Konten dari Pengguna

Asri dan Hati yang Terlambat Memahami

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tawalla Aisy tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Editing by: Tawalla Aisy
zoom-in-whitePerbesar
Editing by: Tawalla Aisy

Pernahkah kalian merasa sudah cukup mengenal seseorang, tetapi setelah lebih dekat, ternyata perangainya jauh berbeda dari yang selama ini kalian ketahui? Terkadang, kesan pertama membuat kita percaya bahwa seseorang memiliki sifat tertentu, padahal kita belum benar-benar mengenalnya. Hal inilah yang tergambar dalam novel Salah Pilih karya Nur Sutan Iskandar melalui tokoh Asri, seorang pemuda terpelajar yang keliru dalam menilai pasangan hidupnya.

Novel yang diterbitkan oleh Balai Pustaka pada 1928 ini, tidak hanya menceritakan masalah cinta biasa, tetapi juga memperlihatkan pertentangan antara keinginan pribadi, adat, dan harapan keluarga. Dari perjalanan Asri, dapat muncul pertanyaan: apakah seseorang yang berpendidikan akan selalu mampu mengambil keputusan hidup dengan bijaksana?

Asri Tidak Sepenuhnya Sempurna

Asri adalah sosok pemuda yang digambarkan menyenangkan, terpelajar, ramah, dan berbudi halus. Sifat-sifat tersebut membuatnya tampak sebagai pemuda yang ideal, terutama jika dilihat dari pandangan masyarakat pada zamannya. Namun, bagi sebagian orang yang memegang teguh adat, Asri dianggap "kurang adat" karena memandang aturan yang berlaku di kampungnya terlalu kaku dan kuno.

Sikap tersebut memperlihatkan bahwa Asri bukanlah sosok yang sepenuhnya mengikuti pandangan masyarakat di sekitarnya. Ia memiliki pemikiran sendiri dan berani mempertanyakan aturan yang dianggapnya tidak lagi sesuai. Di satu sisi, sikap ini dapat dilihat sebagai bentuk keterbukaan terhadap perubahan. Namun, di sisi lain, perbedaan pandangan tersebut juga menempatkan Asri dalam pertentangan dengan lingkungan tempat ia dibesarkan.

Karakter Asri ini menarik, bukan karena ia memiliki sifat yang baik, tapi justru karena kekeliruannya dalam mengambil keputusan. Ia memiliki bekal untuk berpikir, tetapi belum tentu dapat selalu melakukan pertimbangan yang tepat dalam menentukan arah hidupnya.

Kesalahan Berpikir atas Saniah

Salah satu bagian penting dalam cerita adalah keputusan Asri menikahi Saniah. Saniah adalah seorang gadis rupawan dari keluarga bangsawan. Sebelum menikahi Saniah, Asri justru lebih dulu tertarik kepada kakaknya, Rusiah, yang dikenal berperangai baik. Karena mengenal Rusiah sebagai perempuan yang baik, Asri kemudian mengira bahwa Saniah juga memiliki perangai serupa.

Namun, anggapan tersebut ternyata keliru. Setelah menikah, Asri justru menghadapi sikap Saniah yang kasar dan sombong.

"...selama ini belum nyata sedikit jua kepadaku, bahwa engkau berfiil sekasar dan seburuk ini! Sekarang aku hendak bertanya, di manakah tinggalnya tingkah lakumu yang lemah lembut, yang kerap kali kauperlihatkan kepadaku semasa kita bertunangan?..."

Kutipan tersebut memperlihatkan kekecewaan Asri karena perilaku Saniah setelah menikah tidak sesuai dengan kesan yang ia miliki sebelumnya. Akan tetapi, persoalannya bukan hanya terletak pada sikap Saniah. Keputusan Asri juga patut dipertanyakan, apakah ia sudah sungguh-sungguh mengenal orang yang hendak dijadikan pasangan hidupnya?

Memilih pasangan dari keluarga terpandang bukan suatu kesalahan, akan salah ketika faktor ini menjadi bahan pertimbangan utama dan mengesampingkan kecocokan karakter.

Asnah sebagai Pilihan yang Tepat

Berbeda dengan Saniah, Asnah merupakan sosok yang telah lama dekat dengan kehidupan Asri. Keduanya tumbuh bersama dalam keluarga Mariati, ibu Asri. Namun, kedekatan tersebut tidak membuat hubungan mereka mudah berkembang menjadi hubungan cinta karena Asnah berada dalam posisi sebagai anak angkat, sementara adat yang berlaku tidak membenarkan perasaan cinta Asnah tersebut.

Asnah yang menyimpan perasaan kepada Asri, harus menghadapi kenyataan bahwa Asri menikahi Saniah. Keadaan ini membuat Asnah berada dalam posisi yang menyakitkan. Meskipun demikian, Asnah tetap menghadapi keadaan tersebut dengan keteguhan hati.

Pengalaman dalam rumah tangganya bersama Saniah membuat Asri menyadari perasaannya kepada Asnah. Setelah Saniah meninggal dunia karena kecelakaan, Asri mulai memperjuangkan hubungannya dengan Asnah yang sebelumnya terhalang oleh kedudukan serta aturan adat.

"...Aku mesti kawin dengan Asnah, - itu tetap sudah. Akan tetapi tidak di negeri kita ini. Aku sudah minta berhenti dari pekerjaanku..." "...dan sekalian urusan hartaku telah kuserahkan belaka kepada Makcik Liah..."

Asri rela meninggalkan pekerjaan dan harta bendanya serta pergi ke Jawa demi dapat menikahi Asnah. Tindakan ini memperlihatkan kesungguhannya dalam memperjuangkan hubungan mereka. Jika sebelumnya keputusan Asri berujung pada penyesalan, kali ini ia menunjukkan keberanian untuk mengambil risiko demi pilihannya sendiri.

Bukan Sekadar Salah Memilih Pasangan

Melalui hubungan Asri dengan Saniah dan Asnah, novel Salah Pilih memberikan gambaran bahwa karakter seseorang dapat terlihat lebih jelas melalui keputusan dan hubungannya dengan orang lain. Asri yang terpelajar dan berbudi halus ternyata tetap dapat keliru dalam menilai calon pasangan. Saniah memperlihatkan bagaimana kesombongan dapat memperburuk hubungan, sedangkan Asnah menunjukkan keteguhan hati dalam menghadapi kehidupan yang tidak sesuai keinginan.

Asri memperlihatkan bahwa kesalahan tidak selalu muncul karena seseorang tidak memiliki pengetahuan atau kemampuan berpikir. Terkadang, seseorang keliru karena membuat penilaian berdasarkan anggapan yang belum tentu benar atau karena belum memahami sepenuhnya konsekuensi dari keputusan yang diambilnya.