Aku, Meja Kantin, dan Sebuah Revolusi Kecil

Seorang mahasiswa Universitas Sebelas Maret yang saat ini sedang menempuh pendidikan di program studi Ilmu Komunikasi
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ridhwan Alwie Azzaky tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Aku tak punya nama. Tak juga punya suara. Tapi setiap hari aku jadi saksi bisu dari ratusan cerita yang datang dan pergi di Kantin Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS). Aku melihat tawa lepas mahasiswa baru yang masih canggung mencari tempat duduk, obrolan serius tentang politik di negeri ini, bahkan patah hati yang dibungkus es teh manis. Semuanya terjadi di atasku.
Namun, seiring waktu, aku merasa seperti pelayan yang hanya dimanfaatkan lalu dilupakan. Sisa nasi, sambal tercecer, plastik bekas minum semua ditinggal tanpa rasa bersalah. Padahal aku hanya butuh sedikit perhatian seperti lap basah, sentuhan ringan, atau minimal sebuah kesadaran.
Tapi kemudian, dia datang. Bukan dosen, bukan petugas kebersihan. Hanya seorang mahasiswi muda bernama Salma. Tubuhnya kecil, tapi semangatnya besar. Suatu hari, ia duduk cukup lama memperhatikanku dan kawan-kawan mejaku yang lain. Ia mengangguk-angguk pelan, lalu esoknya datang membawa perubahan.
Ia datang bukan dengan alat kebersihan, melainkan dengan kertas-kertas penuh warna yang ia sebut “poster ajakan.” Awalnya, aku mengira itu hanya akan jadi hiasan semata. Tapi ternyata, kata-kata di dalamnya memiliki kekuatan yang kami meja-meja tua ini tidak pernah sangka. Bukan sekadar imbauan, Salma mencetak dan menempelkan poster-poster itu di berbagai titik strategis area kantin. Meja makan, tembok kantin, bahkan di papan pengumuman. Ia memilih kata-kata yang lugas namun persuasif, dilengkapi visual yang menarik mata.
“Ciptakanlah lingkungan yang bersih dan nyaman.”
Kalimat itu terpampang jelas di tembok kantin, dan seperti mantra, kalimat itu mulai mengubah segalanya. Satu demi satu mahasiswa mulai berhenti sejenak setelah makan. Mereka mengambil sisa makanannya, membawa ke tempat sampah, merapikan kursi, bahkan kadang mengelapku dengan tisu. Aku hampir tak percaya.
“Kebersihan mu akan meninggalkan kenyamanan bagi kami” ujar salah satu mahasiswa suatu siang sambil tersenyum kecil. Saat itu, aku merasa hidup. Tak lagi jadi benda mati yang hanya dipakai lalu dilupakan.
“Saya sering melihat sampah berserakan setelah orang selesai makan. Padahal bisa dibersihkan sendiri, maka dari itu saya membuat poster self service agar orang sadar menjaga kebersihan” ujar Salma saat ditemui di sela aktivitasnya di kampus
Gerakan kecil Salma itu menular. Kini semakin banyak poster bermunculan, dan semakin banyak tangan-tangan muda yang sadar bahwa kampus ini bukan hanya ruang belajar, tapi juga rumah bersama. Dan rumah, seperti yang mereka tahu, harus dijaga bersama-sama. Kawan-kawan mejaku kini tak lagi mengeluh. Kami berdiri lebih tegak. Kami jadi bagian dari revolusi kecil yang diam-diam, tanpa pengeras suara, tapi penuh makna. Semua dimulai dari satu orang, satu niat, dan satu tindakan nyata. Dan aku, meja kantin tua, akhirnya merasa dihargai bukan karena mewahnya desainku, tapi karena fungsiku yang dirawat oleh mereka yang peduli.
