Konten dari Pengguna

Sebulan Mencatat Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta, Ini yang Saya Pelajari

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Terry Djony tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejumlah penumpang membawa barang bawaan setibanya di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten, Kamis (3/4/2025). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah penumpang membawa barang bawaan setibanya di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Banten, Kamis (3/4/2025). Foto: Putra M. Akbar/ANTARA FOTO

Setiap kali memesan tiket pesawat, saya dulu hanya melakukan satu hal: mengurutkan dari harga termurah. Jam keberangkatan nyaris tidak pernah saya pikirkan, selama masih masuk akal. Sampai suatu hari, penerbangan sore saya dari Bandara Soekarno-Hatta mundur berjam-jam dan rencana saya hari itu berantakan.

Sejak itu saya penasaran: apakah keterlambatan itu sekadar nasib buruk, atau ada polanya? Sebagai programmer, cara paling masuk akal bagi saya untuk menjawabnya adalah mengumpulkan datanya sendiri.

Mencatat ribuan penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta

Selama sebulan, dari 23 September hingga 22 Oktober 2026, saya mencatat jadwal dan waktu keberangkatan sebenarnya dari lebih dari 16.000 penerbangan di Soekarno-Hatta, menggunakan situs informasi bandara yang saya bangun, jakartaairportcgk.com. Saya menghitungnya tepat waktu bila pesawat berangkat tidak lebih dari 15 menit dari jadwal.

Pertanyaan saya sederhana: sebagai penumpang, adakah yang bisa kita lakukan sejak memesan tiket agar tidak terjebak keterlambatan?

Pagi hari, Cerita yang Berbeda

Jawabannya ternyata cukup jelas. Penerbangan yang dijadwalkan berangkat pukul 05.00–06.59 WIB tercatat sekitar dua kali lebih sering tepat waktu dibandingkan penerbangan pukul 11.00–15.59 WIB.

Penerbangan pagi di Bandara Soekarno-Hatta lebih sering tepat waktu. Sumber: data diolah penulis.

Polanya konsisten sepanjang bulan: makin siang, makin besar peluang terlambat. Setelah dipikir, ini masuk akal. Pesawat yang sama terbang beberapa kali sehari, jadi keterlambatan kecil di pagi hari ikut terbawa dan menumpuk hingga sore. Penerbangan pertama di pagi hari belum menanggung "utang waktu" itu.

Yang juga menarik bagi saya, penerbangan internasional secara umum lebih sering tepat waktu dibandingkan penerbangan domestik. Di antara maskapai domestik dengan penerbangan terbanyak, AirAsia Indonesia dan Pelita Air paling sering berangkat tepat waktu selama periode itu, disusul Citilink.

Mengapa Ini Penting Menjelang Nataru

Menurut saya, temuan ini paling berguna justru sekarang, ketika banyak orang mulai memesan tiket untuk libur akhir tahun. Tahun lalu, Bandara Soekarno-Hatta melayani lebih dari 3,5 juta penumpang selama masa Natal dan Tahun Baru. Di musim sepadat itu, keterlambatan satu atau dua jam bisa berarti tertinggal penerbangan lanjutan atau membuat keluarga menunggu lama di kampung halaman.

Selisih harga tiket pagi dan siang sering kali tidak seberapa. Tetapi selisih peluang tiba tepat waktunya, berdasarkan data yang saya kumpulkan, cukup besar. Karena itu sekarang saya memperlakukan jam keberangkatan sama pentingnya dengan harga.

Yang Kini Saya Lakukan

Setelah melihat data ini, kebiasaan saya berubah. Bila memungkinkan, saya memilih penerbangan paling pagi. Sebelum memesan, saya juga kini membandingkan rekam jejak ketepatan waktu maskapai-maskapai yang melayani rute tersebut, bukan hanya harganya.

Kalau harus transit dengan dua tiket terpisah, saya menyisakan jeda minimal tiga jam, karena pindah terminal di Bandara Soekarno-Hatta lewat Kalayang juga butuh waktu. Untuk menuju bandara di musim libur, saya lebih memilih kereta bandara daripada jalan tol yang rawan macet.

Saya juga jadi lebih paham hak sebagai penumpang. Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 89 Tahun 2015, bila keterlambatan disebabkan maskapai, penumpang berhak atas minuman dan makanan, boleh pindah penerbangan atau meminta refund untuk delay di atas satu jam, dan mendapat ganti rugi Rp300.000 untuk delay lebih dari empat jam.

Data tentu tidak bisa menjamin perjalanan bebas hambatan. Cuaca, antrean di landasan, dan banyak hal lain tetap di luar kendali kita. Namun bagi saya, sedikit perhatian pada jam terbang saat memesan tiket adalah cara murah untuk memperbesar peluang tiba tepat waktu. Semoga libur akhir tahun Anda lancar.

Catatan: Data diolah dari catatan Bandara Soekarno-Hatta atas setiap penerbangan, periode 23 September–22 Oktober 2026. Pola per jam dihitung dari tujuh maskapai domestik dengan penerbangan terbanyak. Penulis adalah pengembang jakartaairportcgk.com, situs informasi Bandara Soekarno-Hatta yang mencatat data ini; data lengkapnya dapat dilihat di https://jakartaairportcgk.com/id/maskapai/. Angka ini adalah pengukuran independen dan dapat berbeda dari data resmi maskapai maupun Kementerian Perhubungan.