Di Balik Layar Monitor: Peran Perawat dalam Menjaga Pasien Jantung

Mahasiswi ilmu keperawatan fakultas ilmu kesehatan uin jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Nia putri ramadani harahap tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
contoh gambar pasien jantung

(World Health Organization, 2021) Pernah terpikir siapa yang paling sering berada di samping pasien di rumah sakit? Bukan hanya dokter, tetapi juga perawat yang mendampingi pasien hampir selama 24 jam. Dalam situasi kritis, terutama pada pasien dengan penyakit jantung iskemik, kehadiran perawat menjadi sangat penting dalam menjaga stabilitas kondisi pasien yang rentan.
(Kementerian Kesehatan RI, 2022) Di Indonesia, penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab utama kematian dan terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal ini menjadi tantangan besar dalam dunia kesehatan, sehingga dibutuhkan pelayanan yang optimal, termasuk peran aktif perawat sebagai tenaga kesehatan yang paling dekat dengan pasien.
(Rahmawati & Hidayat, 2020) Penyakit jantung iskemik terjadi akibat penyempitan pembuluh darah koroner yang menghambat aliran darah ke jantung. Kondisi ini menyebabkan jantung kekurangan oksigen dan dapat memicu gejala seperti nyeri dada, sesak napas, hingga serangan jantung. Selain dampak fisik, pasien juga sering mengalami tekanan psikologis berupa kecemasan dan rasa takut terhadap kondisi yang dialaminya.
(Sari & Putra, 2021) Dalam kondisi tersebut, perawat memiliki peran yang sangat kompleks. Tidak hanya melakukan tindakan medis, perawat juga bertanggung jawab dalam memantau tanda-tanda vital secara berkala, memberikan edukasi kesehatan, serta menjadi sumber dukungan emosional bagi pasien. Hubungan yang terjalin antara perawat dan pasien sering kali menjadi faktor penting dalam proses penyembuhan.
(Pratiwi & Lestari, 2022) Namun, dalam praktiknya masih terdapat berbagai kendala yang dihadapi perawat. Salah satu yang paling utama adalah keterbatasan jumlah tenaga perawat dibandingkan dengan jumlah pasien. Beban kerja yang tinggi sering kali menyebabkan kelelahan, sehingga waktu yang seharusnya digunakan untuk edukasi pasien menjadi kurang optimal.
(Wulandari & Putri, 2021) Selain itu, tingkat kepatuhan pasien terhadap pengobatan dan pola hidup sehat juga masih menjadi masalah. Banyak pasien yang belum sepenuhnya memahami pentingnya menjaga gaya hidup sehat setelah menjalani perawatan, sehingga risiko kekambuhan tetap tinggi.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan berbagai upaya seperti penambahan tenaga perawat, peningkatan kompetensi melalui pelatihan, serta pemanfaatan teknologi dalam pelayanan kesehatan. Edukasi yang lebih efektif dan berkelanjutan juga menjadi kunci dalam meningkatkan kepatuhan pasien.
Pada akhirnya, perawat bukan hanya sekadar tenaga medis, tetapi juga pendamping yang memiliki peran penting dalam membantu pasien bertahan dan menjalani proses penyembuhan. Di balik layar monitor rumah sakit, terdapat dedikasi besar dari seorang perawat yang sering kali tidak terlihat, namun sangat berarti bagi kehidupan pasien.
DAFTAR PUSTAKA
Analisis kebutuhan perawat berdasarkan beban kerja di unit gawat darurat rumah sakit. (2016). Medicina, 47(2), 118–121. https://www.medicinaudayana.org/index.php/medicina/article/download/72/69/210
Andrianti, D., Maulana, H., & Sunarti, S. (2020). Pengaruh beban kerja terhadap stres kerja perawat di rumah sakit. Jurnal Kesehatan, 5(2), 120–130. https://journal.arikesi.or.id/index.php/Protein/article/view/1144
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil Kesehatan Indonesia 2022. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.https://www.kemkes.go.id/id/profil-kesehatanindonesia-2022
Oktaviola, S., Widiarini, R., & Marsanti, A. S. (2023). Pengaruh beban kerja terhadap kualitas pelayanan perawat di ruang rawat inap rumah sakit. Health Information: Jurnal Penelitian, 15(2), e1003.https://myjurnal.poltekkeskdi.ac.id/index.php/hijp/article/view/1003
World Health Organization. (2021). Cardiovascular diseases (CVDs).https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/cardiovascular-diseases- (cvds)
