Politik Itu Dinamis, Masyarakat Jangan Terlalu Mengidolakan Tokoh

Founder Scriptumluris.id
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fahmi Fadi, SH tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Politik memiliki satu karakter yang sulit diabaikan, yaitu dinamis. Orang yang hari ini berada di satu posisi politik bisa saja besok berpindah posisi, berganti hubungan politik atau bahkan berada di sisi yang berbeda dari sebelumnya.
Masyarakat sebaiknya tidak terlalu mengkultuskan tokoh politik. Mengagumi pemikiran, rekam jejak, atau kebijakan seseorang tentu merupakan hal yang berbeda dengan menganggap seorang tokoh akan selalu berada pada posisi yang sama.
Perubahan politik dapat terjadi karena pergantian pemerintahan, perubahan koalisi, keputusan partai, kebutuhan pemerintahan, maupun berbagai pertimbangan lainnya.
Jabatan Politik Bisa Berubah
Contoh terbaru dapat dilihat dari perubahan susunan Dewan Pertimbangan Presiden atau Wantimpres. Pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantik 26 anggota Wantimpres di Istana Negara. Pratikno ditunjuk sebagai Ketua, Hatta Rajasa sebagai Wakil Ketua, dan Muhammad Qodari sebagai Sekretaris. Para anggota lainnya berasal dari berbagai latar belakang dan pengalaman.
Perubahan seperti ini merupakan bagian dari dinamika pemerintahan. Seseorang yang sebelumnya dikenal melalui posisi atau peran tertentu dapat kemudian mendapatkan amanah di posisi lain ketika konfigurasi pemerintahan berubah. Hal tersebut menunjukkan bahwa posisi dalam politik tidak selalu bersifat permanen.
Tokoh Politik Bukan Sesuatu yang Harus Dipuja
Dalam politik, masyarakat tentu bebas memiliki tokoh yang disukai, tetapi menyukai seorang tokoh tidak harus berarti membenarkan seluruh tindakan atau pernyataannya. Begitu pula ketika tidak menyukai seorang tokoh, bukan berarti semua kebijakan atau gagasannya otomatis buruk.
Ada baiknya seseorang tetap memberikan ruang untuk menilai berdasarkan tindakan dan kebijakan yang dilakukan pada suatu waktu. Sikap seperti ini membuat kita tidak terlalu terikat pada figur. Ketika seorang tokoh melakukan sesuatu yang sesuai dengan pandangan kita, kita dapat mengapresiasinya. Ketika ada kebijakan atau tindakan yang tidak sesuai, kita juga tetap dapat memberikan kritik.
Politik Tidak Selalu Berjalan Sesuai Ekspektasi Pendukung
Dinamika politik juga dapat mengubah hubungan antara tokoh dan pendukungnya. Seorang tokoh yang sebelumnya dianggap berada di luar pemerintahan dapat kemudian masuk ke dalam pemerintahan. Begitu pula tokoh yang sebelumnya memiliki posisi tertentu dapat kehilangan jabatan atau berpindah ke posisi lain.
Perubahan situasi seharusnya menjadi pengingat bahwa politik tidak berjalan seperti hubungan antara penggemar dan idolanya. Tokoh politik tetap merupakan manusia yang mengambil keputusan, membangun komunikasi politik, dan menjalankan kepentingan dalam konteks tertentu.
Jangan Menilai Politik Hanya dari Figur
Ketika terlalu berfokus pada tokoh, pembahasan politik bisa berubah menjadi persoalan siapa yang disukai dan siapa yang dibenci, padahal politik juga berkaitan dengan kebijakan, lembaga, aturan, anggaran, dan keputusan yang berdampak kepada masyarakat.
Penting untuk melihat apa yang sebenarnya dilakukan seorang pejabat setelah memperoleh jabatan. Apa kebijakannya? Apa keputusan yang dibuat? Apa dampaknya? Bagaimana ia menjalankan kewenangannya?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih sesuai untuk menilai kinerja politik daripada melihat apakah seseorang merupakan tokoh yang kita sukai.
Pendukung Boleh Berubah Pikiran
Salah satu hal yang sering dianggap aneh dalam politik adalah ketika seseorang berubah pandangan terhadap tokoh yang sebelumnya didukung. Berubah pikiran setelah melihat perkembangan baru merupakan hal yang wajar.
Dukungan politik bukan kontrak seumur hidup. Jika seseorang sebelumnya mendukung seorang tokoh karena program atau gagasan tertentu, kemudian menemukan fakta atau kebijakan yang berbeda dari harapannya, ia memiliki hak untuk mengevaluasi kembali pandangannya.
Begitu pula sebaliknya, seseorang yang sebelumnya tidak menyukai seorang tokoh dapat mengubah pandangan apabila menemukan kebijakan atau tindakan yang menurutnya sesuai dengan pertimbangannya.
Politik Hari Ini Belum Tentu Sama dengan Besok
Perubahan susunan Wantimpres yang baru dilantik menjadi salah satu contoh bahwa konfigurasi politik dan pemerintahan dapat berubah.
Bukan berarti perubahan jabatan tersebut harus dimaknai sebagai sesuatu yang baik atau buruk. Yang lebih penting adalah melihatnya sebagai bagian dari dinamika pemerintahan yang memang dapat terjadi. Masyarakat sebaiknya tidak terlalu menggantungkan pandangan politik pada figur tertentu.
Mengikuti politik dengan kritis bukan berarti harus membenci semua tokoh. Mendukung seorang tokoh juga tidak berarti harus membenarkan segala sesuatu yang dilakukannya.
Kesimpulannya, tokoh politik bisa berganti posisi, pemerintahan bisa berganti susunan, dan hubungan politik bisa berubah. Masyarakat tetap memiliki hak untuk menilai kembali setiap perkembangan berdasarkan fakta dan kebijakan yang ada. Politik memang dinamis, jangan terlalu mendewakan tokoh sampai lupa bahwa yang perlu diperhatikan adalah apa yang dilakukannya.
