Konten dari Pengguna

Rantau Bukan Pilihan, Tapi Keharusan

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Selvia Noviyanti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Anak Rantau Tidak Melarikan Diri Tapi Mereka Sedang Membangun Diri

ilustrasi momen perpisahan di stasiun sebelum keberangkatan. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi momen perpisahan di stasiun sebelum keberangkatan. Foto: Pexels

Ada yang bilang merantau itu pilihan. Tapi bagi banyak orang, rantau adalah keharusan. Bukan karena ingin, tapi karena memang tidak ada jalan lain. Di tengah ketidakpastian itulah, muncul sebuah keberanian yang tidak semua orang punya. Pergi jauh dari rumah bukan tanda lemah. Justru sebaliknya, dibutuhkan keberanian luar biasa untuk meninggalkan yang sudah dikenal, memeluk ketidakpastian, dan berkata, "Aku mau coba." Di saat banyak orang memilih nyaman, kamu memilih berkembang. Di saat banyak orang menunggu waktu yang tepat, kamu memutuskan bahwa waktunya adalah sekarang. Dan keputusan itu, sebesar apapun rasa takutnya, adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah kamu buat.

Selamat datang di dunia anak rantau. Dunia yang keras, tapi penuh kemungkinan.

Banyak orang bermimpi. Mereka berbicara tentang kota besar, tentang karier yang membanggakan, tentang kehidupan yang berbeda. Tapi ketika tiba saatnya untuk benar-benar berangkat, banyak yang mundur, banyak yang memilih menunda, bahkan banyak yang akhirnya tidak pernah pergi sama sekali.

Tapi kamu tidak. Kamu menyiapkan koper meski tanganmu gemetar. Kamu melambaikan tangan ke keluarga di stasiun atau terminal, meski dadamu sesak dan matamu berkaca-kaca. Kamu tetap melangkah maju meski tidak tahu persis apa yang menunggumu di ujung perjalanan. Itu bukan nekat tapi itu keyakinan. Keyakinan bahwa kamu mampu, bahwa ada sesuatu yang lebih besar di luar sana, dan bahwa kamu layak untuk mendapatkannya. Tidak semua orang punya keberanian seperti itu, tapi kamu punya, dan itu sudah membedakanmu sejak hari pertama.

Pertama kali masak dan hasilnya gosong? Selamat, kamu baru saja lulus ujian pertama hidup mandiri. Akhir bulan saldo menipis dan kamu terpaksa makan seadanya tapi tetap bisa melanjutkan hari? itu bukan nasib sial tapi itu latihan mental yang tidak bisa dibeli dengan uang kuliah manapun. Sakit sendirian di kamar kos tanpa ada yang merawat, tapi kamu bangkit dan tetap menjalani hari berikutnya? itu bukan cerita sedih, itu cerita tentang seseorang yang sedang belajar menjadi tangguh.

Tidak ada yang mengajarimu semua itu. Tidak ada kelas, tidak ada modul, tidak ada dosen yang bisa menyiapkanmu. Rantau mengajarkan hal-hal yang hanya bisa dipahami kalau sudah benar-benar merasakannya sendiri dengan cara bertahan ketika tidak ada yang bisa diandalkan, cara bangkit ketika tidak ada yang menyaksikan, cara tetap melangkah ketika semua terasa berat. Inilah yang tidak banyak orang sadari, setiap kali kamu berhasil melewati satu kesulitan di rantau, kamu keluar sebagai orang yang berbeda, lebih kuat, lebih dalam bahkan lebih siap. Tanpa kamu sadari, kamu sudah bukan lagi orang yang sama seperti saat pertama kali pergi.

Boleh merindukan masakan ibu yang tidak pernah bisa ditiru warung manapun. Boleh kangen suara riuh rumah yang dulu mungkin terasa berisik, tapi sekarang justru sangat dirindukan. Boleh sesekali menangis mendengar lagu lama atau mencium aroma yang mengingatkan pada kampung halaman, itu bukan lemah tapi manusiawi. Orang yang tidak punya apa-apa untuk dirindukan tidak akan pernah merasakan rindu. Kamu merindukan rumah karena kamu punya rumah yang layak dirindukan. Rindu itu bukan beban tapi itu pengingat bahwa kamu berjuang bukan untuk dirimu sendiri saja. Maka jangan biarkan rindu itu menghentikanmu. Jadikan ia alasan untuk terus melangkah, bukan alasan untuk menyerah. Kamu tidak pergi untuk lari dari rumah, tapi kamu pergi agar suatu hari nanti bisa pulang membawa sesuatu yang membanggakan mereka yang kamu cintai.

Di kampung halaman, orang selalu mengenalmu sebagai versi lama dirimu. Bukan karena mereka jahat, tapi karena memang begitulah cara orang-orang terdekat melihatmu. Tanpa sadar, pandangan itu membentuk batas yang tidak pernah diucapkan tapi selalu terasa, tentang siapa kamu, dan sampai mana kamu boleh melangkah.

Di rantau, semua itu runtuh. Tidak ada yang tahu masa lalumu. Tidak ada prasangka lama, tidak ada cerita lama yang mendahuluimu. Yang ada hanya kamu, dengan segala potensi yang belum pernah tersentuh, dengan segala mimpi yang belum sempat terwujud, dengan segala sisi dirimu yang selama ini tidak punya ruang untuk muncul. Ini adalah kesempatan langka, kebebasan untuk mendefinisikan ulang siapa kamu dari nol. Gunakan sebaik-baiknya, jadilah versi dirimu yang selama ini hanya hidup dalam bayangan. Karena di sinilah, jauh dari rumah, kamu punya ruang penuh untuk tumbuh menjadi dirimu yang sesungguhnya.

Mungkin hari ini kamu lelah. Mungkin hasilnya belum terlihat, mimpinya masih terasa jauh, dan perjuangannya terasa tidak ada habisnya. Mungkin ada suara kecil di kepalamu yang bertanya “Apakah semua ini worth it?” jawabannya ya, selalu ya. Proses tidak pernah seindah hasil tapi justru di sinilah karaktermu dibentuk. Di sinilah kamu belajar tentang ketekunan, tentang kerendahan hati, tentang arti kerja keras yang sesungguhnya. Setiap hari yang kamu jalani di rantau, meski terasa biasa saja adalah bata yang kamu tumpuk untuk membangun fondasi untuk masa depanmu.

Dan suatu hari nanti, semua ini akan jadi cerita yang kamu banggakan. Cerita tentang seseorang yang memilih pergi bukan karena tidak punya tempat pulang, tapi karena percaya bahwa dirinya layak untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik.