Nilai Pasar Bukan Jaminan: Cerita Dua Turnamen Timnas Indonesia 2026

Student at Universitas Pamulang. Writes about a wide range of topics and current issues with a clear, structured perspective.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Siti Nur Azizah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tak banyak yang menyangka Timnas Indonesia akan mengangkat trofi pada Oktober, sekitar dua bulan setelah tersingkir di fase grup Piala AFF 2026. Padahal, skuad Garuda datang ke turnamen itu sebagai tim dengan nilai pasar termahal di Asia Tenggara. Dua hasil yang bertolak belakang ini menegaskan bahwa nilai di atas kertas tidak otomatis menjadi gelar.
Pada 5 Oktober, Timnas Indonesia menaklukkan Thailand lewat adu penalti 4-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno setelah bermain 2-2 selama 120 menit. Kisah dua turnamen ini layak dibaca lebih dalam, bukan sekadar dianggap kejutan.
Nilai Pasar Timnas Indonesia yang Tidak Menjamin Gelar
Menjelang Piala AFF, skuad Indonesia tercatat bernilai sekitar Rp163,82 miliar menurut data yang dirangkum RRI. Angka itu jauh di atas Malaysia yang sekitar Rp57,79 miliar dan Myanmar yang sekitar Rp52,15 miliar. Dengan selisih sebesar itu, Indonesia wajar dijagokan.
Namun, turnamen singkat menuntut lebih dari kualitas individu. Kekompakan, kesiapan, dan kemampuan beradaptasi sering menentukan hasil dalam hitungan pekan. Tersingkir di fase grup menjadi pengingat bahwa nilai pasar hanya menggambarkan potensi, bukan hasil akhir.
Identitas Timnas Indonesia di Bawah John Herdman
Seusai kemenangan 5-1 atas Kamboja di laga pembuka Piala AFF, pelatih John Herdman menyatakan puas karena identitas tim mulai terbentuk. Pernyataan itu kemudian diuji oleh hasil grup yang mengecewakan. Sebulan berselang, Oktober memberi jawaban yang berbeda.
Di fase grup FIFA ASEAN Cup, Indonesia menang 2-0 atas Singapura, menahan Malaysia 0-0, dan menggulung Bangladesh 9-2. Gelar kemudian datang lewat final yang berlangsung penuh 120 menit. Identitas tim baru terasa bermakna bila tetap bertahan ketika pertandingan menuntut ketahanan.
Gelar sebagai Bahan Evaluasi bagi Timnas Indonesia
Satu trofi tidak menghapus pekerjaan rumah. Kegagalan di Piala AFF adalah data yang perlu dibedah, terutama mengapa tim dengan materi pemain paling mahal justru tersandung di fase grup. Tanpa evaluasi, kegagalan itu bisa terulang di turnamen berikutnya.
Evaluasi yang sehat berjalan dua arah. Kritik tidak perlu dikubur hanya karena ada trofi, dan apresiasi tidak perlu ditahan karena kegagalan sebelumnya. Keduanya adalah bagian dari gambaran yang utuh.
Pelajaran Dua Turnamen bagi Timnas Indonesia
Dua turnamen, dua hasil, satu pelajaran: skuad termahal tidak otomatis menjadi skuad terbaik. Yang membedakan adalah kekompakan dan kemampuan tampil konsisten di momen krusial. Itulah modal yang diuji, dan itulah yang terbukti pada Oktober.
Tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi, bukan sekadar mengulang kejutan. Jika identitas tim terus dirawat, gelar ini bisa menjadi awal, bukan hanya kenangan manis.
