Konten dari Pengguna

Hijrah Bukan Tren: Menjaga Konsistensi Setelah Euforia Reda

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari rd taupik tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

gambar ilustrasi orang-orang berhijrah. sumber : pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
gambar ilustrasi orang-orang berhijrah. sumber : pexels.com

Fenomena hijrah di kalangan anak muda Indonesia sering kita baca sebagai kabar gembira. Masjid ramai oleh wajah baru, kajian dipenuhi jamaah usia produktif, dan busana syar'i tampil percaya diri di ruang publik. Meski demikian, di era ketika persoalan agama kian sering ditanyakan kepada chatbot, kajian yang jujur menuntut kita bertanya lebih jauh: apa yang tersisa setelah gelombang pertama itu surut? Secara terminologis, hijrah adalah perpindahan, dari kemaksiatan menuju ketaatan. Perpindahan yang sahih tidak diukur dari titik berangkatnya. Ia diukur dari keteguhan langkah sampai tujuan.

Hijrah sebagai proses, bukan peristiwa

Al-Qur'an tidak menyajikan hijrah sebagai momen emosional sesaat. Allah ﷻ menggandengkannya dengan jihad, yakni kesungguhan yang berkelanjutan:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ

(QS. Al-Baqarah [2]: 218)

Artinya: sesungguhnya orang-orang yang beriman, yang berhijrah, dan yang berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah.

Struktur ayat ini patut dicermati. Hijrah disebut berdampingan dengan jihad (mujahadah), bukan berdiri sendiri. Ini mengisyaratkan bahwa keputusan berhijrah hanyalah pintu masuk, sedangkan perjuangan mempertahankannya adalah perjalanan yang sesungguhnya.

Euforia dan hukum kejenuhan hati

Secara psikologis, setiap perubahan besar disertai lonjakan semangat yang tidak permanen. Al-Qur'an telah mengantisipasi gejala ini jauh sebelum psikologi modern merumuskannya. Allah ﷻ menegur orang-orang beriman dengan pertanyaan retoris:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ

(QS. Al-Hadid [57]: 16)

Artinya: belum tibakah waktunya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk hatinya mengingat Allah dan kebenaran yang turun, dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya diberi kitab, lalu berlalulah masa yang panjang atas mereka, maka hati mereka pun mengeras.

Ayat ini menjelaskan bahwa thūl al-amad (berlalunya waktu yang panjang) dapat mengikis kepekaan spiritual. Karena itu, ukuran keimanan bukanlah intensitas pada bulan pertama, melainkan kualitas hati setelah bertahun-tahun.

Istiqamah: parameter keberhasilan hijrah

Konsep kunci dalam persoalan ini adalah istiqamah. Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

(QS. Fussilat [41]: 30)

Artinya: sesungguhnya orang-orang yang berkata "Tuhan kami adalah Allah", kemudian mereka istiqamah, malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata): "Janganlah kalian takut dan bersedih, dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan kepada kalian."

Perhatikan partikel tsumma (kemudian), yang dalam kaidah bahasa Arab menunjukkan jeda dan tahapan. Pengakuan "Rabbunallah" belum cukup tanpa kelanjutannya berupa istiqamah. Ibnu Katsir menukil penafsiran Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu bahwa istiqamah berarti tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun. Para mufasir lain menekankan komitmen terhadap seluruh kewajiban. Keduanya bertemu pada satu makna, yaitu keteguhan yang tidak bergeser.

Perintah serupa ditujukan kepada Nabi ﷺ, disertai peringatan agar tidak melampaui batas:

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

(QS. Hud [11]: 112)

Pesan ayat ini seimbang: istiqamah menuntut keteguhan, tetapi juga menolak sikap thughyan (berlebihan). Dalam konteks hijrah kontemporer, ini mengingatkan kita pada gejala semangat yang melonjak lalu patah karena tidak proporsional.

Menjaga ritme: konsistensi lebih utama daripada intensitas

Sejalan dengan prinsip itu, Rasulullah ﷺ bersabda bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu, sekalipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim). Inilah kaidah praktis bagi mereka yang baru berhijrah: pilihlah amal yang terukur dan dapat dipertahankan, bukan target spektakuler yang menguras tenaga lalu ditinggalkan.

Al-Qur'an juga memberi peringatan keras terhadap kemunduran setelah kemajuan, melalui perumpamaan perempuan yang mengurai kembali benang yang telah ia pintal:

وَلَا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِن بَعْدِ قُوَّةٍ أَنكَاثًا

(QS. An-Nahl [16]: 92)

Artinya: dan janganlah kalian seperti perempuan yang menguraikan benang yang telah dipintalnya dengan kuat, hingga menjadi cerai-berai kembali.

Perumpamaan ini tepat menggambarkan hijrah yang tidak dijaga: kerja keras berbulan-bulan dapat terurai karena kelalaian yang kecil namun terus berulang.

Tiga penopang konsistensi

Dari uraian di atas, setidaknya ada tiga penopang yang dapat dirumuskan.

Pertama, lingkungan yang saleh. Allah ﷻ memerintahkan kesabaran untuk bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pagi dan petang (QS. Al-Kahfi [18]: 28). Hijrah individual yang tidak ditopang komunitas mudah rapuh.

Kedua, ilmu yang mendasari. Hijrah yang berpijak pada emosi akan surut bersama emosi, sedangkan hijrah yang berpijak pada ilmu akan bertahan karena ia dipahami, bukan sekadar dirasakan.

Ketiga, doa memohon keteguhan hati. Doa ini diabadikan dalam Al-Qur'an:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ

(QS. Ali 'Imran [3]: 8)

Artinya: "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri kami petunjuk, dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sungguh Engkaulah Maha Pemberi."

Penutup

Hijrah bukan label, bukan estetika, dan bukan identitas musiman. Ia adalah komitmen jangka panjang yang diuji oleh waktu, kejenuhan, dan godaan untuk kembali. Maka pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri bukanlah "sudahkah saya berhijrah?", melainkan "masihkah saya berada di jalan itu hari ini?". Allah ﷻ menjanjikan:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

(QS. Al-'Ankabut [29]: 69)

Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Allah akan Dia tunjukkan jalan-jalan-Nya. Janji ini tidak diberikan kepada mereka yang sekadar memulai, tetapi kepada mereka yang terus bersungguh-sungguh.