Konten dari Pengguna

Menulis untuk Mengubah Zaman: Dakwah yang Tidak Berhenti di Mimbar

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari rd taupik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Kegiatan Menulis. Sumber : Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kegiatan Menulis. Sumber : Pexels.com

Ada dakwah yang didengar, lalu perlahan dilupakan. Ada pula dakwah yang dituliskan, kemudian dibaca kembali, dipelajari, dan diwariskan lintas generasi. Keduanya memiliki tempat penting dalam perjuangan Islam. Namun, di tengah perkembangan zaman dan perubahan pola komunikasi masyarakat, tulisan memiliki potensi besar untuk memperluas jangkauan dakwah melampaui ruang dan waktu.

Dakwah selama ini kerap dipahami melalui aktivitas ceramah, khutbah, pengajian, dan penyampaian nasihat secara langsung. Padahal, sejarah peradaban Islam menunjukkan bahwa tradisi keilmuan dan kepenulisan turut memainkan peran penting dalam menjaga serta menyebarkan ajaran Islam. Kitab-kitab yang ditulis para ulama berabad-abad lalu masih dipelajari hingga hari ini. Gagasan mereka terus hidup, bahkan ketika penulisnya telah lama meninggalkan dunia. Hal ini menunjukkan bahwa tulisan bukan sekadar alat untuk menyampaikan gagasan, melainkan juga sarana pewarisan ilmu dan peradaban.

Di era digital, peluang dakwah melalui tulisan semakin terbuka. Media daring memungkinkan sebuah artikel dibaca oleh masyarakat dari berbagai daerah tanpa mengharuskan penulis hadir secara fisik. Persoalan sosial, pendidikan, akhlak, hingga kehidupan keagamaan dapat dibahas melalui tulisan yang informatif, argumentatif, dan mudah dipahami. Akan tetapi, kemudahan tersebut juga menghadirkan tantangan: tidak semua tulisan yang beredar memiliki dasar ilmiah yang kuat, dan tidak semua informasi disampaikan dengan tanggung jawab.

Dalam situasi seperti ini, seorang penulis dakwah tidak cukup hanya memiliki semangat menyampaikan kebaikan. Ia perlu membekali diri dengan kemampuan membaca, meneliti, memverifikasi informasi, menyusun argumentasi, serta memahami persoalan yang sedang dibicarakan. Niat yang baik harus disertai cara yang benar. Sebab, tulisan yang lemah secara argumentasi berisiko tidak menyampaikan pesan dengan utuh, sedangkan tulisan yang tidak didukung fakta dapat menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Allah Swt. berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”

Ayat tersebut memberikan landasan bahwa dakwah harus dilaksanakan dengan hikmah. Dalam konteks kepenulisan, hikmah dapat diwujudkan melalui pemilihan bahasa yang tepat, argumentasi yang terukur, pemahaman terhadap pembaca, serta kemampuan menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan adab. Tulisan dakwah tidak semestinya hanya berisi ajakan normatif, tetapi juga perlu membantu pembaca memahami persoalan, menemukan dasar pemikiran, dan mempertimbangkan solusi yang ditawarkan.

Di sinilah jurnalistik dakwah memiliki peran strategis. Jurnalistik dakwah bukan sekadar memindahkan ceramah ke dalam bentuk tulisan, melainkan menghadirkan informasi dan analisis yang berpijak pada fakta serta nilai-nilai Islam. Seorang jurnalis dakwah dituntut untuk menghubungkan pesan keagamaan dengan realitas kehidupan masyarakat. Ia perlu peka terhadap persoalan umat, kritis terhadap informasi, dan bertanggung jawab terhadap dampak dari setiap kata yang dipublikasikan.

Meski demikian, dakwah melalui tulisan tidak berarti menggantikan dakwah lisan. Keduanya justru saling melengkapi. Ceramah memungkinkan interaksi langsung antara da’i dan mad’u, sedangkan tulisan memberikan kesempatan kepada pembaca untuk menelaah kembali pesan yang disampaikan. Ketika keduanya berjalan beriringan, dakwah memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau masyarakat sekaligus memperdalam pemahaman mereka.

Menurut penulis, tantangan terbesar dalam membangun tradisi kepenulisan dakwah bukan semata-mata keterbatasan media atau teknologi, melainkan konsistensi dalam membaca, berpikir, dan menghasilkan karya yang berkualitas. Menulis memerlukan kesabaran. Gagasan harus dipertajam, sumber perlu diperiksa, dan kalimat harus disusun agar pesan dapat diterima secara tepat. Proses tersebut menuntut kedisiplinan intelektual yang tidak selalu dapat dicapai secara instan.

Oleh karena itu, lembaga pendidikan Islam, mahasiswa dakwah, para da’i, dan pengelola media perlu memberikan perhatian lebih besar terhadap budaya literasi. Mahasiswa dakwah, khususnya, perlu memandang kemampuan menulis sebagai bagian dari kompetensi profesional, bukan sekadar keterampilan tambahan. Mereka tidak hanya dituntut mampu berbicara di hadapan jamaah, tetapi juga mampu menulis artikel, menyusun karya ilmiah, mengolah informasi, dan menghadirkan gagasan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, dakwah tidak berhenti ketika mikrofon dimatikan atau ketika sebuah pengajian selesai. Dakwah dapat terus berjalan melalui tulisan yang menyimpan ilmu, menggerakkan pemikiran, dan menginspirasi perubahan. Tidak setiap tulisan akan langsung mengubah keadaan, tetapi tulisan yang disusun dengan ilmu, kejujuran, dan keikhlasan dapat menjadi bagian dari proses panjang membangun masyarakat yang lebih baik.

Sebab, seorang penulis mungkin tidak selalu menyaksikan sejauh mana tulisannya memberi pengaruh. Namun, selama tulisan itu terus dibaca, dipelajari, dan menghadirkan manfaat, pesan kebaikan memiliki kesempatan untuk melampaui usia penulisnya. Di situlah menulis menemukan maknanya sebagai bagian dari perjuangan dakwah: bukan sekadar meninggalkan kata-kata, melainkan ikut merawat ilmu dan mewariskan kebaikan kepada zaman.