Mahasiswa Bukan Mesin IPK: Saatnya Peduli Isu Sosial

Mahasiswa Aktif Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Sagita Seftiany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“IPK-mu berapa?”
Itu pertanyaan yang paling sering dilontarkan di lingkungan mahasiswa, seolah angka itu satu-satunya tolok ukur kesuksesan selama kuliah. Nilai akademik memang penting, tapi dunia nyata menuntut lebih dari sekadar nilai A di transkrip.
Sayangnya, banyak mahasiswa hari ini terjebak dalam pola pikir sempit: kuliah-kerjakan tugas-kejar IPK. Beberapa ikut lomba atau organisasi, tapi hanya untuk memperkuat CV. Tak salah, tapi kalau semua dilakukan hanya demi validasi sistem akademik—ada yang salah dengan orientasi kita.
Padahal sejarah mencatat: mahasiswa adalah agen perubahan. Tahun 1998 adalah bukti nyata ketika suara mahasiswa mampu mengguncang rezim. Tapi kini, gema itu mulai memudar. Bukan karena kita tidak peduli, tapi karena terlalu sibuk memenuhi target-target formal yang tak selalu esensial.
Saya pernah mengira IPK tinggi dan aktif organisasi sudah cukup. Tapi saat ikut komunitas pendidikan di daerah pinggiran, saya bertemu anak-anak belajar di ruang sempit tanpa listrik. Guru-guru honorer digaji tak layak. Saat itu, saya sadar: kuliah bukan hanya soal hafal teori, tapi memahami realita.
Peduli isu sosial tidak harus turun ke jalan. Itu bisa dimulai dari membaca berita dengan kritis, berdiskusi terbuka, ikut kegiatan sosial, atau menulis keresahan. Keterlibatan ini melatih empati, membentuk karakter, dan memperkaya makna ilmu yang kita pelajari.
Kini, banyak perusahaan tak lagi hanya mencari lulusan cumlaude, tapi mereka yang bisa bekerja sama, memahami keberagaman, dan punya keberanian menyuarakan solusi. Semua itu tak didapat dari ruang kelas saja.
Jangan salah. IPK tetap penting. Tapi kuliah akan lebih bermakna kalau kita tahu bagaimana menggunakan ilmu itu untuk memperbaiki sekitar.
Maka, coba tanya ke diri sendiri: Apa gunanya cerdas, jika kita tidak peduli?
Mulailah dari hal kecil. Hadiri diskusi publik. Tulis opini. Bantu komunitas. Karena negeri ini tidak hanya butuh mahasiswa yang pintar, tapi juga yang peka dan peduli.
