Konten dari Pengguna

Pembagian Pertemuan Kuliah Dapat Disusun per CPMK

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

SEVIMA - Pembagian pertemuan kuliah berdasarkan capaian pembelajaran mata kuliah dapat membantu mahasiswa memahami hubungan antara kegiatan kelas dan kemampuan yang harus dikuasai. Penyusunan jadwal semester dengan bantuan kecerdasan buatan memerlukan batasan yang jelas agar setiap minggu bukan sekadar diisi topik secara acak. Kerangka waktu juga menentukan kapan sebuah capaian dapat diperiksa melalui tugas atau penilaian.

Dr. Alim Sumarno, M.Pd., dari Universitas Negeri Surabaya, membahas pendekatan tersebut dalam webinar pembelajaran dan bahan ajar berbantuan AI secara daring pada Senin, 17 Maret 2025. Dalam contoh praktiknya, Alim memakai tujuh capaian pembelajaran mata kuliah (CPMK) untuk mengatur empat belas minggu kegiatan belajar di antara periode ujian tengah dan akhir semester.

"Jumlah sub-CPMK tidak harus sekian ini, hanya untuk memudahkan dalam menyusun," kata Alim. Penjelasan itu penting karena susunan yang dipraktikkan merupakan ilustrasi pembagian waktu, bukan ketentuan bahwa setiap mata kuliah harus memiliki jumlah capaian yang sama.

Pembagian Pertemuan Kuliah Menurut Capaian Mata Kuliah

Dalam contoh Alim, satu capaian mata kuliah dibagi menjadi kegiatan untuk dua pertemuan. Urutan tersebut membantu dosen mengawali perancangan dari hasil belajar, kemudian menambahkan kemampuan akhir, indikator penilaian, bentuk penilaian, metode pembelajaran dan referensi. AI dapat menyusun tabel, tetapi isinya tetap bergantung pada batasan yang diberikan.

Dengan memecah permintaan menjadi beberapa bagian, pengampu mata kuliah dapat memeriksa konsistensi antarpertemuan sebelum seluruh semester digabungkan. Kekeliruan pada indikator penilaian di minggu awal, misalnya, dapat ditemukan tanpa harus membongkar keseluruhan rancangan pembelajaran.

"Kenapa enggak sekaligus satu sampai empat belas? Bisa saja," ujar Alim ketika menjelaskan pilihan menyusun rancangan per CPMK. Ia kemudian mengingatkan bahwa permintaan yang terlalu panjang dapat menghasilkan rincian yang kurang terarah.

Contoh empat belas minggu tidak perlu diterapkan secara kaku pada semua jenis pembelajaran. Mata kuliah praktikum, studio, seminar dan praktik lapangan mempunyai pola keterlibatan mahasiswa berbeda. Dosen harus mempertimbangkan durasi kerja, kebutuhan umpan balik, serta kesempatan pengulangan ketika mahasiswa belum menguasai sebuah keterampilan.

Menyelaraskan Metode, Tugas, dan Pustaka

Alim memperlihatkan bahwa setiap sub-CPMK perlu dihubungkan dengan indikator, metode dan referensi. Artinya, pembagian pertemuan kuliah baru mempunyai manfaat ketika setiap kegiatan secara nyata mendukung hasil belajar yang telah ditentukan. Mengisi tabel kegiatan tanpa memastikan fungsi pedagogisnya justru menambah administrasi.

"Biar lebih terarah dan biar nanti CPL-nya itu bisa diukur," jelas Alim. Ia menyebut bahwa rincian mingguan akhirnya perlu dipetakan kembali ke capaian lulusan program studi, sehingga pengajar mengetahui kontribusi setiap bagian pembelajaran.

Kebutuhan pemetaan itu sejalan dengan penjelasan Universitas Negeri Surabaya mengenai penggunaan AI untuk penyusunan perangkat pembelajaran berbasis capaian. Dalam laporan pelatihan dosen pada Juli 2026, kampus tersebut menegaskan bahwa deskripsi mata kuliah, CPMK, sub-CPMK dan instrumen evaluasi perlu menjadi rangkaian yang saling terkait dan divalidasi oleh pengajar.

UNESCO melalui 'Guidance for Generative AI in Education and Research' juga menyoroti pentingnya desain pedagogis ketika teknologi generatif dipakai dalam kegiatan pendidikan. Bagi penyusun jadwal, hal itu berarti pertanyaan utamanya bukan seberapa cepat tabel selesai, melainkan apakah susunan kegiatan memungkinkan mahasiswa mencapai kompetensi yang ditargetkan.

Tahap penggabungan tabel pun memerlukan pemeriksaan ulang. Dosen dapat melihat apakah ada materi yang berulang, indikator tanpa tugas, atau pertemuan yang terlalu padat. Perubahan satu sub-CPMK mungkin berdampak pada metode dan bobot penilaian di bagian lain.

Di titik ini, manfaat AI dapat muncul pada pekerjaan menyusun variasi kegiatan dan merapikan format. Namun, pilihan urutan tetap perlu mempertimbangkan prasyarat. Mahasiswa yang belum memahami konsep dasar mungkin membutuhkan pertemuan penguatan sebelum diarahkan ke proyek yang lebih kompleks.

Dosen juga dapat memanfaatkan hasil evaluasi semester sebelumnya untuk memperbaiki pembagian waktu. Apabila suatu topik berulang kali membutuhkan penjelasan tambahan, jadwal perlu disesuaikan. Hasil AI yang baru sebaiknya diperlakukan sebagai rancangan yang terbuka untuk peninjauan, bukan susunan final yang tak dapat diubah.

Perhatian terhadap beban mahasiswa turut menentukan kelayakan pembagian pertemuan. Tabel yang menempatkan beberapa tugas besar pada minggu sama mungkin terlihat masuk akal secara terpisah, tetapi menjadi berat ketika digabung dengan mata kuliah lain. Koordinasi antar pengampu dan peninjauan jadwal tugas dapat membantu mengurangi benturan. Dalam pendekatan ini, penjadwalan bukan semata persoalan membagi empat belas baris, melainkan merencanakan perkembangan kemampuan dari awal sampai akhir semester. AI dapat membantu menyajikan alternatif rancangan, sedangkan keputusan mengenai beban kegiatan, sumber yang tersedia dan kecepatan belajar tetap memerlukan pengetahuan tentang situasi mahasiswa yang sebenarnya.

Sebelum semester dimulai, pengampu juga dapat memeriksa apakah mahasiswa memerlukan materi prasyarat di beberapa pertemuan awal. Jadwal belajar yang terlalu cepat dapat memaksa pengajar mengulang tanpa perencanaan. Sebaliknya, alokasi yang terlalu longgar bisa mengurangi kesempatan praktik pada kompetensi yang lebih menantang. Peninjauan berdasarkan pengalaman kelas sebelumnya menjadi penting agar pembagian waktu tidak berhenti sebagai perkiraan dari mesin. Perubahan jadwal sebaiknya tetap disertai penyesuaian tugas dan informasi yang jelas kepada mahasiswa.

Pembagian pertemuan kuliah yang dibuat secara bertahap memberi ruang untuk pemeriksaan semacam itu. Efisiensi AI baru relevan ketika hasil akhir tetap jelas, realistis untuk dilaksanakan dan dapat dipertanggungjawabkan dalam evaluasi pembelajaran.