Bandung Menjadi Kota Termacet se-Indonesia: Apa Solusinya?

Mahasiswa semester 3 Sastra Inggris UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Tiara Khoirunisa Putri Rohendi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akses transportasi umum yang layak dan terintegrasi menjadi salah satu kunci awal untuk mengurangi masalah kemacetan di kota besar. Namun, Bandung yang terkenal akan budaya kuliner beserta tempat wisatanya yang terus meningkat dan tidak pernah tertinggal, justru akses transportasi umumnya yang tidak meningkat dan sangat tertinggal.
Sebagai kota yang sering dikunjungi para wisatawan, sudah seharusnya kota ini meninggalkan kesan pertama yang baik. Namun, pada kenyataannya, para wisatawan ikut terjebak merasakan sensasi kemacetan di ruas jalannya. Berdasarkan data TomTom Traffic Index 2025, waktu tempuh Bandung melampaui batas normal, yaitu 32 menit 26 detik tiap 10 km perjalanan. Bandung kini menjadi kota termacet nomor 1 di Indonesia dan berada di peringkat ke-16 di dunia.
Bandung bukan hanya kota yang ramai sebagai tujuan para wisatawan, melainkan juga sebagai tujuan para mahasiswa untuk menempuh pendidikan perguruan tinggi negeri. Sekiranya ada tujuh perguruan tinggi negeri yang menjadi salah satu penyebab kemacetan Bandung karena peningkatan mobilitas mahasiswa yang tinggi. Peningkatan mobilitas mahasiswa yang tinggi perlu diimbangi dengan perkembangan transportasi umumnya itu sendiri. Apabila tidak diimbangi, kemacetan Bandung akan berubah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Berdasarkan data TomTom Traffic Index 2025, para pengendara Bandung telah kehilangan waktu sekitar 129 jam tiap tahunnya akibat kemacetan di jam-jam sibuk yang telah berubah menjadi kebiasaan sehari-hari. Kondisi seperti ini sangat menunjukkan bahwa Bandung membutuhkan akses transportasi yang sangat layak dan terintegrasi. Kondisi ini juga menjadi tamparan keras bagi pemerintah daerah dan kota.
Sebagai bentuk tindak lanjut dalam mengatasi kemacetan, Indonesia Mass Transit Project (MASTRAN) pada tahun ini sedang melakukan tahap pembangunan proyek Bus Rapid Transit (BRT) Bandung Raya.
BRT Bandung Raya adalah sistem transportasi umum massal berbasis bus modern yang dikembangkan untuk mengatasi masalah kemacetan di kawasan Cekungan Bandung yang meliputi cakupan wilayah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, dan Kabupaten Sumedang. BRT Bandung Raya ditargetkan beroperasi penuh pada tahun 2027 dengan 18 rute dan 579 armada bus.
Proyek BRT Bandung Raya memiliki koridor utama yang membentang sepanjang 21,7 km yang melewati jalan-jalan utama di Kota Bandung. Bus juga akan beroperasi di jalur khusus terpisah penuh dari kendaraan pribadi maupun lajur campuran. Waktu tunggu bus dipastikan akan sangat singkat, yakni 7 menit pada jam sibuk dan 15 menit pada jam tidak sibuk.
Trotoar dengan radius 300 meter juga ditingkatkan di setiap haltenya agar penumpang lebih nyaman dalam menggunakannya. Sistem lalu lintas yang terintegrasi juga dipasang untuk memprioritaskan laju bus BRT di persimpangan. Dapat dipastikan bahwa bus tidak akan terjebak dalam kemacetan Bandung.
Kendati demikian, akses transportasi yang layak dan terintegrasi saja belum cukup untuk mengatasi kemacetan Bandung. Perlu dihadirkan edukasi lebih lanjut mengenai proyek BRT Bandung Raya ini agar para warga, wisatawan, mahasiswa, dan seluruh kalangan yang menggunakan kendaraan pribadinya diharapkan beralih menggunakan transportasi umum BRT Bandung Raya saat mulai beroperasi.
