Santri Sukabumi Sulap Sampah Plastik Jadi Pot & Irigasi Tetes

mahasiswa Ilmu Ekonomi Syariah IPB University. Aktif dalam riset dan pemberdayaan masyarakat.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Rifki Hilman Fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SUKABUMI – Kepedulian terhadap lingkungan hidup sejatinya harus ditanamkan sejak dini. Berangkat dari semangat tersebut, tim pengabdian masyarakat Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) IPB University 2026 menginisiasi gerakan inspiratif bertajuk "Madrasah Peduli Sampah" di Madrasah At-Tarbiyyah, Kampung Cikamplong, Desa Mekarjaya, Kabupaten Sukabumi, pada Oktober 2026.
Desa Mekarjaya yang memiliki letak geografis terisolir kerap menghadapi kendala dalam pengelolaan limbah domestik akibat ketiadaan akses layanan angkut sampah. Kondisi ini membuat sebagian masyarakat terbiasa membuang atau membakar sampah plastik kemasan di ruang terbuka. Padahal, asap pembakaran plastik sangat berbahaya dan dapat memicu Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Untuk memutus rantai kebiasaan buruk tersebut, tim Dospulkam IPB University yang terdiri dari dosen dan mahasiswa turun langsung mengedukasi anak-anak dan remaja di desa tersebut. Mengusung tema ceria "Yuk, Sulap Sampah Jadi Berkah!", puluhan santri dari kelas 1 hingga 6 diajak untuk mendaur ulang limbah anorganik di sekitar mereka menjadi barang tepat guna tanpa biaya (zero budget).
Ada dua inovasi utama yang dipraktikkan oleh para santri. Pertama, pembuatan wadah semai tanaman (polybag). Alih-alih membeli pot baru, para santri diajarkan memanfaatkan bungkus sachet bekas minyak goreng, sabun cair, hingga kaleng bekas. Setelah dibersihkan dan dilubangi bagian bawahnya untuk drainase, wadah tersebut diisi media tanam dan ditaburi bibit bayam unggul. Menariknya, santri juga diajak menghias pot kreasi mereka dengan cat warna-warni agar lebih menarik.
Inovasi kedua adalah pembuatan sistem irigasi tetes (alat siram otomatis) sederhana. Memanfaatkan botol air mineral plastik berukuran 600ml yang dipasangi corong penetes (watering spike), botol tersebut ditancapkan secara terbalik di dekat akar tanaman. Alat ini memungkinkan air menetes perlahan secara otomatis, sehingga tanaman bayam tetap subur meski tidak disiram setiap hari.
"Kegiatan ini didesain sangat interaktif. Anak-anak sangat antusias saat diajak membedakan mana sampah organik yang mudah hancur dan sampah plastik yang susah hancur. Mereka jadi tahu bahwa membuang plastik sembarangan bisa bikin selokan mampet dan jadi sarang nyamuk," ujar salah satu anggota tim mahasiswa Dospulkam IPB University.
Gerakan "Madrasah Peduli Sampah" ini tidak berhenti pada acara pelatihan saja. Sebagai bentuk aksi berkelanjutan, para santri diberikan tanggung jawab untuk merawat tanaman bayam di pot daur ulang mereka selama kurang lebih tiga bulan ke depan. Hasil pertumbuhan tanaman tersebut nantinya akan menjadi dasar penilaian untuk perlombaan edukatif antar kelas.
Melalui pendekatan ini, tim Dospulkam IPB University berharap benih-benih kepedulian ekosistem dan kreativitas ekonomi sirkular dapat tumbuh subur dalam karakter generasi muda Desa Mekarjaya. Lingkungan yang bersih dan asri kini bukan lagi sekadar impian, melainkan aksi nyata yang dimulai dari tangan-tangan mungil santri Madrasah At-Tarbiyyah.
(Penulis: Tim Dospulkam IPB University 2026 / Rifki Hilman Fauzi dkk)
