Konten dari Pengguna

Citrus Shield: Kulit Jeruk sebagai Repelen Alami melalui Kacamata Farmasi

Rifdah Mansya

Rifdah Mansya

Mahasiswa farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rifdah Mansya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kulit jeruk (sumber : https://pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kulit jeruk (sumber : https://pixabay.com)

Buah Jeruk

Jeruk atau Citrus sp., merupakan salah satu dari banyaknya buah yang paling umum dikonsumsi dan dijumpai di masyarakat karena rasa manis dan segarnya yang tidak mungkin untuk ditolak, selain itu ia juga kaya akan berbagai macam vitamin terutama vitamin C. Seperti yang diketahui bahwa vitamin C memiliki manfaat yang sangat banyak, di antaranya membantu penyembuhan penyakit dan meningkatkan kekebalan dan imunitas tubuh. Vitamin yang memiliki nama kimia ascorbic acid ini juga memiliki manfaat sebagai agen bersifat antimikroba (Carr & Maggini, 2017). Selain mengandung vitamin C, menurut Widiyani (2022), dalam 100g jeruk terkandung 0,9g protein, 11,8g karbohidrat, 9,4g gula, 2,4g serat, dan 0,1g lemak. Namun tidak hanya vitamin C, jeruk juga mengandung berbagai vitamin lainnya seperti vitamin A dan B.

Buah dari jeruk memang umum di kalangan masyarakat, tapi kulitnya? Tentu terasa lebih asing dan jarang ditemukan pemanfaatannya. Padahal diketahui dalam kulit jeruk terkandung vitamin C yang lebih banyak daripada buahnya. Sayang sekali bahwa kulit jeruk sering kali hanya dianggap sampah, padahal ia memiliki potensi yang sangat besar bila dimanfaatkan dengan benar, salah satunya sebagai repelen alami. Hal ini termuat dalam penelitian yang dilakukan Silalahi et al. (2022), bahwa kulit jeruk merupakan bagian dari tumbuhan jeruk yang memiliki kandungan fenolik dan flavonoid paling banyak. Apabila dilakukan ekstraksi, akan didapatkan minyak atsiri dari kulit jeruk yang kaya akan senyawa flavonoid dan fenolat. Minyak atsiri ini terdiri dari senyawa aromatik yang terdiri dari senyawa volatil sebanyak 85-90% (seskuiterpen teroksigenasi dan hidrokarbon serta dan monoterpene teroksigenasi) dan senyawa non-volatil sebanyak 1-15% (monoterpene hidrokarbon) (Fisher & Philips, 2008). Senyawa aromatik ini memiliki aroma khas yang dapat dimanfaatkan sebagai repelen alami atau obat anti serangga.

Kulit Jeruk Tak Hanya Melindungi Buahnya, tapi Juga Melindungi Manusia

Repelen merupakan bahan kimia maupun alami yang dapat mencegah atau menghalau kedatangan dari serangga seperti nyamuk, lalat, kutu, ataupun semut ke sekitar kita. Serangga seperti nyamuk mendekati manusia karena manusia dilihat sebagai sumber makanan dan inang baru atau tempat untuk bertelur (berkembang biak). Mereka mengenali manusia lewat aroma khas yang dihasilkan oleh tubuh seperti hasil metabolisme berupa karbon dioksida (CO2), asam laktat, amonia, dan urea dari keringat, dan hasil sintesis mikroba yang ada di kulit. Menurut Fitrianto (2020), asam laktat diketahui sebagai senyawa yang tertumpuk di dalam tubuh setelah melakukan aktivitas berat yang disebabkan oleh sistem energi anaerob. Asam laktat ini biasanya akan keluar bersama keringat dengan zat lainnya lalu menimbulkan bau khas pada tubuh manusia yang kemudian dapat dikenali oleh serangga.

Kulit Jeruk Sebagai Anti-serangga

Memanfaatkan cara bekerja sistem penciuman dari serangga, maka repelen diciptakan untuk menganggu sistem tersebut. Hal ini dikarenakan serangga banyak merugikan manusia, terutama ketika ia dapat menyebabkan penyakit seperti nyamuk aedes aegypti yang menjadi penyebab pelaku carrier (pembawa) untuk penyakit DBD atau Demam Berdarah Dengue, maka manusia perlu menghindarinya. Repelen akan bekerja dengan memengaruhi dan memblokir reseptor bau dari serangga (saraf olfaktori) yang biasanya terdapat di antena mereka, sehingga serangga tidak dapat mendeteksi keberadaan manusia ataupun kehilangan keinginan untuk mendekati manusia. Mekanisme minyak atsiri seperti geraniol, farnesol, sitronellol, eugenol dan oktadentol sebagai penghalau nyamuk bekerja dengan melepaskan aroma serta senyawa dari repelen yang terkandung dalam minyak atsiri (Nurhayati & Naufal, 2024).

Pada saat minyak atsiri dioleskan ke kulit, pori-pori akan menyerapnya, kemudian senyawa tersebut akan menguap dikarenakan panas tubuh yang dihasilkan manusia sehingga tercipta aroma yang dapat mengacaukan reseptor penciuman dari nyamuk (Husna et al., 2016). Bau ini yang kemudian akan mengacaukan sistem penciuman dari serangga. Namun tidak hanya itu, mekanisme kerja dari repelen terhadap serangga dapat bermacam-macam. Ia juga dapat bekerja dengan menyamarkan bau tubuh manusia sehingga serangga tidak tertarik untuk mendekat sebab tidak mengenali aroma khas manusia dari sana. Senyawa repelen juga dapat dikenali oleh beberapa serangga sebagai tanda bahaya sehingga akan dihindari oleh serangga. Seperti yang dimuat dalam Handayani dan Yunilawati (2021), bahwa minyak atsiri dari jeruk bersifat mudah menguap atau volatile, hal ini dikarenakan titik didihnya yang rendah. Sehingga berdasarkan sifat ini, ketika minyak atsiri dari jeruk atau zat repelen lainnya dioleskan atau disemprotkan ke kulit, ia akan menyerap masuk ke dalam kulit lewat pori-pori, dan kemudian panas alami yang dihasilkan oleh tubuh manusia akan membuatnya semakin mudah menguap dan senyawa-senyawa aromatiknya akan bercampur dan terbawa dengan udara di sekitar hingga kemudian sampai pada target serangga yang mendekat.

Kenapa Memilih Repelen Alami

Pada repelen kimia, bahan insektisida yang digunakan adalah N,N-dietil-meta-toluamida yang disingkat menjadi DEET. Sementara aturan dari Centers for Disease Control and Prevention, menuliskan bahwa kadar maksimal DEET yang dapat terkandung dalam repelen adalah sebesar 20%, karena di luar batas itu DEET dapat menyebabkan iritasi pada kulit, keracunan, dan bahkan menyebabkan gangguan saraf yang dapat mempengaruhi kesehatan mental (Keith et al, 2015). Oleh karena itu, masyarakat dapat mencari alternatif repelen alami seperti kulit dari buah jeruk ini. Semua jenis buah jeruk dapat dimanfaatkan kulitnya mulai dari jeruk nipis (C. Aurantifolia Swing), jeruk manis (C. Sinensis Sp.), jeruk bali (C. Maxima (Burm.) Merr.), dan lainnya. Salah satu contoh kandungan minyak atsiri dalam kulit jeruk ini ada pada jeruk bali dengan kandungan terbesar senyawa limonene (77,7-93,7%), disusul n-decanal (1,3-4%), n-octanal (0,6-2,6%), myrcene (0,7-1,7%), dan linalool (0,4-1,9%) (Ndiaye et al, 2017). Diketahui bahwa linalool dapat menyebabkan iritasi pada sistem integumen nyamuk (Ekowati, 2013). Sejalan dengan hal ini, lewat penelitian yang dilakukan tentang efektivitas jeruk bali sebagai repelen alami yang dilakukan oleh Hidayah et al. (2018), didapatkan bahwa repelen dengan konsentrasi jeruk bali sebesar 40% memiliki daya efektivitas sebesar 91,89% pada 1 jam pertama, lalu menurun menjadi 84,86% pada jam berikutnya hingga 6 jam. Meskipun hasil ini belum sesuai dengan standardisasi dari Direktorat Pupuk dan Pestisida (2012), mensyaratkan bahwa repelen nyamuk baru dapat dikatakan efektif ketika daya tolak atau daya proteksinya dari nyamuk sebesar minimal 90% dan daya tolak tersebut mampu bertahan selama 6 jam. Meski begitu, ini hanya salah satu hasil dari berbagai jenis jeruk, sehingga ini hanyalah salah satu dari banyaknya gambaran.

Meskipun hasil efektivitas dari repelen alami kulit jeruk tidak sebaik hasil perlindungan dari repelen kimia, namun hasilnya masih tergolong sangat baik sebagai repelen jika mempertimbangkan kealamiannya yang jauh lebih minim iritasi dan efek samping dibandingkan repelen kimia. Penurunan efektivitasnya dapat diatasi dengan pengaplikasian ulang pada kulit, terlebih bahannya yang mudah dan murah untuk didapatkan. Kulit jeruk, tak hanya menjadi perisai bagi buahnya, tetapi juga mampu menjadi perisai manusia dari serangga.

Daftar Pustaka

Carr, A. C., & Maggini, S. (2017). Vitamin C and immune function. Nutrients, 9(11), 1–25.

Direktorat Pupuk dan Pestisida. (2012). Metode standar pengujian efikasi pestisida rumah tangga dan pengendalian vektor T.A. 2012. Jakarta: Kementerian Pertanian.

Ekowati, D., Abid, A. N., & Merari, J. (2013). Uji aktivitas minyak atsiri kulit buah jeruk nipis (Citrus aurantifolia Swingle) dalam sediaan lotion sebagai repelan terhadap nyamuk Aedes aegypti. Biomedika, 6(1), 18-23

Fisher, K., & Phillips, C. (2008). Potential antimicrobial uses of essential oils in food: Is citrus the answer? Trends in Food Science & Technology, 19(3), 156–164.

Fitrianto, E. J., & Maarif, S. (2020). Pengaruh active recovery terhadap kadar asam laktat pada mahasiswa program studi ilmu keolahragaan Universitas Negeri Jakarta. Jurnal Ilmiah Sport Coaching and Education, 4(1), 32–36.

Handayani, W., & Yunilawati, R. (2021). Karakterisasi senyawa volatil dan uji antibakteri dari Citrus bergamia dan Citrus sinensis. Sainstech Farma: Jurnal Ilmu Kefarmasian, 14(2), 91–96.

Hidayah, N., Mustafa, H., Murni, M., & Tolistiawaty, I. (2018). Efektivitas repelan losion minyak atsiri kulit jeruk bali (Citrus maxima (Burm.) Merr.) terhadap Aedes aegypti. Balaba: Jurnal Litbang Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Banjarnegara, 14(2), 159–168.

Husna, Q. R., Andrie, M., & Luliana, S. (2016). Aktivitas repelan minyak atsiri kulit buah jeruk Pontianak (Citrus nobilis Lour) terhadap nyamuk Aedes aegypti L. dengan metode WHO PESS. Jurnal Mahasiswa Farmasi Fakultas Kedokteran UNTAN, 3(1).

Keith, S., Harper, C., Ashizawa, A., Williams, R. L., Llados, F., Coley, C., & Carlson-Lynch, H. (2015). Draft toxicological profile for DEET (N,N-diethyl-meta-toluamide).

Ndiaye, H. B., Gueye, M. T., Ndiaye, I., Diop, S. M., Diop, M. B., Thiam, A., et al. (2017). Chemical composition of distilled essential oils and hydrosols of four Senegalese citrus and enantiomeric characterization of chiral compounds. Journal of Essential Oil-Bearing Plants, 20(3). https://doi.org/10.1080/0972060X.2017.1337525

Silalahi, K. P., Swasti, Y. R., & Pranata, F. S. (2022). Aktivitas antioksidan dari produk samping olahan jeruk. Amerta Nutrition, 6(1).

Universitas Airlangga. (2020). Minyak esensial dari kulit lemon dapat membantu menyembuhkan sariawan [Artikel daring]. Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga. Diakses dari https://unair.ac.id/minyak-esensial-dari-kulit-lemon-dapat-membantu-menyembuhkan-sariawan/

Widiyani, T., Astirin, O. P., Herawati, E., Listyawati, S., & Budiharjo, A. (2022). Peningkatan kualitas dan kuantitas produk UMKM sari buah jeruk sebagai minuman imunostimulan alami untuk menarik daya beli masyarakat di masa pandemi. Sarwahita, 19(1), 182–192.

Rifdah Mansya, Mahasiswa Farmasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta