Konten dari Pengguna

Belajar dari Korea Selatan, Membawa Indonesia Naik Kelas

Rizkynta Jaya Ginting

Rizkynta Jaya Ginting

ASN di Setjen DPD RI

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rizkynta Jaya Ginting tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemitraan Strategis dan Jalan Menuju Kemandirian Teknologi

Image Source: Chat GPT
zoom-in-whitePerbesar
Image Source: Chat GPT

Dalam politik global, negara tidak memperoleh tempat terhormat hanya karena memiliki cita-cita besar atau merasa diperlakukan tidak adil. Posisi sebuah negara ditentukan oleh kemampuannya membangun kekuatan ekonomi, menguasai teknologi, dan mempertahankan kepentingan nasionalnya. Negara-negara maju tentu berusaha menjaga keunggulan mereka. Karena itu, tantangan Indonesia bukan sekadar menghadapi dunia yang tidak selalu menghendaki pesaing baru, melainkan memastikan bahwa kita memiliki kapasitas untuk tumbuh, bersaing, dan memperjuangkan kepentingan sendiri.

Beberapa waktu lalu, saya menyimak perbincangan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam Endgame bersama Gita Wirjawan pada awal 2026. Dalam perbincangan tersebut, SBY membahas perubahan geopolitik dunia, termasuk dilema kepemilikan senjata nuklir. Pernyataan itu disampaikan dalam konteks kalkulasi keamanan dan keseimbangan kekuatan global.

Pernyataan tersebut mengingatkan saya pada ucapan Luhut Binsar Pandjaitan dalam sebuah wawancara pada 2023. Ia mengungkapkan pandangan bahwa tidak ada negara maju yang menginginkan negara berkembang menjadi negara maju.

Keduanya berbicara dalam konteks berbeda. Namun, ada pertanyaan yang menghubungkan keduanya: seberapa mungkin negara yang telah kuat memberi ruang bagi negara lain untuk naik kelas dan mengubah keseimbangan kekuatan yang sudah terbentuk?

Dalam hubungan internasional, terlalu naif jika kita menganggap negara akan membantu negara lain menjadi kuat tanpa memperhitungkan kepentingannya sendiri. Negara memiliki kepentingan ekonomi, teknologi, energi, dan keamanan yang ingin mereka lindungi.

Karena itu, persoalan Indonesia bukan semata-mata apakah ada pihak yang ingin menghambat kemajuan kita. Pertanyaan yang lebih penting adalah seberapa kuat kemampuan kita menghadapi tekanan dan memperjuangkan kepentingan nasional.

Salah satu jawabannya dapat kita pelajari melalui hubungan Indonesia dengan Korea Selatan, khususnya kerja sama pengembangan pesawat tempur KF-21/IF-X.

Saya tidak bermaksud membahas aspek teknis pengembangan pesawat tersebut. Bagi saya, ada pelajaran lebih besar di balik kerja sama ini: Indonesia dan Korea Selatan sama-sama memiliki ambisi untuk naik kelas dan memperkuat kemampuan nasional agar tidak terus bergantung pada negara lain.

Belajar dari Perjalanan Korea Selatan

Hari ini, Korea Selatan dikenal sebagai negara industri maju dengan kemampuan teknologi di berbagai bidang, mulai dari elektronik, otomotif, hingga industri pertahanan. Namun, kemampuan tersebut bukan sesuatu yang hadir secara instan. Korea Selatan membangunnya melalui proses panjang, investasi, pengembangan sumber daya manusia, dan kebijakan industri yang berorientasi pada peningkatan kemampuan nasional.

Pengembangan KF-21 Boramae menjadi salah satu simbol perjalanan tersebut. Korea Selatan tidak sekadar ingin memiliki pesawat tempur modern, tetapi juga memperkuat kapasitasnya untuk mengembangkan teknologi pertahanan sendiri.

Bagi Indonesia, kerja sama ini membuka kesempatan untuk belajar dan mengambil bagian dalam perjalanan tersebut. Kita tidak harus menempuh seluruh jalan yang sama, tetapi dapat memanfaatkan kemitraan untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan kemampuan sumber daya manusia, dan membangun fondasi industri pertahanan nasional.

Disinilah arti penting kemitraan kedua negara. Keduanya tidak sekadar bertemu sebagai penjual dan pembeli, melainkan berupaya membangun kemampuan strategis melalui kolaborasi.

Tentu, kepentingan Indonesia dan Korea Selatan tidak selalu identik. Masing-masing memiliki perhitungan ekonomi, industri, dan keamanan sendiri. Namun, kerja sama menunjukkan bahwa ambisi untuk memperkuat kemampuan nasional dapat menjadi titik temu bagi dua negara dengan latar belakang dan tingkat industrialisasi berbeda.

Kemitraan Bukan Tujuan Akhir

Meski demikian, kita tidak boleh menganggap kerja sama internasional otomatis menghasilkan kemandirian. Kemitraan hanya menyediakan kesempatan. Hasil akhirnya bergantung pada kemampuan setiap negara memanfaatkan kesempatan tersebut.

Bagi Indonesia, keberhasilan kerja sama strategis tidak cukup diukur dari jumlah pesawat yang diperoleh atau besarnya nilai investasi yang disepakati. Kita juga perlu melihat apakah kerja sama tersebut meningkatkan kemampuan insinyur Indonesia, memperkuat industri nasional, mendorong riset, dan membuka jalan bagi penguasaan teknologi yang lebih luas.

Kita perlu memastikan bahwa Indonesia tidak selamanya berada pada posisi pengguna teknologi. Kita harus bergerak menjadi negara yang mampu memahami, mengembangkan, memelihara, dan secara bertahap menghasilkan teknologi strategis sendiri.

Hal ini membutuhkan konsistensi kebijakan, dukungan anggaran, tata kelola yang akuntabel, serta keberanian membangun kapasitas dalam jangka panjang. Tanpa itu, kerja sama berisiko berhenti sebagai proyek sesaat yang tidak meninggalkan kemampuan berarti bagi generasi berikutnya.

Awal Tahun 2026, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Lee Jae-myung sepakat meningkatkan hubungan bilateral kedua negara menjadi Special Comprehensive Strategic Partnership. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas kerja sama yang menghasilkan manfaat nyata, termasuk penguatan industri, riset, dan sumber daya manusia.

Menentukan Jalan untuk Naik Kelas

Pada akhirnya, pelajaran dari Korea Selatan bukan bahwa Indonesia harus meniru seluruh kebijakannya. Pelajaran terpenting adalah bahwa kemajuan menuntut kesediaan sebuah negara membangun kemampuan sendiri, bahkan ketika prosesnya panjang dan penuh tantangan.

Kita tidak dapat menentukan apakah negara lain ingin Indonesia menjadi negara maju atau tidak. Namun, kita dapat menentukan seberapa kuat Indonesia menghadapi kepentingan mereka.

Karena itu, kita tidak perlu memandang setiap kemitraan dengan kecurigaan. Sebaliknya, kita harus menjalin kerja sama dengan perhitungan yang matang, tujuan yang jelas, dan orientasi pada kepentingan nasional. Kita perlu terbuka terhadap pengetahuan dari luar, tetapi sekaligus memastikan bahwa pengetahuan tersebut memperkuat kemampuan di dalam negeri.

Indonesia dan Korea Selatan memberikan contoh bahwa ambisi untuk naik kelas dapat menjadi dasar kolaborasi. Tantangannya adalah memastikan kolaborasi itu menghasilkan peningkatan kapasitas, bukan sekadar ketergantungan baru.

Sebab, menjadi negara maju bukan hanya soal siapa yang menghalangi kita. Ini juga tentang seberapa serius kita membangun kemampuan untuk tetap melangkah ketika kepentingan nasional berhadapan dengan kepentingan pihak lain.

Kemitraan strategis yang sesungguhnya bukan hanya mendekatkan Indonesia dengan negara maju, melainkan membantu Indonesia membangun kemampuan untuk berdiri lebih sejajar dengannya.