Setahun Purbaya, Mengapa Diganti?

Associate Professor dan Kepala Departemen Ilmu Ekonomi FEB Universitas Airlangga. Mengajar dan meneliti di bidang ekonomi internasional, industri, pembangunan, serta UMKM.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Rosanto Dwi Handoyo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pergantian Menteri Keuangan selalu menarik perhatian. Bukan karena posisi ini paling sering muncul di hadapan publik, melainkan karena setiap keputusan yang diambil dari kantor tersebut akan memengaruhi arah perekonomian nasional.
Karena itu, ketika Presiden Prabowo Subianto mengganti Purbaya Yudhi Sadewa dengan Suahasil Nazara pada pertengahan September 2026, banyak pihak langsung bertanya: mengapa?
Pertanyaan tersebut wajar. Purbaya baru sekitar satu tahun menjabat sebagai Menteri Keuangan. Pemerintah juga tidak memberikan penjelasan rinci mengenai alasan pergantian tersebut. Akibatnya, berbagai spekulasi bermunculan, mulai dari faktor kinerja hingga pertimbangan politik.
Namun jika melihat kondisi ekonomi selama masa kepemimpinan Purbaya, gambaran yang muncul sebenarnya tidak sesederhana itu.
Kinerja Ekonomi
Selama setahun terakhir, sejumlah indikator ekonomi menunjukkan kondisi yang relatif stabil. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tercatat sebesar 5,61 persen, sedangkan pada triwulan II mencapai 5,29 persen. Secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi semester pertama 2026 berada pada angka 5,45 persen.
Angka tersebut memang belum mencapai target enam persen yang diharapkan pemerintah. Namun sulit pula mengatakan bahwa pertumbuhan tersebut buruk. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Indonesia masih mampu mempertahankan laju pertumbuhan di atas lima persen.
Dari sisi fiskal, pemerintah juga masih mampu menjaga defisit anggaran di bawah batas tiga persen terhadap produk domestik bruto. Bagi investor, hal ini menjadi indikator penting bahwa pemerintah tetap berhati-hati dalam mengelola keuangan negara.
Selain itu, Indonesia juga masih mempertahankan peringkat investasi atau investment grade dari lembaga pemeringkat internasional. Artinya, kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia secara umum masih terjaga.
Karena itu, pergantian Menteri Keuangan kali ini tidak dapat dijelaskan hanya dengan melihat kinerja ekonomi semata.
Di Balik Pergantian
Tentu hanya Presiden yang mengetahui alasan sebenarnya di balik pergantian tersebut. Namun ada beberapa kemungkinan yang banyak dibicarakan.
Salah satunya adalah target pertumbuhan ekonomi enam persen yang belum tercapai. Bagi pemerintahan yang memiliki agenda pembangunan besar, pertumbuhan ekonomi menjadi ukuran penting keberhasilan kebijakan.
Selain itu, selama menjabat Purbaya juga melakukan rotasi besar-besaran terhadap sejumlah pejabat di lingkungan Kementerian Keuangan. Kebijakan tersebut memunculkan kekhawatiran dari sebagian pihak karena menyangkut institusi yang menjadi tulang punggung penerimaan negara, seperti Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Bea Cukai.
Namun hingga saat ini tidak ada penjelasan resmi yang memastikan bahwa faktor-faktor tersebut menjadi penyebab utama pergantian.
Yang jelas, keputusan tersebut menunjukkan bahwa dalam pemerintahan, pertimbangan ekonomi sering kali berjalan berdampingan dengan pertimbangan birokrasi maupun politik.
Menenangkan Pasar
Yang menarik bukan hanya siapa yang diganti, tetapi juga siapa yang dipilih sebagai penggantinya.
Jika pemerintah ingin mengubah arah kebijakan fiskal secara drastis, Presiden bisa saja menunjuk figur baru dari luar Kementerian Keuangan. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Presiden memilih Suahasil Nazara yang sebelumnya menjabat Wakil Menteri Keuangan.
Pilihan ini memberikan sinyal positif kepada pasar. Suahasil bukan orang baru. Ia telah lama terlibat dalam penyusunan kebijakan fiskal dan memahami bagaimana mekanisme Kementerian Keuangan bekerja.
Karena itu, pergantian ini tidak banyak dipandang sebagai perubahan arah kebijakan. Justru yang terlihat adalah upaya menjaga kesinambungan kebijakan yang sudah berjalan.
Bagi pelaku pasar, kepastian sering kali lebih penting daripada perubahan. Investor ingin mengetahui bahwa kebijakan ekonomi pemerintah tetap berjalan pada jalur yang dapat diprediksi. Kehadiran Suahasil memberikan keyakinan bahwa transisi kepemimpinan tidak akan menimbulkan guncangan besar terhadap pengelolaan fiskal maupun stabilitas ekonomi.
Dalam konteks ini, pergantian Menteri Keuangan lebih menyerupai pergantian nahkoda yang masih berada dalam kapal yang sama. Arah pelayarannya tidak berubah, hanya orang yang memegang kemudinya yang berganti.
Tantangan Baru
Meski demikian, tantangan yang dihadapi Suahasil tidaklah ringan.
Pemerintah membutuhkan dana besar untuk membiayai berbagai program prioritas. Di sisi lain, penerimaan negara harus terus ditingkatkan tanpa membebani masyarakat secara berlebihan.
Karena itu, fokus utama ke depan bukan hanya menambah penerimaan, tetapi juga meningkatkan kepatuhan wajib pajak serta memastikan setiap rupiah belanja negara memberikan manfaat yang nyata bagi perekonomian.
Belanja negara harus mampu menciptakan infrastruktur, mendorong investasi, dan menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Pada saat yang sama, disiplin fiskal juga harus tetap dijaga agar keuangan negara tidak terbebani di masa depan.
Pada akhirnya, publik mungkin tidak pernah mengetahui alasan pasti mengapa Purbaya diganti. Namun satu hal yang cukup jelas, pergantian ini belum tentu menandakan perubahan besar dalam arah kebijakan ekonomi Indonesia.
Justru penunjukan Suahasil menunjukkan bahwa pemerintah ingin menjaga stabilitas dan kepercayaan pasar. Sebab pada akhirnya, yang paling penting bukanlah siapa yang menjadi Menteri Keuangan, melainkan apakah perekonomian tetap tumbuh, investasi terus masuk, dan kesejahteraan masyarakat dapat meningkat.
