharusnya tidak hanya menghitung pendapatan dalam kondisi normal. Evaluasi perlu mempertimbangkan skenario ketika jumlah wisatawan menurun akibat cuaca ekstrem, fasilitas mengalami kerusakan, atau biaya konservasi meningkat. Proyek yang memiliki kemampuan finansial untuk beradaptasi terhadap kondisi tersebut akan memiliki ketahanan yang lebih baik dibandingkan proyek yang hanya bergantung pada kondisi lingkungan yang stabil.

3.3 Keberlanjutan dan Peran Masyarakat Lokal

Masyarakat lokal merupakan komponen utama dalam konsep eco-tourism berbasis masyarakat. Keterlibatan masyarakat dapat memberikan manfaat berupa lapangan kerja, peningkatan pendapatan, pengembangan usaha lokal, dan pelestarian budaya. Namun, keterlibatan tersebut perlu dilihat lebih jauh daripada sekadar menyediakan tenaga kerja.

Priatmoko et al. (2021) menunjukkan pentingnya peran masyarakat dalam membentuk community-based tourism. Masyarakat lokal perlu memiliki ruang untuk berpartisipasi dalam pengelolaan dan pengembangan kegiatan wisata. Penelitian Kunjuraman et al. (2022) juga menunjukkan bahwa community-based ecotourism memiliki dimensi ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan sehingga keberhasilannya tidak dapat dinilai hanya berdasarkan pendapatan.

Dari perspektif ekonomi, manfaat wisata dapat diperoleh melalui pekerjaan sebagai pemandu, pengelola homestay, penyedia makanan, penyedia transportasi, pengrajin, maupun pengelola atraksi wisata. Namun, manfaat tersebut harus didistribusikan secara proporsional agar masyarakat tidak hanya menanggung dampak lingkungan sementara manfaat ekonominya lebih banyak diterima oleh pihak luar.

Kondisi masyarakat juga perlu diperhatikan dalam menghadapi perubahan iklim. Gabriel-Campos et al. (2021) menunjukkan bahwa masyarakat yang bergantung pada wisata membutuhkan kapasitas adaptasi dan ketahanan ketika menghadapi gangguan seperti pandemi dan perubahan iklim. Artinya, keberlanjutan proyek tidak hanya bergantung pada kondisi alam dan keuangan, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk beradaptasi.

Penelitian terbaru di Balikpapan mengenai kesiapan masyarakat terhadap community-based mangrove ecotourism juga menunjukkan pentingnya sikap masyarakat, norma sosial, dan perceived behavioral control dalam menentukan kesiapan untuk berpartisipasi. Hal ini memperlihatkan bahwa proyek eco-tourism perlu memastikan adanya kesiapan masyarakat sebelum pengembangan dilakukan.

3.4 Evaluasi Kelayakan Secara Multidimensi

Kelayakan proyek eco-tourism berbasis masyarakat perlu dievaluasi dengan mempertimbangkan keterkaitan antara aspek finansial, ekologis, perubahan iklim, dan kondisi masyarakat lokal. Analisis finansial seperti NPV, IRR, BCR, dan Payback Period dapat menunjukkan kemampuan proyek dalam menghasilkan manfaat ekonomi, tetapi hasil tersebut belum cukup untuk menggambarkan keberlanjutan proyek. Proyek yang menghasilkan keuntungan tetap dapat menghadapi permasalahan apabila kegiatan wisatanya menyebabkan kerusakan lingkungan atau masyarakat lokal tidak memperoleh manfaat yang memadai.

Dari aspek ekologis, kelayakan proyek perlu dilihat dari kemampuan pengelola menjaga daya dukung lingkungan dan mengendalikan dampak kegiatan wisata. Hal ini menjadi semakin penting karena perubahan iklim dapat meningkatkan risiko terhadap destinasi wisata melalui cuaca ekstrem, perubahan musim, kerusakan fasilitas, dan perubahan jumlah kunjungan wisatawan. Oleh karena itu, evaluasi proyek perlu mempertimbangkan kemampuan adaptasi serta biaya yang mungkin timbul akibat perubahan kondisi lingkungan.

Dari aspek sosial, keterlibatan masyarakat menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan keberlanjutan proyek. Masyarakat lokal sebaiknya tidak hanya menjadi penerima dampak atau tenaga kerja, tetapi juga memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan dan memperoleh manfaat ekonomi dari kegiatan wisata. Dengan demikian, keberhasilan proyek tidak hanya dilihat dari besarnya pendapatan yang diperoleh pengelola, tetapi juga dari kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat dan pelestarian lingkungan.

Berdasarkan ketiga aspek tersebut, evaluasi kelayakan eco-tourism perlu mempertimbangkan keseimbangan antara keuntungan finansial, risiko ekologis, kemampuan menghadapi perubahan iklim, dan keberlanjutan masyarakat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa proyek tidak dapat dinilai hanya berdasarkan apakah investasi menghasilkan keuntungan, tetapi juga berdasarkan apakah manfaat tersebut dapat dipertahankan tanpa mengurangi kualitas lingkungan dan kesejahteraan masyarakat lokal. Dengan demikian, evaluasi multidimensi dapat menjadi dasar untuk menentukan apakah suatu proyek eco-tourism memiliki keberlanjutan dalam jangka panjang.

4. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil kajian, kelayakan proyek eco-tourism berbasis masyarakat di era perubahan iklim tidak dapat dinilai hanya dari kemampuan proyek menghasilkan keuntungan finansial. Indikator seperti NPV, IRR, BCR, dan Payback Period tetap penting untuk mengetahui kelayakan ekonomi, tetapi perlu dilengkapi dengan evaluasi terhadap risiko ekologis, perubahan iklim, dan keberlanjutan masyarakat lokal. Kerusakan lingkungan, perubahan kondisi iklim, serta ketimpangan manfaat ekonomi dapat memengaruhi keberlanjutan proyek dalam jangka panjang.

Evaluasi secara multidimensi menunjukkan bahwa proyek eco-tourism yang berkelanjutan perlu mampu menjaga keseimbangan antara manfaat finansial, perlindungan lingkungan, kemampuan beradaptasi terhadap perubahan iklim, dan kesejahteraan masyarakat lokal. Keberhasilan proyek pada akhirnya perlu dilihat dari kemampuannya memberikan manfaat ekonomi sekaligus mempertahankan kualitas lingkungan dan keberlanjutan komunitas lokal.

Saran

Pengembangan proyek eco-tourism berbasis masyarakat sebaiknya dilakukan dengan mengintegrasikan analisis finansial dan risiko ekologis sejak tahap perencanaan. Pengelola perlu melakukan pemantauan terhadap daya dukung lingkungan, dampak perubahan iklim, kondisi keuangan, serta keterlibatan masyarakat secara berkala. Masyarakat lokal juga perlu diberikan ruang dalam pengambilan keputusan dan memperoleh manfaat ekonomi yang proporsional. Untuk penelitian selanjutnya, kajian dapat dikembangkan melalui studi kasus pada destinasi eco-tourism tertentu dengan menggunakan data finansial, lingkungan, dan sosial secara langsung sehingga hasil evaluasi kelayakan dapat menjadi lebih spesifik dan terukur.

DAFTAR PUSTAKA

Deason, G., Seekamp, E., & Barbieri, C. (2022). Actor-network theory and organizational resilience to climate change in community-based tourism. Journal of Outdoor Recreation and Tourism, 38, 100483.Isa, A., et al. (2021).

Gabriel-Campos, E., Werner-Masters, K., Cordova-Buiza, F., & Paucar-Caceres, A. (2021). Community eco-tourism in rural Peru: Resilience and adaptive capacities to the Covid-19 pandemic and climate change. Journal of Hospitality and Tourism Management, 48, 416–427.

Kunjuraman, V., Hussin, R., & Che Aziz, R. (2022). Community-based ecotourism as a social transformation tool for rural community: A victory or a quagmire? Journal of Outdoor Recreation and Tourism, 39, 100524.

Nugroho, R. A., Quevedo, J. M. D., & Kohsaka, R. (2025). Are the local communities in Balikpapan Bay, Indonesia ready for mangrove ecotourism? A theory of planned behavior informed study. Socio-Ecological Practice Research, 7, 439–460.

Priatmoko, S., Kabil, M., Purwoko, Y., & Dávid, L. D. (2021). Rethinking sustainable community-based tourism: A villager’s point of view and case study in Pampang Village, Indonesia. Sustainability, 13(6), 3245.

Tarjo, T., Anggono, A., Said, J., Halim, A., & Sakti, E. (2024). Sustainable strategy, risk management, and financial performance of tourism operators. Jurnal Kepariwisataan Indonesia, 18(1), 77–94.

Takaendengan, M. E., Avenzora, R., Darusman, D., & Kusmana, C. (2022). Financial feasibility of communal homestay business in eco-rural tourism. Indonesian Journal of Business and Entrepreneurship, 8(1), 59.