Konten dari Pengguna

Tim Lintas Semester Melatih Mahasiswa Membagi Peran Proyek

Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Istimewa

SEVIMA - Tim lintas semester dapat menjadi cara membangun pengalaman kerja kelompok bagi mahasiswa yang kemampuan akademiknya belum sama. Ketika mahasiswa tingkat awal dan tingkat lanjut berada dalam satu proyek, perbedaan pengetahuan justru dapat dipakai untuk membagi pekerjaan secara bertahap. Namun, pola ini menuntut pembimbingan agar kelompok tidak hanya bergantung pada anggota yang paling senior.

Gagasan tersebut dijelaskan Mantan Direktur Politeknik Negeri Ketapang periode 2018–2022, Endang Kusmana, dalam pemaparan tentang pembelajaran proyek di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia mengisahkan pengembangan metode tersebut pada program studi teknologi informasi. Mahasiswa disatukan untuk mengerjakan produk yang memiliki pengguna, bukan semata mengumpulkan tugas individual pada akhir semester.

"Saya mau menggabungkan anak semester 1 dan 3 di dalam satu kelompok," ujar Endang, menirukan gagasan yang muncul ketika program studi merancang pelaksanaannya. Ia menjelaskan bahwa kombinasi semester kemudian disesuaikan kembali pada semester genap. Susunan ini dimaksudkan agar satu kelompok memiliki jenjang kemampuan yang berbeda, dengan tanggung jawab masing-masing yang dapat diukur.

Tim Lintas Semester Tidak Boleh Sekadar Penggabungan Kelas

Penggabungan tingkat dalam kuliah tidak berarti mahasiswa semester awal diminta menyelesaikan pekerjaan yang sama dengan mahasiswa tingkat lanjut. Anggota baru bisa berlatih mengumpulkan kebutuhan pengguna, menyiapkan dokumentasi, atau menguji fungsi sederhana. Anggota lebih berpengalaman menangani rancangan yang membutuhkan penguasaan materi lanjutan. Pembagian ini perlu terhubung dengan capaian mata kuliah agar penilaian tidak mengabaikan proses belajar tiap mahasiswa.

Dalam pengalaman yang disampaikan Endang, satu kelas berisi sekitar 30 mahasiswa dapat dibagi menjadi enam kelompok dengan lima anggota. Gambaran tersebut tidak harus menjadi jumlah baku untuk semua program studi. Besar kelompok perlu mempertimbangkan kesulitan proyek, jumlah dosen pembimbing, fasilitas yang tersedia, dan cara kontribusi individu bisa dibuktikan.

tim lintas semester menambah jenis persoalan yang harus dihadapi mahasiswa. Kesalahpahaman antaranggota, perubahan jadwal perkuliahan, serta perbedaan cara bekerja dapat muncul sebelum persoalan teknis terselesaikan. Situasi tersebut bisa menjadi bahan penilaian kerja sama dan komunikasi, tetapi hanya apabila ada rekam kegiatan yang memungkinkan dosen membedakan kontribusi setiap orang.

"Jadi, dosen di situ sebagai pembimbing," kata Endang. Dalam skema itu, pengajar tidak semata menyampaikan teori pada awal perkuliahan, melainkan ikut meninjau jalannya pekerjaan. Pembimbing perlu memperhatikan apakah mahasiswa senior benar-benar memberi ruang belajar kepada rekan yang lebih muda, atau justru mengambil alih pekerjaan demi mengejar tenggat.

Perbedaan Kemampuan Menuntut Pembagian Kerja

Model serupa pernah dipakai di Politeknik Negeri Ketapang. Merujuk publikasi resmi 'Prodi TI Terapkan Project Based Learning' di Politeknik Negeri Ketapang tertanggal 7 Maret 2022 menyebut penerapan pembelajaran berbasis proyek yang melibatkan mahasiswa semester dua dan empat di bidang teknik informatika. Informasi ini memperlihatkan bahwa penggabungan tingkat mahasiswa dalam satu rangkaian pembelajaran memiliki jejak penerapan di kampus tersebut.

Pelaksanaan kelompok lintas tingkat juga perlu memperhitungkan benturan kalender akademik. Mahasiswa dapat memiliki jadwal praktik, ujian, atau magang yang berlainan. Karena itu, dosen perlu menentukan titik pertemuan, target setiap tahap, dan cara serah terima pekerjaan jika seorang anggota tidak dapat hadir. Tanpa tata kelola ini, kelompok mudah mengalami ketergantungan pada satu orang.

"Nah, di sini ada interaksi," ujar Endang ketika membahas presentasi produk di hadapan mitra. Pertemuan dengan pihak pengguna memberi kesempatan kepada anggota kelompok untuk belajar menerima kritik. Mahasiswa tingkat awal dapat melihat bagaimana rekannya menjelaskan pertimbangan teknis, sedangkan mahasiswa tingkat lanjut mendapat latihan mempertanggungjawabkan keputusan yang mereka ambil.

Untuk menjaga keadilan, penilaian dapat memisahkan pencapaian kelompok dari kontribusi individu. Catatan tugas, diskusi dengan pembimbing, demonstrasi pekerjaan, dan refleksi akhir membantu menunjukkan apa yang dipelajari setiap mahasiswa. Produk yang berhasil belum tentu mencerminkan pembelajaran merata apabila sebagian besar pekerjaan hanya diselesaikan oleh beberapa anggota.

Kelompok campuran perlu menyepakati komunikasi rutin antarangkatan. Mahasiswa yang berbeda semester kerap memiliki jadwal mata kuliah dan tingkat kesibukan berbeda. Catatan tugas bersama membantu mencegah pekerjaan hilang ketika anggota senior menghadapi praktik lapangan. Pada saat yang sama, mahasiswa junior memperoleh ruang untuk mengajukan pertanyaan tanpa harus menunggu akhir proyek.

Kapasitas mahasiswa tidak ditentukan sepenuhnya oleh semester yang sedang ditempuh. Ada mahasiswa tahun awal yang telah memiliki pengalaman teknis, sementara mahasiswa tingkat lanjut masih memerlukan pendampingan pada bidang tertentu. Karena itu, distribusi tugas perlu didasarkan pada asesmen awal dan peluang belajar, bukan anggapan otomatis bahwa semua anggota senior selalu lebih mahir.

Nilai tim lintas semester terletak pada pertemuan antara pengalaman, pembimbingan, dan tanggung jawab yang berbeda. Tanpa pembagian tugas yang transparan, praktik ini berisiko menciptakan ketimpangan kerja. Dengan pengelolaan yang terukur, kelompok dapat menjadi tempat mahasiswa belajar dari rekan sekaligus menunjukkan kemampuan masing-masing.

Bagi anggota yang lebih muda, observasi terhadap rekan senior menjadi pengalaman penting apabila disertai kesempatan mencoba. Dosen dapat meminta setiap anggota memaparkan satu bagian hasil kerja yang memang dikerjakannya. Dengan cara tersebut, pengetahuan tidak berhenti pada orang yang memimpin kelompok, melainkan dapat diperiksa saat proyek berjalan dan sesudah penyerahan.