Konten dari Pengguna

Mikroplastik: Benarkah Kita “Makan Plastik” Setiap Hari?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Vara Dikna Istiyaningrum tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Botol plastik bekas, salah satu sumber mikroplastik (Foto: engin akyurt / Unsplash)
zoom-in-whitePerbesar
Botol plastik bekas, salah satu sumber mikroplastik (Foto: engin akyurt / Unsplash)

Pernahkah kalian membeli minuman dalam botol plastik, memesan makanan dengan kemasan sekali pakai, atau mengenakan pakaian berbahan poliester? Aktivitas tersebut tampak biasa, tetapi dapat membuat kita bersentuhan dengan partikel plastik berukuran sangat kecil. Partikel ini disebut mikroplastik.

Istilah “makan plastik” bukan berarti seseorang mengunyah botol atau kantong plastik. Ungkapan tersebut digunakan untuk menggambarkan kemungkinan tertelannya partikel mikroplastik melalui makanan dan minuman. Partikel serupa juga dapat masuk ke tubuh melalui udara yang dihirup. Lalu, apakah hal ini berarti kita harus panik?

Jawaban yang paling tepat adalah: belum perlu panik, tetapi juga tidak sebaiknya mengabaikannya. Mikroplastik memang telah ditemukan di lingkungan dan sejumlah sampel biologis manusia. Namun, dampak jangka panjangnya terhadap kesehatan manusia masih diteliti dan belum sepenuhnya dapat dipastikan.

Plastik yang Berubah Menjadi Partikel Kecil

Mikroplastik umumnya didefinisikan sebagai partikel plastik berukuran kurang dari 5 milimeter. Partikel tersebut dapat berasal dari plastik berukuran besar yang pecah karena panas, sinar matahari, gesekan, atau proses pembuangan. Mikroplastik juga dapat muncul dari serat pakaian sintetis, abrasi ban kendaraan, kemasan makanan, dan berbagai produk berbahan plastik.

Ketika ukurannya lebih kecil lagi, partikel tersebut disebut nanoplastik. Nanoplastik berukuran sangat kecil sehingga lebih sulit diamati dan dianalisis. Perbedaan ukuran, bentuk, bahan dasar, serta zat tambahan pada plastik membuat setiap partikel tidak selalu memiliki perilaku dan potensi bahaya yang sama.

Menurut WHO, manusia dapat terpapar mikroplastik melalui makanan, air, dan udara. Namun, perkiraan jumlah paparan masih sulit dibuat secara pasti karena metode pengambilan sampel dan analisis antarpenelitian belum seragam. WHO juga menyatakan bahwa penelitian mengenai dampak paparan jangka panjang masih perlu dikembangkan (WHO, 2022).

Apakah Mikroplastik Masuk ke Tubuh?

Mikroplastik dapat tertelan ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung partikel tersebut. Selain itu, partikel di udara dapat terhirup, terutama di lingkungan yang banyak mengandung debu dan serat sintetis. Paparan melalui kulit juga dapat terjadi, tetapi sejauh ini tertelan dan terhirup lebih sering menjadi perhatian dalam penelitian kesehatan.

Beberapa penelitian terbaru berhasil mendeteksi partikel plastik pada jaringan manusia. Salah satunya menganalisis 62 sampel plasenta dan menemukan partikel mikroplastik atau nanoplastik pada seluruh sampel yang diperiksa. Konsentrasinya berbeda-beda, sehingga hasil tersebut tidak dapat diartikan bahwa semua orang memiliki jumlah mikroplastik yang sama di dalam tubuh (Garcia et al., 2024).

Penelitian lain meninjau temuan mikroplastik pada berbagai jaringan dan organ manusia. Partikel tersebut dilaporkan pada sampel seperti plasenta, paru-paru, hati, ginjal, darah, dan urine. Meski demikian, para peneliti mengingatkan bahwa teknik pemeriksaan dan cara pelaporan hasil masih beragam. Karena itu, keberadaan partikel tersebut belum otomatis membuktikan bahwa mikroplastik telah menyebabkan penyakit tertentu (Roslan et al., 2024).

Temuan ini penting, tetapi perlu dibaca secara proporsional. Menemukan suatu partikel di dalam jaringan menunjukkan adanya paparan atau kemungkinan akumulasi, bukan langsung membuktikan hubungan sebab-akibat. Untuk mengetahui dampaknya, peneliti harus membandingkan kelompok yang berbeda, mengukur dosis paparan, mengendalikan faktor lain, dan mengamati kesehatan dalam jangka panjang.

Apa Kata Bukti Ilmiah?

Tinjauan ilmiah mengenai mikroplastik dan kesehatan manusia menunjukkan bahwa dampak yang sering dibahas meliputi peradangan, stres oksidatif, kerusakan sel, gangguan metabolisme, serta kemungkinan gangguan pada sistem reproduksi dan kekebalan tubuh. Stres oksidatif adalah kondisi ketika molekul reaktif di dalam tubuh lebih banyak daripada kemampuan tubuh untuk menetralkannya.

Namun, sebagian besar bukti tersebut berasal dari percobaan laboratorium atau penelitian pada hewan. Jenis plastik, ukuran partikel, jumlah paparan, serta lama penelitian sering kali berbeda dari kondisi manusia sehari-hari. Oleh sebab itu, hasil penelitian tersebut lebih tepat dipahami sebagai tanda adanya potensi risiko, bukan sebagai bukti bahwa mikroplastik pasti menyebabkan penyakit pada setiap orang (Li et al., 2023).

Penelitian yang meninjau paparan mikroplastik terhadap sistem pencernaan, pernapasan, dan reproduksi juga menyimpulkan bahwa terdapat kemungkinan dampak buruk pada ketiga sistem tersebut. Akan tetapi, kekuatan bukti berbeda-beda untuk setiap dampak kesehatan. Para peneliti menilai bahwa penelitian pada manusia dengan metode yang lebih konsisten masih diperlukan (Chartres et al., 2024).

Temuan menarik lainnya berasal dari penelitian pada jaringan otak manusia yang telah meninggal. Peneliti melaporkan adanya mikroplastik dan nanoplastik pada jaringan otak, hati, serta ginjal. Sampel otak menunjukkan konsentrasi yang lebih tinggi dibandingkan dua organ lainnya. Namun, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa partikel plastik menyebabkan demensia atau penyakit otak tertentu. Penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk memahami makna klinis dari temuan tersebut (Nihart et al., 2025).

Haruskah Gen Z Panik?

Jawabannya tidak. Kepanikan tidak membantu karena saat ini belum ada bukti yang cukup untuk menyatakan bahwa mikroplastik secara langsung menyebabkan seluruh penyakit yang sering disebutkan di media sosial. Sebaliknya, menganggap mikroplastik sepenuhnya aman juga kurang tepat karena penelitian masih menemukan kemungkinan dampak biologis dan keberadaannya di berbagai lingkungan.

Sikap yang lebih masuk akal adalah menerapkan prinsip kehati-hatian. Prinsip ini berarti mengurangi paparan yang dapat dikendalikan sambil tetap mengikuti perkembangan bukti ilmiah. Masyarakat tidak perlu membeli produk detoks atau suplemen khusus yang mengklaim dapat membersihkan mikroplastik dari tubuh karena belum ada terapi umum semacam itu yang terbukti secara kuat.

Pengurangan mikroplastik juga tidak berarti harus menghapus seluruh plastik dari kehidupan. Plastik masih memiliki fungsi penting, termasuk dalam bidang medis dan keamanan pangan. Fokus utama adalah mengurangi penggunaan yang tidak perlu serta mencegah plastik masuk ke lingkungan.

Kebiasaan Sederhana yang Bisa Dilakukan

Ada beberapa langkah realistis yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama, kurangi penggunaan plastik sekali pakai. Membawa botol minum, tas belanja, dan wadah makanan yang dapat digunakan berulang kali merupakan langkah sederhana. Selain berpotensi mengurangi paparan, kebiasaan ini juga membantu mengurangi jumlah sampah plastik.

Kedua, jangan memanaskan makanan dalam wadah plastik yang tidak dirancang untuk suhu tinggi. Gunakan wadah kaca, keramik, atau baja tahan karat ketika menghangatkan makanan. Wadah plastik yang sudah retak, tergores, atau berubah bentuk sebaiknya tidak digunakan kembali untuk makanan.

Wadah makanan plastik sekali pakai, salah satu sumber paparan mikroplastik (Foto: Kate Trifo (@katetrifo) / Unsplash)

Ketiga, jaga kebersihan udara di dalam ruangan. Bersihkan debu secara rutin, gunakan kain lembap, dan pastikan kamar memiliki sirkulasi udara yang baik. Langkah ini bermanfaat terutama karena debu dapat membawa serat dari pakaian, karpet, dan perabot sintetis.

Keempat, gunakan pakaian secara lebih bijak. Pakaian tidak harus langsung dicuci setelah sekali dipakai jika belum kotor atau berbau. Mengurangi frekuensi pencucian dapat membantu menekan pelepasan serat sintetis ke saluran air.

Kelima, periksa informasi sebelum mempercayainya. Klaim seperti “mikroplastik pasti menyebabkan kanker” atau “minuman tertentu dapat mengeluarkan plastik dari tubuh” perlu dicurigai apabila tidak mencantumkan sumber ilmiah yang jelas. Informasi kesehatan sebaiknya diperiksa melalui situs WHO, PubMed, atau jurnal yang dapat diakses dan memiliki proses penelaahan sejawat.

Waspada tanpa berlebihan

Jadi, benarkah kita “makan plastik” setiap hari? Kita mungkin terpapar mikroplastik melalui makanan, minuman, dan udara, tetapi jumlah pastinya serta dampaknya bagi kesehatan belum dapat dipastikan secara menyeluruh. Penelitian terbaru telah menemukan partikel plastik pada berbagai sampel biologis manusia, tetapi keberadaan partikel tersebut belum otomatis membuktikan timbulnya penyakit.

Gen Z tidak perlu panik, tetapi dapat mulai membuat pilihan yang lebih bijak: mengurangi plastik sekali pakai, tidak memanaskan makanan dalam wadah yang tidak sesuai, menjaga kebersihan rumah, dan tidak mudah percaya pada klaim kesehatan yang sensasional. Menjaga kesehatan bukan berarti takut terhadap segala sesuatu, melainkan mampu membedakan antara bukti, kemungkinan risiko, dan informasi yang belum terbukti.