Konten dari Pengguna

In This Economy: Kita Bisa Apa?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fajar Supriyatna tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar: Ilustrasi AI
zoom-in-whitePerbesar
Gambar: Ilustrasi AI

Ada yang sedang runtuh diam-diam di negeri ini. Bukan gedung bertingkat atau jembatan yang menghubungkan dua daratan, melainkan keyakinan sederhana bahwa bekerja keras hari ini akan membuat kehidupan esok sedikit lebih baik.

Keruntuhan itu tidak terdengar seperti dentuman keras yang mengejutkan warga di siang bolong. Ia hadir dalam percakapan suami istri menjelang tidur, ketika penghasilan sebulan ternyata tidak sanggup memenuhi seluruh kebutuhan. Dalam tatapan seorang ibu di depan rak telur, ketika tangannya kembali menghitung uang yang tersisa. Atau kegelisahan seorang ayah yang harus memilih antara membayar cicilan, memperbaiki sepeda motor dan memenuhi kebutuhan sekolah anaknya.

Tidak ada yang luar biasa dari peristiwa itu. Justru karena terlampau biasa, kita sering lupa bahwa di balik angka pertumbuhan ekonomi, berlangsung perjuangan yang tidak pernah masuk berita utama.

Orang-orang menyebut keadaan semacam ini dengan ungkapan yang belakangan populer: in this economy. Sebuah kalimat pendek, setengah keluhan, setengah sindiran. Biasanya diucapkan ketika seseorang ingin membeli sesuatu, lalu mengurungkan niatnya setelah melihat harga.

Dahulu orang bertanya apakah mampu membelinya. Sekarang pertanyaannya berubah: apakah kita masih sanggup mempertahankan kehidupan seperti kemarin?

Bagi masyarakat berpenghasilan rendah, kesulitan ekonomi bukan barang baru sebab mereka telah lama berdamai dengan ketidakpastian. Penghasilan datang tidak selalu pada waktunya, sementara kebutuhan tak pernah bersedia menunggu. Pedagang kecil membuka lapak sekalipun pembeli sepi, pengemudi ojol tetap bekerja meski pendapatannya sulit diperkirakan, dan buruh harian menggantungkan harapan pada pekerjaan yang belum tentu tersedia esok pagi.

Mereka bukan tidak pandai mengatur keuangan tetapi sering kali memang tidak banyak uang yang bisa diatur.

Kelas menengah menghadapi kegelisahan berbeda. Mereka mungkin masih memiliki pekerjaan, kendaraan, rumah dengan cicilan panjang, dan anak-anak yang bersekolah. Dari luar tampak baik-baik saja. Namun di balik itu, terdapat neraca keluarga yang semakin sulit diseimbangkan.

Penghasilan datang sebulan sekali sementara tagihan seolah datang bergiliran setiap hari. Makan di luar dikurangi, liburan ditunda, tabungan pendidikan disentuh. Sebagian orang mulai merasa bersalah ketika membeli sesuatu yang dahulu dianggap kebutuhan biasa. Kelas menengah tidak selalu takut menjadi miskin, mereka mungkin sekedar khawatir kehilangan kehidupan yang telah dibangun bertahun-tahun.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan September 2026 sebesar 3,28 persen. Pada Februari 2026, rata-rata upah buruh sekitar Rp3,29 juta per bulan. Sementara Bank Indonesia melaporkan Indeks Keyakinan Konsumen September tetap optimistis pada angka 118,1.

Angka-angka itu tidak bertentangan. Perekonomian bisa menunjukkan ketahanan, sementara sebagian rumah tangga masih merasa tertekan, sebab keadaan ekonomi nasional dan pengalaman ekonomi keluarga tidak selalu bergerak dengan kecepatan sama.

Pertumbuhan tentu penting. Namun, pertumbuhan yang tidak cukup memperbaiki kehidupan masyarakat berisiko menjadi kabar gembira yang terdengar jauh dari meja makan mereka.

Di sinilah kita perlu membedakan antara hidup dan sekadar bertahan hidup. Seseorang mungkin masih membeli beras, tetapi tidak sanggup menabung. Masih membayar sekolah, tetapi menunda pemeriksaan kesehatan. Masih memiliki pekerjaan, tetapi kehilangan waktu bersama keluarga karena mencari penghasilan tambahan.

Secara administratif ia belum tentu miskin. Secara psikologis, ia mungkin sudah lama hidup dalam kecemasan. Ada kemiskinan yang tercatat dalam statistik, ada pula kerentanan yang bersembunyi di balik pakaian rapi.

Persoalannya bukan sekadar bagaimana masyarakat menghemat, melainkan bagaimana perekonomian memberi kesempatan layak bagi orang yang bersedia bekerja. Terlalu mudah menasihati orang untuk hidup sederhana. Nasihat itu baik, tetapi ganjil apabila kesederhanaan hanya diwajibkan kepada mereka yang sejak awal tidak memiliki banyak pilihan.

Pemerintah perlu memastikan pekerjaan memberi penghasilan layak, harga kebutuhan pokok terkendali, dan biaya sekolah, kesehatan, perumahan, serta transportasi tidak menghabiskan pendapatan keluarga. Usaha kecil memerlukan pasar dan pembiayaan yang masuk akal, bukan sekadar ajakan berwirausaha ketika pembelinya sendiri sedang berhemat.

Sebab masyarakat yang terus dipaksa mengencangkan ikat pinggang suatu saat kehabisan lubang sabuk untuk mengencangkannya.

Namun menunggu negara menyelesaikan semuanya juga tidak cukup. Kita perlu menata ulang prioritas, memperkuat keterampilan, membuka peluang penghasilan tanpa mempertaruhkan keamanan keluarga.

Yang tidak kalah penting adalah memulihkan solidaritas. Barangkali kita terlalu lama diajari bahwa keberhasilan semata urusan pribadi. Siapa bekerja keras akan berhasil, siapa gagal berarti kurang berusaha. Padahal kehidupan tidak menyediakan garis awal yang sama. Ada yang berlari dengan sepatu terbaik, ada yang berlari telanjang kaki sambil menggendong beban keluarganya.

Keluarga yang saling menguatkan, tetangga yang saling membantu dan masyarakat yang saling peduli bukanlah romantisme belaka. Mereka memungkinkan orang tidak jatuh sendirian.

Tetapi ada satu hal yang jauh lebih penting: jangan biarkan kesulitan ekonomi merampas harapan. Kita boleh mengurangi belanja, tetapi jangan mengurangi cita-cita. Boleh menunda keinginan, tetapi jangan mengubur masa depan. Rencana hidup mungkin harus berubah, tetapi bukan berarti kita harus menyerah pada keadaan.

Bertahan bukan tanda kekalahan. Kadang ia bentuk keberanian paling sunyi: seorang ayah yang tetap berangkat bekerja, seorang ibu yang menjaga keluarganya, anak muda yang kembali mengirim lamaran setelah berulang kali ditolak.

Namun keberanian rakyat tidak boleh menjadi alasan bagi negara membiarkan mereka berjuang sendirian. Optimisme membutuhkan alasan untuk tumbuh: pekerjaan yang layak, perlindungan yang adil, dan keyakinan bahwa jerih payah memperoleh penghargaan pantas.

Barangkali ekonomi kita belum sebaik yang diharapkan. Tetapi masa depan belum selesai dituliskan.

In this economy, kita bisa apa?

Kita bisa bertahan tanpa kehilangan kemanusiaan. Berhemat tanpa berhenti bermimpi. Saling menguatkan sambil terus menuntut perubahan.

Sebab yang paling berbahaya dari kesulitan ekonomi bukan ketika isi dompet menipis, melainkan ketika manusia mulai percaya hari esok tidak lagi layak diperjuangkan.