Aleksander Ceferin Tutup Peluang Jadi Presiden FIFA Baru

Ilustrasi bleachers, soccer field, stadium. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bleachers, soccer field, stadium. Foto: Pixabay

Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, secara resmi menyatakan tidak akan mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA pada kongres mendatang. Keputusan ini diambil di tengah badai kritik yang sedang menerpa Presiden FIFA saat ini, Gianni Infantino, akibat rencana kontroversial penjualan hak komersial kompetisi sepak bola global ke investor swasta yang akhirnya dibatalkan.

Meskipun menolak maju, Ceferin meyakini bahwa kepemimpinan Infantino berada di ujung tanduk. Blok oposisi yang kuat, dipimpin oleh negara-negara Eropa, diperkirakan akan memunculkan kandidat penantang kuat untuk melengserkan pria asal Swiss tersebut karena dinilai telah mencederai integritas sepak bola demi kepentingan finansial semata.

Alasan Ceferin Enggan Menggeser Gianni Infantino

Ceferin, yang kini berusia 57 tahun, sebenarnya dipandang banyak pihak sebagai sosok paling ideal untuk menantang Infantino. Namun, dalam sebuah siniar The Rest is Politics, ia menegaskan ada dua alasan utama di balik penolakannya. Pertama, ia sangat mencintai pekerjaannya di UEFA dan merasa sudah saatnya menikmati hidup. Kedua, ia menilai kredibilitasnya akan jauh lebih tinggi di mata publik jika ia tidak memiliki ambisi pribadi terhadap jabatan tertinggi di badan sepak bola dunia tersebut.

Di sisi lain, Ceferin memprediksi Infantino akan menghadapi jalan buntu untuk mempertahankan kekuasaannya pada pemilihan Maret 2027. Ia menilai Infantino kini telah kehilangan legitimasi politik tidak hanya dari pemilik suara, melainkan juga dari komunitas sepak bola yang lebih luas. “Satu pilihan adalah dia menyadari bahwa dia tidak memiliki dukungan, dan itu bukan hanya dukungan politik dari mereka yang memilih, tetapi dukungan politik dari komunitas sepak bola, pendukung, pemain, mantan pemain, dan pelatih,” ungkap Ceferin. Jika Infantino tetap memaksakan diri maju, Ceferin meyakini akan ada kandidat kuat lain yang siap menjegal langkahnya.

Rencana Penjualan FIFA Lebih Buruk dari Super League

Hubungan antara UEFA dan FIFA merenggang drastis akibat proposal pembentukan Fifa Forward Enterprise (FFE). Rencana ini bertujuan menjual 21 persen saham hak komersial dan tiket seluruh kompetisi FIFA kepada perusahaan investasi swasta. Ceferin mengungkapkan kekecewaannya karena UEFA baru mengetahui rencana tersebut dari media saat dirinya sedang berlibur, tanpa adanya komunikasi langsung dari pihak FIFA.

Ceferin bahkan tidak ragu menyebut rencana privatisasi ini jauh lebih merusak dibandingkan proyek European Super League yang sempat memicu kemarahan publik pada 2021 lalu. Menurutnya, jika Super League hanya merusak tatanan kompetisi karena keangkuhan klub-klub kaya, maka proyek FFE milik Infantino setara dengan menjual sepak bola secara harfiah kepada korporasi. “Saya sangat yakin bahwa rencana itu sudah mati. Sulit membayangkan orang seperti apa yang tega menjual olahraga yang merupakan milik semua orang. Kami tidak akan membiarkan hal itu terjadi,” tegas Ceferin.

Hilangnya Kepercayaan Global dan Kontroversi Donald Trump

Penolakan terhadap Infantino terus meluas dari berbagai asosiasi sepak bola di seluruh dunia, termasuk dari empat negara Britania Raya (home nations). Mereka menuduh Infantino telah merusak kepercayaan publik lewat tindakan manipulatif. Meskipun Infantino masih mengantongi dukungan dari konfederasi sepak bola Amerika Selatan (Conmebol) dan Afrika (Caf), upaya bergerilya mencari dukungan publik di berbagai negara akhir-akhir ini dinilai tidak cukup untuk memulihkan citranya yang terlanjur rusak.

Situasi semakin diperparah oleh intervensi politik yang melibatkan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ceferin mengecam keras pengakuan Trump yang secara pribadi menghubungi Infantino untuk membatalkan sanksi kartu merah penyerang AS, Folarin Balogun, di Piala Dunia. Bagi Ceferin, intervensi tersebut sangat mengejutkan dan merusak nilai sportivitas. “Bagi kami sebagai penggemar sepak bola, atau sebagai badan pengatur, hal itu sangat mengejutkan. Percayalah, hampir semua orang terkejut, hanya saja tidak semua orang berani berbicara,” pungkasnya.