Nasi Lengko, Rasa Pulang yang Membuat Makanan Sederhana Terasa Istimewa

Master Student In Tourism Indonesia University Of Education
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Tarisah Ainahaque Yuda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada makanan yang kalau dilihat sekilas terasa biasa saja, tapi anehnya selalu bikin kangen. Buat sebagian orang Cirebon, nasi lengko mungkin salah satunya. Sepiring nasi putih, irisan tempe dan tahu goreng, timun segar, tauge, lalu disiram bumbu kacang. Tidak ada yang mengejutkan, tapi begitu piringnya sampai di meja, ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan, seperti pulang.
Saya jadi bertanya-tanya, apa yang sebenarnya membuat makanan sesederhana ini terasa istimewa? Tulisan ini cerita sekaligus opini saya, jadi baca saja seperti sedang ngobrol.
Cerita di Balik Nama "Lengko"
Kalau ditanya dari mana nama "lengko" berasal, ternyata jawabannya tidak tunggal. Ada yang bilang kata itu datang dari "langka", mengingatkan pada masa setelah kemerdekaan ketika bahan makanan sulit didapat dan orang mengolah apa yang ada. Ada juga yang mengaitkannya dengan kata "lekoh" yang berarti kental, sesuai dengan bumbu kacangnya. Sebagian lagi menganggap "lengko" singkatan dari lengkap dan ekonomis. Yang terakhir ini sebetulnya baru dugaan, belum ada yang bisa memastikan.
Yang cukup jelas, nasi lengko diakui berasal dari Cirebon. Dari sana ia dibawa ke daerah lain, termasuk Indramayu, oleh para pedagang yang kemudian menyesuaikannya sedikit sesuai selera setempat. Itu sebabnya versi Cirebon dan Indramayu punya perbedaan kecil. Di Cirebon, nasi lengko biasanya ditemani telur dadar dan daun kucai, sementara di Indramayu lebih sering memakai telur rebus dan dage, tempe dari fermentasi ampas.
Buat saya, asal-usul yang tidak tunggal ini justru menarik. Nasi lengko seperti makanan yang tumbuh dari kebutuhan sehari-hari, lalu pelan-pelan menjadi milik banyak orang.
Seperti Apa Rasa dan Teksturnya?
Kalau kamu duduk di warungnya, penjual biasanya mulai dari nasi hangat di piring. Di atasnya disusun tempe dan tahu yang sudah digoreng, irisan timun, dan tauge. Lalu bumbu kacang disiramkan di atasnya, ditaburi bawang goreng, dan ditambah kecap. Kadang ada telur dadar dan daun kucai di Cirebon.
Suapan pertamanya terasa seimbang. Ada gurih dari bumbu kacang, manis dari kecap, dan sedikit pedas kalau kamu minta sambal. Bumbu kacangnya jadi bintang utama, dan menariknya, karakternya berbeda di tiap warung. Ada yang kental dan pekat, ada yang lebih ringan dan lebih encer. Karena itu orang sering punya warung favorit masing-masing.
Soal tekstur, di sinilah menyenangkannya. Timun dan tauge memberi rasa segar dan renyah, tempe dan tahu goreng memberi gurih yang lebih padat, sementara nasi putihnya lembut dan menyerap bumbu. Taburan bawang goreng menambah renyah di akhir. Semua bertemu dalam satu suapan dan rasanya ringan tapi mengenyangkan. Biasanya dilengkapi kerupuk atau gorengan seperti perkedel dan peyek, sesuai selera.
Yang Kita Makan Bukan Cuma Makanannya
Dalam perilaku konsumen, kita sering membahas harga, rasa, dan kualitas. Padahal ada hal lain yang ikut kita beli tanpa sadar, yaitu perasaan. Satu suapan makanan tertentu bisa membawa kita ke dapur rumah, ke warung dekat sekolah, atau ke pagi hari bersama keluarga.
Dugaan saya, makanan sederhana punya keuntungan di sini. Karena sudah dimakan sejak kecil dan hampir semua orang punya cerita dengannya, kenangan menempel lebih kuat. Orang jarang punya kenangan mendalam tentang makanan mewah yang hanya dimakan setahun sekali.
Ada tiga cara kenangan membuat nasi lengko terasa istimewa, menurut saya.
Pertama, ia mengingatkan pada rumah. Bagi yang merantau, sepiring nasi lengko bisa jadi obat kangen. Rasanya mungkin mirip dengan yang lain, tapi maknanya berbeda.
Kedua, ia mengingatkan pada orang. Sarapan bersama ibu, nongkrong dengan teman sekolah, atau makan sebelum berangkat kerja bareng bapak. Makanannya menjadi penanda orang-orang yang pernah ada di sekitar kita.
Ketiga, ia mengingatkan pada waktu. Rasa tertentu bisa membuat kita merasa kembali ke masa yang lebih sederhana. Itulah sebabnya orang rela mencari warung lama hanya untuk merasakan suasana yang sama.
Kenapa Kita Rela Mencari yang Itu-Itu Saja?
Perilaku konsumen yang menarik adalah kita sering tidak mencari makanan yang paling enak, tapi yang paling terasa "benar". Kalau bumbu kacang di warung langganan terasa berbeda dari ingatan kita, kita bisa langsung merasa ada yang kurang, walaupun orang lain mungkin menganggapnya enak.
Ini menjelaskan kenapa makanan tradisional sulit digantikan. Tampilan boleh berubah dan kemasan boleh diperbarui, tapi rasa yang dikenang itu seperti janji. Kalau janjinya berubah, kenangannya ikut terasa hilang.
Jadi, Sederhana Bisa Istimewa?
Bisa. Dan menurut saya, istimewanya makanan sederhana justru terletak pada kenangan yang diam-diam menempel padanya. Nasi lengko mungkin tidak tampil megah, tapi ia menyimpan pagi-pagi yang kita ingat.
Buat pelaku usaha, pelajarannya: jaga rasa yang dikenang orang, dan beri ruang untuk cerita. Orang tidak hanya membeli seporsi makanan, mereka membeli rasa pulang.
Kalau kamu, makanan sederhana apa yang paling bikin kamu kangen rumah?
