Narsistik Adalah: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental
Menyajikan informasi seputar psikologi dan cabang-cabang ilmunya.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Ruang Psikologi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Narsistik sering dikaitkan dengan rasa percaya diri berlebihan, tetapi istilah ini memiliki makna yang jauh lebih dalam. Fenomena narsistik menjadi perhatian dalam dunia psikologi karena dampaknya dapat memengaruhi relasi sosial hingga kesehatan mental seseorang. Memahami narsistik adalah langkah awal untuk mengenali tanda-tanda gangguan kepribadian yang mungkin muncul di lingkungan sekitar.
Apa Itu Narsistik?
Menurut Dewi Purnama Sari dalam artikel Gangguan Kepribadian Narsistik dan Implikasinya Terhadap Kesehatan Mental (2021), gangguan kepribadian narsistik pada dasarnya adalah gangguan kepribadian yang disebabkan adanya sikap atau perilaku seseorang yang berlebihan dalam memandang keunikan atau kelebihan yang dimiliki, sehingga menimbulkan fantasi yang berlebihan terhadap dirinya sendiri. Secara bahasa, narsistik merupakan perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan, dan gangguan kepribadian narsistik termasuk gangguan mental yang disebabkan adanya perasaan ego yang tinggi dan kekaguman yang berlebihan terhadap dirinya sendiri.
Sejarah dan Perkembangan Istilah Narsistik
Purnama Sari (2021) menjelaskan bahwa kata narsistik merupakan turunan dari kisah Narcissus — pemuda tampan dari mitologi Yunani Kuno yang sangat kagum terhadap dirinya sendiri setelah melihat bayangan wajahnya di permukaan air, dan pada akhirnya bunuh diri karena tidak bisa memenuhi keinginannya untuk menjalin cinta dengan orang yang memiliki kelebihan dirinya. Dari kisah ini berkembanglah istilah narsistik dalam psikologi modern, merujuk pada gangguan kepribadian dengan pola perilaku yang memusatkan perhatian berlebihan pada diri sendiri.
Definisi Narsistik Menurut Para Ahli
Purnama Sari (2021) menjelaskan bahwa individu yang mengalami gangguan kepribadian narsistik selalu mengharapkan perhatian dan pemujaan yang berlebihan terhadap dirinya, suka memperlihatkan kelebihan yang dimiliki secara berlebihan, serta menganggap sikap dan perilakunya hanya dapat dimengerti dan dipahami oleh orang-orang tertentu. Akibatnya adalah melahirkan sikap yang kurang empati terhadap orang lain, arogan, iri, ingin diperlakukan secara istimewa, selalu mencari perhatian, ingin dipuja, takut gagal, serta sensitif terhadap kritikan.
Ciri-Ciri Gangguan Kepribadian Narsistik
Mengenali ciri-ciri gangguan kepribadian narsistik sangat penting agar kita dapat memahami perilaku seseorang secara lebih objektif. Orang dengan gangguan ini biasanya memiliki sejumlah gejala yang cukup mudah diidentifikasi dalam keseharian.
Kriteria Diagnostik DSM-IV
Purnama Sari (2021) memaparkan bahwa dalam DSM-IV (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-Fourth Edition), seseorang dikatakan mengalami gangguan kepribadian narsistik jika memiliki lima dari sembilan ciri berikut: (1) merasa paling hebat; (2) sering memiliki perasaan iri hati kepada orang lain; (3) memiliki fantasi secara berlebihan terhadap kesuksesan dan kelebihannya; (4) ingin dikagumi secara berlebihan; (5) kurang memiliki empati terhadap orang lain; (6) selalu ingin memperoleh keistimewaan; (7) memiliki sikap angkuh; (8) sensitif terhadap kritik; serta (9) memiliki kepercayaan diri secara semu dan keyakinan berlebihan bahwa dirinya memiliki keunikan yang hanya dapat dimengerti oleh orang-orang tertentu.
Dampak Gangguan Narsistik terhadap Kehidupan Sehari-hari
Purnama Sari (2021) menjelaskan bahwa orang yang memiliki gangguan kepribadian narsistik tidak mampu menjalin hubungan sosial terhadap sesama secara baik, karena dalam melakukan sesuatu semata untuk membanggakan diri dan mendapatkan pujian dari orang lain. Hal ini mengganggu hubungan interpersonal dan lingkungan kerja. Individu dengan gangguan kepribadian narsistik terkadang sering merasa kecewa terhadap dirinya, lalu mencari orang-orang yang dianggapnya ideal; jika ada orang lain dianggap mampu menyainginya, ia akan marah dan berupaya menyingkirkannya.
Implikasi Gangguan Narsistik pada Kesehatan Mental
Gangguan kepribadian narsistik memberi dampak luas, baik bagi penderitanya maupun lingkungan sekitarnya. Isu kesehatan mental ini penting untuk diwaspadai agar tidak berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Pengaruh terhadap Diri Sendiri
Purnama Sari (2021) menegaskan bahwa kepribadian narsistik yang dimiliki oleh seseorang akan berimplikasi terhadap kesehatan mental. Jika kepribadian narsistik menyebabkan terganggunya fungsi-fungsi kehidupan — seperti perasaan, hubungan sosial, dan pekerjaan — maka akan berpotensi mengganggu kesehatan mental. Orang yang mengalami gangguan kepribadian juga biasanya mudah stres dan mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah, serta tidak memiliki motivasi untuk mengubah sikap dan perilakunya.
Pengaruh terhadap Lingkungan Sosial
Purnama Sari (2021) menjelaskan keterkaitan narsistik dengan perkembangan media sosial: perkembangan media sosial di satu sisi memberikan kemudahan, namun di sisi lain dapat mengakibatkan gangguan kepribadian dan melahirkan sikap serta perilaku narsistik yang mengganggu kesehatan mental. Individu narsistik dalam lingkungan sosial cenderung menciptakan konflik karena selalu memprioritaskan kepentingan dan pujian diri sendiri.
Cara Mengatasi Gangguan Kepribadian Narsistik
Purnama Sari (2021), mengutip Fausiah dan Widury (2005), menjelaskan beberapa proses yang dapat dilakukan untuk menangani gangguan kepribadian narsistik yang belum bersifat kronis: (a) melatih diri memandang orang lain secara positif; (b) selalu mengambil hikmah dan pelajaran dari sikap dan perilaku yang ditampilkan; (c) bersikap dan berperilaku sederhana secara proporsional agar terhindar dari jebakan hedonisme; (d) melatih diri bersikap rendah hati melalui belajar dari pengalaman orang lain; serta (e) melakukan koreksi terhadap ucapan, perilaku, dan sikap yang mengandung kesombongan melalui perenungan.
Kesimpulan
Narsistik adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa penting diri yang berlebihan, haus pujian, dan kurangnya empati terhadap orang lain. Berdasarkan Purnama Sari (2021), seseorang didiagnosis mengalami gangguan ini jika memiliki minimal lima dari sembilan kriteria DSM-IV. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh penderita sendiri — berupa stres dan kesulitan memecahkan masalah — tetapi juga oleh lingkungan sosial di sekitarnya. Jika ditemukan tanda-tanda tersebut, penting untuk mencari bantuan profesional dan menerapkan strategi penanganan yang terstruktur agar gangguan tidak berkembang lebih jauh.