Titip Absen di Kalangan Mahasiswa: Ketika Bolos Dianggap Biasa

Serren Surya Anggita mahasiswi aktif semester 3, Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Bunda Mulia (UBM).
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Serren Surya Anggita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di lingkungan perkuliahan, titip absen menjadi salah satu cara yang digunakan mahasiswa untuk tetap tercatat hadir meskipun tidak mengikuti kelas. Praktik ini tidak selalu dilakukan karena keperluan mendesak. Sebagian mahasiswa justru memilih bolos karena merasa bosan dengan mata kuliah tertentu, kurang menyukai dosen yang mengajar, atau ingin menghabiskan waktu bersama teman di luar kampus. Bahkan, permintaan titip absen terkadang diajukan kepada teman yang tidak terlalu dekat. Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana sebagian mahasiswa memaknai kehadiran di kelas dan sejauh mana mereka memandangnya sebagai bagian dari tanggung jawab akademik.
Menurut saya, masalah titip absen tidak terletak semata-mata pada keputusan mahasiswa untuk tidak mengikuti perkuliahan, tetapi juga pada keinginan untuk tetap dianggap hadir tanpa benar-benar menjalankan kewajibannya. Ketidakhadiran karena pekerjaan, urusan keluarga, atau keadaan mendesak tentu berbeda dengan bolos karena tidak menyukai suasana kelas. Rasa bosan dan ketidakcocokan dengan metode mengajar dosen memang bisa terjadi, tetapi keduanya tidak seharusnya menjadi pembenaran untuk memanipulasi kehadiran. Perkuliahan tidak selalu berjalan sesuai harapan. Ada materi yang sulit dipahami dan metode pembelajaran yang mungkin kurang sesuai dengan preferensi mahasiswa. Namun, menjadi mahasiswa juga berarti belajar menghadapi situasi yang tidak selalu menyenangkan, bukan hanya mengikuti hal-hal yang disukai.
Selain berkaitan dengan tanggung jawab akademik, kebiasaan titip absen juga menyangkut kejujuran dalam pertemanan. Mahasiswa yang meminta bantuan bahkan kepada teman yang tidak terlalu dekat dapat menempatkan orang tersebut dalam situasi yang canggung. Penolakan mungkin terasa sulit karena khawatir dianggap tidak mau membantu, padahal permintaan itu mengharuskannya mencatatkan kehadiran yang tidak sesuai dengan kenyataan. Menurut saya, membantu teman tidak berarti harus memenuhi semua permintaannya. Ada perbedaan antara memberikan bantuan yang bermanfaat dan ikut membenarkan tindakan yang keliru. Menolak titip absen bukan berarti tidak menghargai pertemanan, melainkan menunjukkan bahwa hubungan baik seharusnya tidak bergantung pada kesediaan seseorang untuk mengabaikan kejujuran.
Pada akhirnya, kebiasaan titip absen perlu dilihat sebagai persoalan yang berkaitan dengan kedisiplinan dan tanggung jawab mahasiswa. Setiap orang memiliki kebebasan untuk menentukan pilihannya, termasuk memutuskan untuk tidak menghadiri perkuliahan. Namun, kebebasan tersebut juga berarti bersedia menerima konsekuensi dari keputusan yang diambil. Jika mahasiswa memilih untuk bolos, seharusnya ia tidak meminta orang lain menutupi ketidakhadirannya demi mempertahankan catatan kehadiran. Menurut saya, keberhasilan dalam menjalani perkuliahan tidak hanya berkaitan dengan nilai akademik, tetapi juga dengan sikap jujur dan bertanggung jawab. Kuliah memang tidak selalu menyenangkan, tetapi ketidaknyamanan bukan alasan untuk menghindari setiap kewajiban. Justru ketika dihadapkan pada pilihan yang lebih mudah tetapi tidak jujur, mahasiswa memiliki kesempatan untuk menunjukkan prinsip yang dipegangnya.
