Konten dari Pengguna

Ngepit Trisna 2026: Merayakan Budaya dan Kreativitas dalam Satu Panggung

Sigit Tyas Nur Ramadhan

Sigit Tyas Nur Ramadhan

Farmasi - Universitas Diponegoro

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Sigit Tyas Nur Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gapura penyambutan bertuliskan "Selamat Datang di Ngepit Trisna" menjadi penanda utama pembuka festival yang mengajak pengunjung menjelajahi potensi UMKM Desa Branjang, Sabtu (31/10/2026). (Sumber: Dokumenasi penulis)
zoom-in-whitePerbesar
Gapura penyambutan bertuliskan "Selamat Datang di Ngepit Trisna" menjadi penanda utama pembuka festival yang mengajak pengunjung menjelajahi potensi UMKM Desa Branjang, Sabtu (31/10/2026). (Sumber: Dokumenasi penulis)

Kabupaten Semarang – Ngepit Trisna merupakan sebuah festival yang diselenggarakan untuk memperkenalkan keindahan dan potensi Desa Wisata Branjang kepada masyarakat luas. Kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 31 Oktober 2026, di Desa Branjang, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang. Mengusung tema "Gowes Bareng, Guyup Bareng, Trisna Budaya", festival ini menghadirkan perpaduan kegiatan olahraga, hiburan, pelestarian budaya, dan pengembangan UMKM lokal.

Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya diajak bersepeda menyusuri wilayah desa, tetapi juga dikenalkan dengan berbagai potensi yang dimiliki masyarakat setempat. Mulai dari produk UMKM, peternakan, hingga kesenian tradisional, seluruh rangkaian kegiatan menjadi ruang pertemuan antara masyarakat, komunitas, dan pengunjung.

Daftar isi

Gowes Bareng, Menjelajahi Potensi Desa Branjang

Rangkaian kegiatan Ngepit Trisna diawali dengan aktivitas bersepeda bersama. Para peserta menyusuri sejumlah titik di Desa Branjang sembari menikmati suasana pedesaan. Namun, kegiatan ini tidak sekadar menjadi aktivitas olahraga dan rekreasi. Rute yang dilalui juga dirancang untuk memperkenalkan potensi lokal, khususnya usaha masyarakat yang berkembang di desa tersebut.

Edukasi di Peternakan Sapi Perah

Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah peternakan sapi perah milik keluarga Bapak Dani. Di tempat ini, peserta berkesempatan melihat secara langsung kondisi kandang, mencoba memerah sapi, serta memperoleh penjelasan mengenai pemeliharaan ternak, pakan, kualitas susu, hingga pemasaran produk.

Ibu Andini, salah satu anggota keluarga pemilik peternakan sekaligus pelaku UMKM, menyampaikan bahwa kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk susu sapi perah kepada masyarakat yang lebih luas.

"Peserta gowes tadi berkunjung ke peternakan bapak, Bapak Dani. Mereka meninjau lokasi kandang sapi perah, melihat lingkungan kandang, mencoba memerah sapi sendiri, serta mendapat penjelasan mengenai makanan sapi, kualitas sapi, dan tempat pemasarannya," ungkap Ibu Andini.

"Saya mewakili bapak, terima kasih sekali karena produk sapi perahnya bisa lebih dikenal lagi. Semoga masyarakat dapat lebih mengetahui mana produk susu sapi yang benar-benar murni dan memiliki kualitas baik. Harapannya, usaha ini bisa semakin berkembang dan dikenal masyarakat luas," tambah Ibu Andini.

Potret stan UMKM susu sapi murni dari peternakan keluarga Bapak Dani yang diperkenalkan kepada pengunjung dan peserta Ngepit Trisna 2026. (Sumber: Dokumentasi penulis)

Seni dan Budaya Lokal Meriahkan Ngepit Trisna

Setelah rangkaian kegiatan bersepeda, suasana festival semakin meriah dengan pembukaan acara utama pada pukul 11.40 WIB. Acara dipandu oleh pembawa acara, Zura bersama rekan-rekannya, kemudian dilanjutkan dengan berbagai ragam kesenian.

Ragam Tarian dan Musik Tradisional

Sejumlah tarian ditampilkan untuk memperkenalkan kekayaan seni daerah. Penampilan tersebut meliputi Tari Sesonderan yang dibawakan oleh Nindi, Putri, dan Wilda, serta Tari Semarangan oleh Nita dan Evan. Ada pula Tari Anggok Jos yang dibawakan oleh Kirana, seorang siswi kelas satu sekolah dasar. Selain tarian, acara turut dimeriahkan dengan penampilan musik. Nita membawakan lagu "Rene Rene Dolan nang Kabupaten Semarang", kemudian berduet dengan Akmal menyanyikan lagu berbahasa Jawa berjudul "Negoro Angin".

Salah satu penampilan tari tradisional dalam rangkaian acara Ngepit Trisna 2026 di Desa Branjang. (Sumber: Dokumentasi penulis)

Penampilan Band Sambat Budaya dari FIB Undip

Pada pukul 13.00 WIB, panggung Ngepit Trisna semakin meriah dengan penampilan Sambat Budaya, sebuah grup musik yang berasal dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip). Kehadiran band ini sukses menghibur para peserta dan masyarakat yang berkumpul di area panggung melalui lagu-lagu yang mereka bawakan, menambah keakraban suasana festival di siang hari.

Penampilan grup musik Sambat Budaya dari FIB Undip yang memeriahkan panggung Ngepit Trisna 2026. (Sumber: Dokumentasi penulis)

Merawat Tradisi Iriban dan Tingkeb Tandur

Selain panggung hiburan, festival ini juga menjadi ruang edukasi untuk membicarakan dan mengenalkan kembali tradisi masyarakat setempat. Dua tradisi yang disorot dalam kegiatan ini adalah Iriban dan Tingkeb Tandur. Iriban merupakan tradisi gotong royong membersihkan sumber mata air atau saluran irigasi yang biasanya disertai kegiatan makan bersama sebagai bentuk rasa syukur. Sementara itu, Tingkeb Tandur berkaitan dengan tradisi masyarakat dalam menyambut atau menjalani musim tanam. Kedua tradisi tersebut menggambarkan eratnya hubungan masyarakat dengan alam.

Atraksi Kuda Lumping

Menjelang sore, pertunjukan Kuda Lumping atau Jaran Kepang turut menjadi perhatian pengunjung. Kesenian ini ditampilkan dengan properti kuda dari anyaman bambu, diiringi tabuhan alat musik tradisional seperti kendang, bonang, dan gong. Gerakan para penampil yang dinamis membuat suasana semakin hidup.

Pertunjukan Kuda Lumping menjadi salah satu penampilan seni tradisional yang memeriahkan Ngepit Trisna 2026. (Sumber: Dokumentasi penulis).

UMKM Lokal, Potensi Ekonomi yang Turut Diperkenalkan

Selain menjadi wadah pelestarian budaya, Ngepit Trisna 2026 juga turut mengembangkan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Berbagai produk unggulan diperkenalkan kepada peserta dan pengunjung sebagai gambaran potensi ekonomi masyarakat Desa Branjang, mulai dari hasil olahan alam hingga kerajinan kreatif yang memiliki nilai jual.

Di sektor pangan, terdapat Gula Aren Dandang Gendis dari Dusun Dersuni yang masih mempertahankan proses pengolahan secara tradisional, serta Kopi Branjangan milik Bu Anik Rarasati yang menggunakan teknik penyangraian dengan tungku kayu sejak 2012. Potensi peternakan juga ditunjukkan melalui produk Susu Sapi Murni keluarga Bapak Dani. Sementara itu, Madu Klanceng As-Syifa milik Ibu Susi turut memperkaya produk lokal yang ditawarkan kepada masyarakat.

Tidak hanya produk pangan, kreativitas warga juga terlihat melalui kerajinan Sapu Ijuk Suneo milik Bapak Marmadi yang telah dikembangkan selama kurang lebih 21 tahun. Ada pula Sigur, usaha kriya kayu dan resin milik Janu Adhe Saputra, yang menghasilkan berbagai produk dekorasi seperti jam dinding dan lampu hias. Di bidang seni kreatif, Anto Aquarium Art milik Mas Bagas menghadirkan karya aquascape dengan memanfaatkan material alami sebagai elemen utamanya.

Keberagaman tersebut memperlihatkan bahwa potensi ekonomi Desa Branjang tidak hanya bertumpu pada sektor pertanian dan peternakan, tetapi juga berkembang melalui kerajinan dan industri kreatif. Kehadiran Ngepit Trisna menjadi kesempatan bagi para pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk secara langsung kepada pengunjung sekaligus membuka peluang pemasaran yang lebih luas.

Beragam produk unggulan UMKM Desa Branjang yang diperkenalkan kepada peserta dan pengunjung dalam kegiatan Ngepit Trisna 2026. (Sumber: Dokumentasi penulis)

Ruang Pelestarian Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat

Kehadiran kegiatan bersepeda, pertunjukan seni, penampilan musik, dan pengenalan UMKM memperlihatkan upaya penyelenggara untuk menghubungkan berbagai potensi Desa Branjang. Hori, Wakil Ketua Pelaksana Ngepit Trisna, menjelaskan bahwa kegiatan ini diselenggarakan untuk membantu memperkenalkan keindahan desa sekaligus menggerakkan ekonomi.

"Ngepit Trisna diadakan untuk membantu meningkatkan potensi UMKM yang ada di Desa Branjang. Selain itu, kami juga berharap masyarakat bisa menikmati keindahan Desa Branjang," jelas Hori.

"Kita berharap agar masyarakat mulai me-notice kembali adanya UMKM dan semua potensi yang ada di Desa Branjang. Setelah ini harapannya acara ini bisa berkelanjutan, entah itu per bulan maupun per tahun, dan melibatkan banyak sektor," tambahnya.

Momen keseruan warga, anak-anak, dan panitia saat menikmati hiburan di depan panggung. (Sumber : Dokumentasi penulis)

Mengayuh Kebersamaan, Menjaga Potensi Desa

Ngepit Trisna 2026 memperlihatkan bahwa sebuah festival dapat menjadi wadah untuk mempertemukan olahraga, pariwisata, budaya, dan ekonomi masyarakat. Melalui kegiatan bersepeda, peserta diajak mengenal wilayah desa. Sementara itu, pertunjukan seni, panggung musik, dan bincang tradisi memberikan ruang bagi kearifan lokal. Di sisi lain, keterlibatan UMKM menunjukkan bahwa potensi desa juga dapat diperkenalkan melalui produk kreativitas masyarakatnya.

Ngepit Trisna bukan sekadar kegiatan bersepeda bersama. Semangat "Gowes Bareng, Guyup Bareng, Trisna Budaya" menjadi pengingat bahwa potensi desa dapat terus tumbuh ketika masyarakat bergerak bersama untuk menjaga dan mengembangkannya.

Artikel ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia oleh Mahasiswa Program Studi S1 Farmasi Universitas Diponegoro.

Tim Penulis:

  1. Sigit Tyas Nur Ramadhan (22010326120012)

  2. Roro Nabilla Putria Indraswari (22010326120013)

  3. Alivia Rikza Azzahra Saifudin (22010326120018)

  4. Dea Afriska (22010326130021)

  5. Mutiara Hana Agestyn (22010326130039)

  6. Queen Shacheela Azelya Putri Lihu (22010326130042)