Konten dari Pengguna

Kepribadian Tertutup: Pengertian dan Ciri-ciri Orang yang Tertutup

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kepribadian Tertutup. Gambar: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kepribadian Tertutup. Gambar: Pexels.

Kepribadian tertutup menjadi salah satu tipe karakter yang cukup sering ditemukan di masyarakat. Sifat ini biasanya berkaitan dengan cara seseorang berinteraksi, mengekspresikan diri, dan menanggapi lingkungan di sekitarnya. Dengan mengenali ciri-ciri kepribadian tertutup, kita bisa lebih memahami perbedaan dalam perilaku sosial setiap individu.

Pengertian Kepribadian Tertutup

Dalam psikologi, kepribadian tertutup (introvert) menggambarkan individu yang cenderung menjaga jarak dalam berinteraksi dan menahan diri dalam mengungkapkan emosi atau pikiran. Menurut Eko Purnomo, Eddy Marheni, dan Firunika Intan Cahyani dalam Kepribadian Mahasiswa Kepelatihan: Perspektif Psikologi Olahraga, istilah ekstrovert dan introvert pertama kali diperkenalkan oleh Carl Jung (1913), yang membedakan keduanya berdasarkan cara orang memilih untuk mendapatkan energi dan memusatkan perhatian mereka — introvert lebih memilih aktivitas soliter dan dunia ide sebagai sumber energinya (Eysenck & Chan, 1982, dikutip dalam Purnomo dkk.). Seorang introvert adalah orang yang lebih tertarik pada pikiran dan perasaannya sendiri daripada pada hal-hal di luar dirinya, dengan kepribadian yang cenderung tenang dan introspektif (Zhang, 2009, dikutip dalam Purnomo dkk.). Definisi ini sejalan dengan Britannica, yang menjelaskan introvert sebagai orang yang minatnya umumnya diarahkan ke dalam, menuju perasaan dan pikirannya sendiri.

Secara fisiologis, Eysenck (dikutip dalam Purnomo dkk., mengutip Suyatno & Wahyuningsih, 2005) menjelaskan bahwa perbedaan introvert dan ekstrovert terletak pada tingkat keterangsangan korteks (Cortical Arousal Level/CAL), yang sebagian besar bersifat turunan. Pada orang introvert, CAL cenderung tinggi sehingga korteks mereka lebih peka dan hanya membutuhkan sedikit rangsangan untuk teraktivasi — sehingga mereka lebih mudah menarik diri dan menghindar dari keadaan di sekitarnya yang membuat mereka kelebihan rangsangan.

Ciri-ciri Orang dengan Kepribadian Tertutup

Berikut merupakan Ciri-ciri Orang dengan Kepribadian Tertutup.

Perilaku Sosial

Orang dengan kepribadian tertutup umumnya sulit untuk membangun relasi sosial yang luas. Ciri-ciri introvert menurut Suryabrata (1982, dikutip dalam Purnomo dkk.) adalah tertutup, merasa sendirian, sensitif, penyesuaian dengan dunia luar yang kurang baik, sukar bergaul, dan kurang dapat menarik hati orang lain. Mereka lebih memilih lingkungan yang tenang dan seringkali menghindari keramaian — mereka adalah orang-orang yang lebih senang berada dalam kesunyian atau kondisi yang tenang, daripada di tempat yang terlalu banyak orang (Purnomo dkk.). Selain itu, mereka cenderung menikmati waktu sendiri untuk mengisi ulang energi.

Respons terhadap Lingkungan

Individu dengan karakteristik introvert cenderung suka menyendiri dan seringkali mengabaikan faktor eksternal yang penting (Keating, 1987, dikutip dalam Purnomo dkk.), serta secara esensi memiliki pandangan subjektif dan terindividualisasi dalam melihat dunia (Feist & Feist, 2011, dikutip dalam Purnomo dkk.). Menurut McClelland (dikutip dalam Ramly, 2011, dikutip dalam Purnomo dkk.), energi introvert cenderung membuat seseorang: (a) percaya pada kemampuan diri sendiri, (b) meraih kesuksesan karena kekuatan dalam diri sendiri, (c) cenderung sulit percaya pada orang lain, dan (d) jika mengalami kegagalan, cenderung menyalahkan diri sendiri, mudah frustrasi, dan menyiksa diri sendiri. Orang introvert juga cenderung mengalami gangguan atau hambatan dalam komunikasi interpersonal (Purnomo dkk.), sehingga ketika berada di situasi yang menuntut keterbukaan, mereka biasanya enggan mengutarakan pendapat secara langsung.

Dampak Kepribadian Tertutup dalam Kehidupan Sehari-hari

Sifat tertutup dapat memengaruhi relasi sosial, membuat seseorang terlihat kurang aktif dalam kelompok, terutama karena hambatan dalam komunikasi interpersonal yang dijelaskan di atas. Selain itu, adaptasi di lingkungan baru bisa terasa lebih menantang, sebab tipikal orang introvert cenderung pemalu dan cenderung mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan situasi sosial (Britannica). Menariknya, dalam studi Purnomo dkk. terhadap 70 mahasiswa Kepelatihan Olahraga FIK Universitas Negeri Padang menggunakan tes MBTI, hanya 8 mahasiswa (11%) yang memiliki kepribadian introvert, sedangkan mayoritas (89%) berkepribadian ekstrovert — para peneliti menggambarkan mahasiswa introvert sebagai "manusia yang lebih banyak berpikir dan lebih sedikit beraktivitas". Meski jumlahnya minoritas dalam konteks studi tersebut, beberapa orang dengan kepribadian tertutup justru lebih fokus dan teliti dalam menyelesaikan tugas yang memerlukan konsentrasi tinggi.

Kesimpulan

Kepribadian tertutup (introvert) merujuk pada karakter yang cenderung menjaga privasi, lebih fokus pada dunia pikiran dan perasaan sendiri, serta membatasi interaksi sosial — sebuah orientasi psikologis yang menurut Carl Jung (1913) berakar pada arah aliran energi psikis seseorang, bukan sekadar rasa malu semata (Purnomo dkk.; Britannica). Ciri-ciri seperti lebih suka menyendiri, sukar bergaul, serta tantangan dalam adaptasi kerap ditemukan pada individu dengan kepribadian ini, meski di sisi lain mereka cenderung percaya pada kemampuan dan kekuatan diri sendiri. Memahami kepribadian tertutup penting agar kita bisa menghargai perbedaan karakter, baik dalam lingkungan keluarga, pendidikan, maupun pekerjaan.