Imperium Pengetahuan Tidak Dibangun dari Panggung

Praktisi dan Akademisi Seni, Universitas Syiah Kuala
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Ari J Palawi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Saatnya melakukan radical break: mengubah ruang menjadi ekosistem gagasan, teknologi menjadi alat penciptaan, dan institusi menjadi penggerak pengetahuan.
Dalam tulisan sebelumnya, Dari Rocky Gerung hingga Brian Yuliarto: Membangun Imperium Pengetahuan dari Peradaban Sendiri, saya mengajak kita memikirkan kemandirian pengetahuan. Kini, ada pertanyaan lanjutan: sudahkah kita membangun lingkungan yang memungkinkan pengetahuan itu tumbuh?
Kita punya gedung, auditorium, perpustakaan, laboratorium, studio, dan teknologi. Kita juga punya banyak orang berpendidikan dan berpengalaman. Namun, apakah semua itu sudah menghasilkan kehidupan intelektual yang sepadan?
Imperium pengetahuan tidak lahir dari banyaknya fasilitas atau meriahnya acara. Ia tumbuh ketika masyarakat mampu berpikir, mencipta, menguji gagasan, dan mengembangkan pengetahuan sendiri.
Perguruan tinggi seharusnya menjadi salah satu pusat pertumbuhan itu. UU Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, Pasal 58, menegaskan peran universitas sebagai wadah pembelajaran mahasiswa dan masyarakat, pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengembangan peradaban.
Karena itu, fasilitas kampus perlu melayani lebih dari urusan administrasi dan kegiatan resmi. Auditorium, galeri, perpustakaan, dan studio dapat menjadi tempat diskusi, debat akademik, bedah buku, pertunjukan seni, eksperimen teknologi, serta pertemuan lintas generasi.
Saya tidak menolak universitas mencari pendapatan dari fasilitasnya. Kemandirian finansial tetap penting. Namun, kemampuan membayar tidak boleh menjadi satu-satunya penentu akses. Kegiatan akademik, komunitas pengetahuan, dan kebudayaan juga membutuhkan ruang yang terjangkau.
Michael J. Sandel, dalam What Money Can't Buy (2012), mengingatkan bahwa logika pasar tidak selalu cocok untuk mengatur setiap bidang kehidupan. Gagasan ini relevan bagi perguruan tinggi: pendapatan penting, tetapi nilai pendidikan dan kepentingan publik tidak boleh tersisih.
Kita juga perlu mengevaluasi budaya penyelenggaraan kegiatan. Penghormatan kepada pimpinan dan tamu merupakan bagian dari adab. Namun, protokoler yang terlalu panjang dapat mengambil waktu dari diskusi dan substansi. Kehadiran pejabat bukan ukuran keberhasilan sebuah forum. Kualitas gagasan dan manfaatnya jauh lebih penting.
Di sinilah kritik terhadap elitisme menjadi relevan. Hilmar Farid mengajak kita melihat siapa yang memperoleh tempat dalam produksi dan pencatatan pengetahuan. Taufik Damas mengingatkan bahaya menjadikan intelektualitas sekadar aksesori untuk memperoleh pengakuan. Kita perlu menghargai kepakaran tanpa menutup ruang bagi pengalaman dan pengetahuan masyarakat.
Lalu, apa yang bisa kita lakukan?
UNESCO melalui Recommendation on Open Science (2021) mendorong keterbukaan pengetahuan, kolaborasi, dan keterlibatan masyarakat. Prinsip ini dapat kita terapkan melalui program ruang pengetahuan terbuka. Kampus menyediakan waktu dan fasilitas bagi komunitas, peneliti muda, seniman, dan masyarakat untuk berdiskusi, bereksperimen, serta menghasilkan karya. Tarif berjenjang dapat menjaga keberlanjutan finansial sekaligus memperluas akses.
University of Edinburgh di Skotlandia memberi contoh menarik. Melalui program Community Access to Rooms, universitas membuka ruang yang tidak terpakai pada malam hari dan akhir pekan bagi kelompok masyarakat. Model ini menunjukkan bahwa pengelolaan fasilitas dapat menggabungkan efisiensi ekonomi dan manfaat sosial.
Teknologi perlu memperkuat inisiatif tersebut. Kecerdasan buatan dapat membantu merekam diskusi, menyusun transkrip, menerjemahkan materi, mengelola arsip, dan memperluas akses pengetahuan. Namun, setiap investasi teknologi harus disertai operator kompeten, pelatihan, dan pemeliharaan. Jangan sampai perangkat canggih hanya menjadi daftar pengadaan tanpa manfaat nyata.
Kita juga perlu mengubah ukuran keberhasilan kegiatan. Hitung bukan hanya jumlah acara dan tamu, tetapi juga gagasan, karya, publikasi, kolaborasi, serta kemampuan baru yang dihasilkan. Dokumentasikan setiap proses agar pengetahuan tidak berhenti ketika acara selesai.
Inilah radical break yang saya maksud: memutus kebiasaan yang menempatkan kemeriahan di atas substansi, jabatan di atas kontribusi, dan pengadaan di atas keberlanjutan. Kita tidak perlu membuang tradisi, menolak pendapatan, atau menghapus penghormatan. Kita hanya perlu mengembalikan semuanya kepada tujuan yang lebih bermakna.
Kita tidak kekurangan panggung. Kita membutuhkan lebih banyak ruang yang menghidupkan gagasan. Bukan sekadar tempat orang tampil dan mendapat pengakuan, tetapi tempat orang belajar, berbeda pendapat, bereksperimen, dan menciptakan sesuatu bersama. Di situlah pengetahuan tumbuh, generasi baru menemukan kemampuannya, dan peradaban memperoleh masa depan.
