Konten dari Pengguna

Biaya Hidup dan Gaya Hidup: Memahami Dua Hal yang Berbeda

Fahmi Fadi, SH

Fahmi Fadi, SH

Founder Scriptumluris.id

·waktu baca 7 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Fadi, SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: https://gemini.google.com/39d2ed54-f45c-4626-b11d-4ece850a6194
zoom-in-whitePerbesar
Foto: https://gemini.google.com/39d2ed54-f45c-4626-b11d-4ece850a6194

Perdebatan mengenai biaya hidup dan gaya hidup ramai di media sosial setelah Greenpeace Indonesia membentangkan spanduk raksasa di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta pada 20 Oktober 2026. Salah satu pesan yang disampaikan adalah “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup”.

Aksi tersebut memicu diskusi mengenai kondisi ekonomi masyarakat. Sebagian orang menyoroti kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari, sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa kesulitan keuangan juga dapat disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sesuai dengan kemampuan pendapatan.

Keduanya memang memiliki hubungan dengan kondisi keuangan seseorang, tetapi biaya hidup dan gaya hidup bukanlah hal yang sama. Mencampuradukkan keduanya dapat membuat kita terlalu cepat menyalahkan individu tanpa memahami persoalan ekonomi yang lebih luas.

Biaya Hidup Berbeda dengan Gaya Hidup

Biaya hidup adalah pengeluaran yang diperlukan seseorang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, tempat tinggal, listrik, air, transportasi, kesehatan, dan pendidikan. Besarnya pengeluaran tersebut dapat berbeda bergantung pada lokasi tempat tinggal, jumlah anggota keluarga, harga barang, serta kebutuhan masing-masing orang.

Sedangkan gaya hidup berkaitan dengan cara seseorang menjalani kehidupan, termasuk kebiasaan konsumsi, pilihan hiburan, aktivitas sosial, dan barang yang dibeli berdasarkan preferensi pribadi. Misalnya seseorang membutuhkan makanan setiap hari, tetapi pilihan untuk membeli makanan di restoran mahal dibandingkan memasak sendiri dapat menjadi bagian dari gaya hidup, bergantung pada kondisi dan kebutuhannya.

Begitu pula dengan transportasi. Ongkos perjalanan untuk bekerja merupakan bagian dari biaya hidup, tetapi keputusan membeli kendaraan yang jauh lebih mahal daripada yang dibutuhkan dapat berkaitan dengan preferensi atau gaya hidup.

Batas antara kebutuhan dan keinginan tidak selalu sederhana. Membeli kopi di kafe, misalnya tidak otomatis menunjukkan seseorang memiliki gaya hidup berlebihan. Begitu pula dengan membeli pakaian yang lebih bagus atau sesekali menikmati hiburan. Semua itu perlu dilihat berdasarkan kemampuan ekonomi dan konteks masing-masing.

Jadi, persoalannya bukan setiap pengeluaran diluar kebutuhan paling dasar harus dihindari. Yang perlu diperhatikan adalah apakah pengeluaran tersebut sesuai dengan kemampuan keuangan dan tidak mengorbankan kebutuhan yang lebih penting.

Tidak Semua Kesulitan Keuangan Berasal dari Gaya Hidup

Salah satu hal yang perlu dikritisi dalam perdebatan ini adalah kecenderungan untuk menganggap seseorang kesulitan memenuhi kebutuhan karena tidak mampu mengatur pengeluaran.

Memang kebiasaan konsumtif dapat memperburuk kondisi keuangan. Seseorang yang terus membeli barang di luar kemampuannya, menggunakan utang untuk memenuhi keinginan, atau tidak memiliki perencanaan keuangan berisiko mengalami masalah finansial, tetapi tidak semua orang yang kesulitan menabung atau memenuhi kebutuhan sehari-hari mengalami persoalan yang sama.

Bayangkan seseorang yang menerima upah bulanan, harus membayar kontrakan, membeli bahan makanan, membayar transportasi untuk bekerja, dan memenuhi kebutuhan keluarganya. Jika sebagian besar pendapatannya sudah habis untuk kebutuhan tersebut, masalahnya belum tentu terletak pada gaya hidup.

Dalam situasi seperti itu anjuran untuk berhenti membeli kopi, mengurangi hiburan, atau lebih berhemat mungkin membantu mengurangi sebagian pengeluaran. Akan tetapi langkah tersebut tidak otomatis menyelesaikan persoalan ketika pendapatan memang tidak sebanding dengan biaya kebutuhan dasar.

Kita perlu membedakan antara orang yang mengalami kesulitan karena pengeluaran konsumtif dan orang yang sudah berusaha hidup hemat tetapi tetap kesulitan memenuhi kebutuhan. Keduanya tidak bisa diperlakukan dengan nasihat yang sama.

Mengelola keuangan pribadi memang penting, tetapi kemampuan mengelola uang tidak dapat menggantikan kebutuhan akan pendapatan yang layak, harga kebutuhan yang terjangkau, serta akses terhadap tempat tinggal dan layanan publik.

Perdebatan Ini Tidak Bisa Dilepaskan dari Krisis Iklim

Pesan Greenpeace di Bundaran HI sebenarnya tidak membahas pengeluaran rumah tangga. Aksi tersebut juga menyoroti hubungan antara krisis iklim, bencana ekologis, dan kondisi ekonomi masyarakat.

Dalam laporan bertajuk Besok Harga Naik! Gambaran Dampak Krisis Iklim dari Tempat Kerja, Meja Makan, dan Rumah, Greenpeace Indonesia memaparkan dampak krisis iklim berdasarkan riset terhadap delapan kelompok masyarakat di wilayah Jabodetabekjur, Bandung Raya, dan Yogyakarta Raya.

Sebagaimana dilaporkan NU Online Jakarta, sebanyak 41 persen responden melaporkan dampak terhadap pola konsumsi dan biaya pangan, 39 persen merasakan dampak terhadap produktivitas dan pendapatan, sedangkan 20 persen mengalami dampak pada akses tempat tinggal dan biaya transportasi.

Temuan tersebut menunjukan bahwa persoalan biaya hidup tidak selalu dapat dijelaskan melalui keputusan konsumsi pribadi. Kondisi lingkungan juga dapat memengaruhi pengeluaran dan kemampuan seseorang memperoleh penghasilan.

Bencana banjir, misalnya dapat merusak lahan pertanian, mengganggu distribusi barang, dan memengaruhi pasokan pangan. Cuaca ekstrem juga dapat menghambat pekerjaan di luar ruangan, termasuk pekerjaan yang pendapatannya bergantung pada aktivitas harian.

Dampaknya bisa berlapis, ketika sumber penghasilan terganggu sementara kebutuhan sehari-hari tetap harus dipenuhi, rumah tangga dapat mengalami tekanan keuangan yang semakin besar.

Dalam kondisi seperti ini meminta masyarakat mengubah gaya hidup saja jelas tidak cukup. Upaya mengurangi pengeluaran pribadi perlu berjalan bersama kebijakan yang mengatasi sumber persoalan, termasuk perlindungan terhadap kelompok rentan, penanganan bencana, dan pengendalian dampak krisis iklim.

Hemat Itu Penting, tetapi Tidak Menyelesaikan Semua Masalah

Menyusun anggaran, membatasi belanja impulsif, menghindari utang konsumtif, dan menyesuaikan pengeluaran dengan pendapatan merupakan langkah yang masuk akal. Kebiasaan tersebut dapat membantu seseorang mengelola uang secara lebih terencana.

Kita perlu berhati-hati agar nasihat keuangan pribadi tidak berubah menjadi cara untuk menyalahkan orang yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

Ada perbedaan antara mengatakan bahwa seseorang perlu memperbaiki kebiasaan belanjanya dan menganggap seluruh kesulitan finansial terjadi karena ia tidak bisa mengatur uang.

Pernyataan pertama dapat menjadi evaluasi yang berguna. Pernyataan kedua berisiko mengabaikan kenyataan bahwa harga kebutuhan, biaya tempat tinggal, upah, ketersediaan pekerjaan, dan kondisi lingkungan turut memengaruhi kehidupan seseorang.

Tidak semua orang memiliki ruang yang sama untuk berhemat. Bagi sebagian rumah tangga, mengurangi pengeluaran hiburan mungkin masih memungkinkan, tetapi bagi mereka yang penghasilannya sudah habis untuk makan, tempat tinggal, dan transportasi, pilihan untuk memangkas pengeluaran bisa jauh lebih terbatas.

Pembahasan mengenai biaya hidup seharusnya tidak berhenti pada anjuran agar masyarakat hidup lebih sederhana. Kita juga perlu membicarakan bagaimana memastikan pendapatan cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Jangan Mengubah Persoalan Publik Menjadi Kesalahan Individu

Perdebatan biaya hidup dan gaya hidup menjadi kurang produktif ketika kedua istilah tersebut digunakan untuk saling menyalahkan. Orang yang mengeluhkan mahalnya kebutuhan sehari-hari tidak otomatis hidup boros dan orang yang mampu memenuhi kebutuhannya dengan nyaman juga tidak otomatis tidak memahami kesulitan orang lain.

Setiap orang memiliki kondisi ekonomi, tanggungan keluarga, dan kebutuhan yang berbeda. Kita sebaiknya tidak buru-buru menghakimi kondisi keuangan seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat dari kebiasaan konsumsinya.

Di sisi lain kritik terhadap kondisi ekonomi juga perlu disampaikan dengan argumentasi yang jelas. Kenaikan biaya hidup, misalnya, perlu dibahas dengan melihat perubahan harga, pendapatan, biaya tempat tinggal, transportasi, dan kebutuhan dasar lainnya.

Perdebatan tidak terjebak pada pertanyaan apakah seseorang terlalu sering membeli kopi atau terlalu banyak menghabiskan uang untuk hiburan. Kita dapat membahas persoalan yang lebih mendasar: apakah masyarakat memiliki penghasilan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan hidupnya?

Kebijakan publik juga perlu dinilai dari kemampuannya menjawab persoalan tersebut. Pemerintah perlu memperhatikan daya beli masyarakat, ketersediaan pekerjaan, akses terhadap layanan dasar, dan dampak bencana terhadap penghidupan warga.

Masyarakat memang memiliki tanggung jawab untuk mengelola keuangannya, tetapi pemerintah juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan masyarakat menjalani kehidupan secara layak.

Memahami Perbedaannya Membuat Kita Lebih Adil

Biaya hidup dan gaya hidup merupakan dua hal berbeda yang sama-sama memengaruhi kondisi keuangan seseorang. Gaya hidup berkaitan dengan pilihan dan kebiasaan konsumsi, sedangkan biaya hidup juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, harga kebutuhan, lokasi, serta berbagai faktor di luar kendali individu.

Kita tidak perlu mempertentangkan keduanya seolah-olah hanya ada satu penyebab kesulitan ekonomi. Ada orang yang memang perlu memperbaiki kebiasaan belanjanya, tetapi ada pula orang yang sudah berhemat dan tetap menghadapi tekanan karena pendapatannya terbatas.

Perdebatan yang muncul setelah aksi Greenpeace di Bundaran HI seharusnya menjadi kesempatan untuk memahami persoalan ini secara lebih utuh. Mengatur keuangan pribadi tetap penting, tetapi membicarakan biaya hidup juga berarti membahas upah, harga pangan, tempat tinggal, transportasi, pekerjaan, dan dampak krisis iklim terhadap kehidupan masyarakat.

Jangan sampai persoalan biaya hidup yang nyata justru dipersempit menjadi urusan gaya hidup masing-masing. Sebab masyarakat dapat belajar mengelola uang dengan lebih baik, tetapi mereka juga berhak menuntut kondisi ekonomi dan kebijakan publik yang memungkinkan kebutuhan dasarnya terpenuhi.