Konten dari Pengguna

Dari Sungai ke Dapur Warga: Cara Silugonggo Bestari Menggerakkan Ekonomi Desa

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ulil Nuriza Sari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Ulil Nuriza Sari (dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Ulil Nuriza Sari (dokumentasi pribadi)

Tanpa menunggu investor besar atau bantuan berkelanjutan dari luar desa, warga Dukuh Gilis, Desa Sugiharjo, Kecamatan Pati, memilih bergerak dengan cara mereka sendiri. Melalui Silugonggo Bestari, sebuah kawasan wisata yang diresmikan pada 13 Februari 2025, masyarakat setempat menjadikan potensi alam sebagai pintu masuk menuju kemandirian ekonomi.

Berbeda dengan banyak destinasi wisata yang dikelola secara terpusat, Silugonggo Bestari sejak awal dirancang berbasis partisipasi warga. Masyarakat tidak hanya menjadi penonton atau penerima dampak, tetapi terlibat langsung dalam pengelolaan dan pengembangan kawasan. Pendekatan ini perlahan mengubah cara warga memandang wisata—bukan sekadar hiburan, melainkan peluang hidup.

Nurul, salah satu pengelola Silugonggo Bestari sekaligus pelaku usaha di kawasan tersebut, mengatakan bahwa inisiatif ini lahir dari keinginan bersama untuk menggerakkan potensi lokal. Wisata dipilih sebagai medium karena dinilai mampu membuka ruang kreativitas sekaligus menciptakan perputaran ekonomi di tingkat rumah tangga.

“Sejak awal, tujuannya memang untuk memajukan warga Dukuh Gilis. Kami ingin masyarakat ikut berani berinovasi dan merasakan langsung manfaat dari adanya wisata ini,” ujar Nurul.

Perubahan mulai terasa dalam aktivitas sehari-hari warga. Sejumlah rumah tangga yang sebelumnya tidak terlibat dalam sektor wisata kini mulai memproduksi makanan rumahan, membuka lapak sederhana di sekitar kawasan, hingga menitipkan produk mereka di warung-warung yang ada. Aktivitas tersebut tidak hanya menambah penghasilan, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan diri warga untuk terjun ke sektor ekonomi kreatif.

Silugonggo Bestari juga berfungsi sebagai ruang promosi bagi produk olahan dan kerajinan lokal. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati suasana alam dan aliran sungai, tetapi juga berinteraksi langsung dengan produk khas desa. Pola ini menciptakan sirkulasi ekonomi yang lebih merata karena manfaat wisata tidak berhenti pada pengelola, melainkan menyentuh banyak lapisan warga.

Daya tarik alam tetap menjadi kekuatan utama kawasan ini, salah satunya melalui aktivitas susur sungai menggunakan perahu. Namun, yang membedakan Silugonggo Bestari dengan destinasi serupa adalah keterpaduan antara wisata alam dan pemberdayaan masyarakat. Wisata tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi alat untuk memperkuat struktur ekonomi lokal.

Bagi warga Dukuh Gilis, Silugonggo Bestari bukan hanya tentang menarik pengunjung, tetapi tentang membangun keberanian untuk mandiri. Dari dapur-dapur rumah hingga lapak sederhana di kawasan wisata, inisiatif ini menunjukkan bahwa pengembangan desa tidak selalu harus menunggu skala besar. Dengan kolaborasi dan partisipasi warga, potensi lokal dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.