Konten dari Pengguna

Yaman: Arena Perang Proxy Saudi-Iran yang Melumpuhkan Rakyat

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari silviraanggraini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perang di Yaman. Foto: REUTERS/Anees Mahyoub
zoom-in-whitePerbesar
Perang di Yaman. Foto: REUTERS/Anees Mahyoub

Bayangkan Anda adalah warga Yaman yang terbangun setiap pagi dengan suara drone melintas di atas rumah, tidak tahu apakah hari ini akan ada serangan udara, apakah anak-anak Anda masih bisa pergi ke sekolah, atau apakah Anda masih bisa mendapatkan makanan untuk keluarga. Selama lebih dari satu dekade, Yaman telah menjadi medan pertempuran bagi dua kekuatan regional—Arab Saudi dan Iran—yang tidak pernah berperang secara langsung, tetapi telah mengubah negara Anda menjadi arena proxy war yang menghancurkan. Lebih dari 150.000 orang tewas, 21 juta membutuhkan bantuan kemanusiaan, dan infrastruktur negara hancur total. Namun, perang ini bukan tentang Yaman. Ini tentang rivalitas Saudi-Iran untuk hegemoni regional di Timur Tengah.

Akar Rivalitas: Lebih dari Sekadar Sunni vs Syiah

Untuk memahami mengapa Yaman menjadi proxy war, kita harus mundur ke tahun 1979—tahun yang mengubah lanskap geopolitik Timur Tengah. Revolusi Iran di bawah Ayatollah Khomeini menggulingkan Shah yang didukung Barat dan mendirikan republik teokratik Syiah. Khomeini menyerukan penggulingan monarki-monarki Arab dan menyebut Amerika sebagai "Setan Besar". Bagi keluarga kerajaan Saudi Arabia, ini bukan sekadar perubahan rezim di negara tetangga—ini adalah ancaman eksistensial terhadap legitimasi pemerintahan mereka.

Sejak itu, rivalitas Saudi-Iran telah membentuk konflik-konflik di seluruh Timur Tengah. Meskipun sering dibingkai sebagai pertarungan sektarian antara Sunni dan Syiah, para ahli sepakat bahwa ini lebih merupakan persaingan geopolitik dan nasionalis yang menggunakan agama sebagai instrumen mobilisasi. Iran melihat dirinya sebagai kekuatan Syiah terkemuka yang melawan dominasi Arab-Sunni, sementara Saudi Arabia memposisikan diri sebagai pelindung Islam Sunni ortodoks dan pemimpin dunia Arab. Kedua negara bersaing untuk pengaruh regional, kontrol atas sumber daya strategis, dan kemampuan untuk membentuk tatanan politik Timur Tengah.

Yang membuat rivalitas ini berbahaya adalah bahwa kedua negara jarang bertempur secara langsung. Sebaliknya, mereka menggunakan proxy war—membiayai, melatih, dan mempersenjatai kelompok-kelompok lokal di negara-negara ketiga untuk melawan kepentingan pihak lawan. Irak, Suriah, Lebanon, dan terutama Yaman telah menjadi medan pertempuran untuk proxy war ini.

Yaman: Dari Konflik Domestik ke Proxy War Regional

Konflik Yaman dimulai sebagai perang sipil domestik pada 2014 ketika gerakan Houthi—kelompok pemberontak Syiah Zaidi dari utara—merebut ibu kota Sanaa dan menggulingkan pemerintah Presiden Abdrabbuh Mansur Hadi. Houthi bangkit karena ketidakpuasan terhadap marginalisasi politik, korupsi pemerintah, dan ketimpangan ekonomi. Awalnya, ini adalah konflik internal Yaman.

Namun, pada Maret 2015, Arab Saudi memutuskan untuk intervensi militer besar-besaran dengan Operasi Decisive Storm. Koalisi yang dipimpin Saudi—termasuk UEA, Bahrain, Kuwait, dan didukung oleh AS dan Inggris—meluncurkan kampanye pengeboman udara untuk mengembalikan pemerintah Hadi yang sah. Alasan resmi Saudi adalah memenuhi permintaan Hadi untuk bantuan melawan "agresi Houthi". Namun, alasan sebenarnya jauh lebih strategis: Saudi melihat Houthi sebagai proxy Iran di perbatasan selatan mereka.

Persepsi Saudi tentang Houthi sebagai "tangan panjang Iran" berakar pada kenyataan bahwa Iran telah memberikan dukungan militer dan logistik kepada Houthi sejak 2009. Iran memasok senjata, rudal, drone, teknologi militer, dan pelatihan melalui Pasukan Quds dan Hizbullah. Panel ahli PBB mengonfirmasi bahwa Houthi tidak memiliki kapasitas untuk mengembangkan sistem senjata kompleks tanpa dukungan asing. Rudal balistik yang diluncurkan Houthi ke Saudi Arabia—termasuk serangan ke fasilitas minyak Aramco pada 2019—menggunakan desain dan komponen Iran.

Bagi Saudi Arabia, membiarkan Houthi menguasai Yaman sama dengan membiarkan Iran mendirikan basis militer di halaman belakang mereka. Riyadh khawatir bahwa pengaruh Iran melalui Houthi akan mengancam dominasi regional Saudi, mengancam keamanan perbatasan selatan, dan memberikan Iran akses strategis ke Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab—salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia.

Kepentingan Strategis: Mengapa Saudi dan Iran Peduli dengan Yaman

Untuk Arab Saudi, intervensi di Yaman didorong oleh beberapa kepentingan keamanan nasional yang vital. Pertama, keamanan perbatasan. Saudi berbagi perbatasan sepanjang 1.800 kilometer dengan Yaman, dan serangan lintas batas oleh Houthi—termasuk rudal dan drone—telah menjadi ancaman nyata. Kedua, mencegah ekspansi Iran. Sejak Revolusi 1979, Saudi telah berusaha membendung pengaruh Iran di kawasan. Membiarkan Houthi yang didukung Iran menguasai Yaman akan memperkuat "Axis of Resistance" Iran yang sudah mencakup Irak, Suriah, Lebanon (melalui Hizbullah), dan kelompok-kelompok milisi di berbagai negara.

Ketiga, menjaga stabilitas regional. Saudi melihat chaos di Yaman sebagai ancaman terhadap keamanan Teluk Persia secara keseluruhan. Keempat, mempertahankan kredibilitas sebagai pemimpin regional. Jika Saudi gagal "menyelesaikan" Yaman, kredibilitas mereka sebagai pelindung monarki Arab akan terkikis. Ironisnya, perang yang berkepanjangan justru merusak kredibilitas ini.

Bagi Iran, mendukung Houthi adalah bagian dari strategi yang lebih luas untuk memperluas pengaruh regional dan mengepung Saudi Arabia secara strategis. Pertama, strategic depth. Dengan memiliki sekutu di Yaman, Iran memperoleh posisi strategis di Laut Merah dan dapat memproyeksikan kekuatan ke jalur pelayaran vital. Kedua, asimetris warfare. Mendukung Houthi adalah cara murah dan efektif untuk menekan Saudi tanpa konfrontasi langsung. Biaya untuk Iran relatif kecil—senjata, pelatih, dan teknologi—tetapi dampaknya besar: Saudi menghabiskan miliaran dolar untuk perang tanpa hasil.

Ketiga, bargaining chip. Houthi memberikan Iran leverage dalam negosiasi regional. Ketika sanksi internasional menekan Tehran, Iran dapat menggunakan ancaman eskalasi di Yaman sebagai kartu tawar. Keempat, ideologi dan solidaritas Syiah. Meskipun Houthi adalah Zaidi (cabang Syiah yang berbeda dari Syiah Twelver Iran), Tehran memposisikan diri sebagai pelindung komunitas Syiah di seluruh dunia. Mendukung Houthi memperkuat narasi Iran sebagai pemimpin "Axis of Resistance" melawan hegemoni Sunni-Arab dan Israel.

Kompleksitas Hubungan Iran-Houthi: Proxy atau Partner?

Namun, karakterisasi Houthi sebagai "proxy Iran" penuh dengan nuansa yang sering diabaikan. Meskipun Iran memberikan dukungan signifikan, Houthi bukanlah boneka yang sepenuhnya dikendalikan Tehran. Para ahli mencatat bahwa Houthi memiliki agenda politik dan militer independen—menguasai Yaman yang bersatu dan melawan intervensi asing, terutama oleh AS dan Israel.

Pada beberapa kesempatan, Houthi telah mengabaikan nasihat Iran. Pada 2019, ketika Tehran diperkirakan mendukung resistensi militer, Houthi secara sepihak mendeklarasikan gencatan senjata dan mengadakan pembicaraan dengan Saudi Arabia. Serangan drone Houthi ke Tel Aviv pada Juli 2024 dilakukan tanpa koordinasi dengan Iran—Houthi mengumumkan bahwa Tehran baru tahu setelah serangan terjadi. Laporan terbaru bahkan menyebutkan bahwa pengaruh Iran terhadap Houthi telah menurun tajam, dengan Houthi semakin bertindak independen.

Paradoksnya, intervensi militer Saudi yang berkepanjangan justru memperdalam ketergantungan Houthi pada Iran. Sebelum 2015, pengaruh Iran atas Houthi relatif terbatas. Namun, blockade laut Saudi, serangan udara yang menghancurkan, dan isolasi internasional memaksa Houthi untuk semakin bergantung pada suplai senjata dan dukungan logistik Iran. Dengan kata lain, Saudi Arabia secara tidak sengaja menciptakan proxy Iran yang mereka takuti.

Dampak Kemanusiaan: Rakyat Yaman Membayar Harga Tertinggi

Sementara Saudi dan Iran bermain catur geopolitik, rakyat Yaman yang membayar harga tertinggi. Lebih dari 150.000 orang tewas dalam konflik, dengan lebih dari 19.000 warga sipil terbunuh akibat serangan udara koalisi Saudi. Koalisi telah melakukan lebih dari 24.000 serangan udara sejak 2015, menghancurkan rumah sakit, sekolah, pasar, dan infrastruktur sipil. PBB menyebut ini sebagai salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia: 21,6 juta orang membutuhkan bantuan, termasuk 11 juta anak-anak. Lebih dari 4,5 juta orang mengungsi.

Blockade laut dan udara Saudi telah memperburuk situasi dengan memblokir impor makanan, obat-obatan, dan bahan bakar. Yaman mengimpor 90 persen kebutuhan pangannya, dan blockade menciptakan kelaparan massal dan wabah penyakit seperti kolera. Ekonomi hancur, mata uang runtuh, dan sistem kesehatan kolaps. Rakyat Yaman tidak peduli dengan rivalitas Saudi-Iran—mereka hanya ingin hidup dengan aman dan bermartabat.

Normalisasi Saudi-Iran: Mengubah Dinamika Proxy War?

Pada Maret 2023, dalam langkah mengejutkan yang dimediasi oleh China, Arab Saudi dan Iran memulihkan hubungan diplomatik setelah bertahun-tahun permusuhan terbuka. Kesepakatan ini memberikan harapan bahwa proxy war di Yaman bisa berakhir. Menurut laporan, Iran setuju untuk menghentikan dukungan militer kepada Houthi sebagai bagian dari kesepakatan. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa normalisasi Saudi-Iran belum menyelesaikan konflik Yaman.

Alasannya adalah bahwa solusi untuk Yaman tidak sepenuhnya bergantung pada Tehran, tetapi pada Sanaa. Saudi menyadari bahwa jalan keluar dari Yaman harus melalui negosiasi langsung dengan Houthi, bukan melalui tekanan pada Iran. Sejak 2022, Saudi dan Houthi telah terlibat dalam negosiasi yang difasilitasi Oman, mencapai gencatan senjata yang rapuh tetapi belum mencapai kesepakatan perdamaian komprehensif.

Yang memperumit situasi adalah bahwa Yaman kini terfragmentasi menjadi berbagai pusat kekuasaan: Houthi di utara, Presidential Leadership Council (pemerintah yang diakui internasional) di beberapa wilayah, Southern Transitional Council (STC) yang didukung UEA menguasai seluruh selatan dan memiliki ambisi separatis, serta Al-Qaeda yang masih aktif. Masing-masing faksi memiliki patron regional berbeda dan agenda politik berbeda, membuat proxy war berlapis dan sangat kompleks.

Pelajaran Geopolitik dari Proxy War Yaman

Konflik Yaman mengajarkan beberapa pelajaran penting tentang dinamika proxy war di Timur Tengah. Pertama, proxy war adalah strategi kekuatan regional untuk menghindari konfrontasi langsung sambil memajukan kepentingan strategis mereka. Saudi dan Iran tidak pernah berperang langsung, tetapi mereka telah bertarung melalui proxy di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman selama lebih dari empat dekade.

Kedua, framing sektarian adalah instrumen, bukan akar konflik. Meskipun rivalitas Saudi-Iran sering digambarkan sebagai pertarungan Sunni vs Syiah, para ahli sepakat bahwa ini adalah kompetisi geopolitik dan nasionalis yang mengeksploitasi identitas sektarian untuk mobilisasi. Realitas di lapangan lebih kompleks: Houthi adalah Zaidi yang secara teologis berbeda dari Syiah Iran, dan mereka telah merekrut dan bersekutu dengan Sunni Yaman.

Ketiga, intervensi eksternal cenderung memperdalam dan memperpanjang konflik domestik. Yaman dimulai sebagai perang sipil internal, tetapi intervensi Saudi dan dukungan Iran mengubahnya menjadi konflik regional berkepanjangan yang jauh lebih destruktif. Keempat, proxy tidak selalu dapat dikendalikan sepenuhnya oleh sponsor mereka. Houthi telah menunjukkan kemampuan untuk bertindak independen dari Iran, menunjukkan bahwa hubungan patron-proxy lebih kompleks dari yang sering diasumsikan.

Kelima, proxy war menciptakan penderitaan kemanusiaan yang tidak proporsional bagi populasi lokal. Rakyat Yaman yang menjadi korban terbesar dari permainan kekuasaan regional. Keenam, resolusi proxy war memerlukan kombinasi diplomasi regional, negosiasi lokal yang inklusif, dan penanganan akar masalah domestik—bukan hanya tekanan pada sponsor eksternal.

Masa Depan Yaman: Perdamaian atau Fragmentasi?

Gencatan senjata sejak 2022 memberikan harapan, tetapi perdamaian komprehensif masih jauh. Negosiasi Saudi-Houthi terus berlanjut, tetapi tanpa melibatkan semua faksi domestik Yaman—terutama PLC dan STC—kesepakatan apapun akan rapuh. STC kini menguasai seluruh Yaman Selatan dan mengancam untuk mendeklarasikan kemerdekaan, yang akan mengembalikan Yaman ke konfigurasi dua negara seperti sebelum 1990. Ini menciptakan ketegangan baru antara Saudi dan UEA, dua sekutu yang kini memiliki kepentingan berbeda di Yaman.

Skenario terbaik adalah kesepakatan politik inklusif yang mengakomodasi semua faksi, disertai dengan rekonstruksi ekonomi masif dan reformasi tata kelola. Skenario terburuk adalah fragmentasi permanen Yaman menjadi beberapa entitas yang dikuasai oleh patron regional berbeda, dengan konflik sporadis yang berlanjut. Skenario paling mungkin adalah status quo yang rapuh—gencatan senjata yang tidak stabil dengan pelanggaran berkala, proses politik yang mandek, dan krisis kemanusiaan yang terus berlanjut.

Yang jelas adalah bahwa Yaman akan terus menjadi barometer rivalitas regional di Timur Tengah. Selama Saudi dan Iran terus berkompetisi untuk pengaruh, selama proxy war tetap menjadi instrumen kebijakan luar negeri mereka, dan selama komunitas internasional gagal memberikan tekanan untuk resolusi damai, rakyat Yaman akan terus membayar harga dari permainan geopolitik yang tidak mereka mulai dan tidak bisa mereka hentikan.

Sumber

International Organization for Migration (IOM). (2025). "IOM Chief Sounds Alarm as Yemen Marks a Decade of War and Humanitarian Despair." IOM News, 26 March 2025.https://www.iom.int/news/iom-chief-sounds-alarm-yemen-marks-decade-war-and-humanitarian-despair

International Rescue Committee (IRC). (2025). "A Decade of Conflict in Yemen: Humanitarian Lifeline on the Brink." IRC Press Release, 26 March 2025.https://www.rescue.org/press-release/decade-conflict-yemen-humanitarian-lifeline-brink-warns-irc

Council on Foreign Relations. (2025). "Conflict in Yemen and the Red Sea." Global Conflict Tracker. https://www.cfr.org/global-conflict-tracker/conflict/war-yemen