Konten dari Pengguna

Pengembangan dan Pembelajaran Talenta Itu Dimulai dengan Mengenali Orang di Sekitar Kita

Sumber: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Pexels

Pengembangan dan Pembelajaran Talenta untuk Organisasi

Pengembangan dan pembelajaran talenta tidak harus dimulai dari program besar. Menurut Silzer dan Dowell (2010), pengembangan talenta adalah proses sistematis dan dinamis yang mencakup identifikasi, pembinaan, dan percepatan individu berpotensi tinggi untuk memenuhi kebutuhan organisasi saat ini dan masa depan. Artinya, talenta tidak cukup ditemukan. Ia harus dikenali, dirawat, dan diarahkan demi karier yang lebih baik.

Pertanyaannya, dari mana semua itu dimulai? Jawaban kami sederhana: dari orang-orang yang setiap hari ada di sekitar kita.

Banyak orang mengira talenta adalah bakat istimewa yang hanya dimiliki segelintir orang. Padahal, menurut Silzer dan Dowell (2010), pengembangan dan pembelajaran talenta adalah proses sistematis dan dinamis yang mencakup identifikasi, pembinaan, dan percepatan individu berpotensi tinggi untuk memenuhi kebutuhan organisasi saat ini dan masa depan. Artinya, talenta tidak cukup ditemukan. Ia harus dikenali, dirawat, dan diarahkan demi karier yang lebih baik.

Pertanyaannya, dari mana semua itu dimulai? Jawaban kami sederhana: dari orang-orang yang setiap hari ada di sekitar kita.

Suandi, Si Detail yang Kritis dan Berinisiatif

Suandi adalah anggota yang paling teliti. Ia jarang melewatkan detail dan terbiasa mempertanyakan sesuatu sebelum menyetujuinya. Inisiatifnya sangat tinggi, ia bergerak tanpa menunggu diminta.

Menurut tipologi gaya belajar Honey dan Mumford (1992), Suandi condong ke tipe theorist karena kritis dan sistematis, dengan sentuhan activist karena proaktif. Orang dengan karakter ini berkembang lewat tantangan, bukan tugas rutin. Karena itu, stretch assignment cocok untuknya, yakni penugasan yang sedikit di luar kompetensi saat ini untuk mendorong potensi dan mempercepat pembelajaran. Ia juga perlu Individual Development Plan (IDP) agar inisiatifnya terarah pada tujuan karier yang jelas. Tantangannya, sikap kritis yang berlebihan bisa memperlambat keputusan, sehingga ia perlu belajar menyeimbangkan ketelitian dengan kecepatan.

Muhammad Fikry Syahroni, Si Persuasif yang Mudah Beradaptasi

Fikry dikenal pandai memengaruhi orang lain. Saat diskusi buntu, ia mampu menyatukan pendapat yang berbeda. Ia juga cepat menyesuaikan diri ketika peran atau situasi berubah.

Lingkungan bisnis yang dinamis menuntut sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan model kerja baru. Kemampuan itu sudah dimiliki Fikry. Maka job rotation dan action learning cocok untuknya, karena keduanya melatih seseorang memahami fungsi yang berbeda dan menyelesaikan masalah nyata bersama tim. Ia juga berpotensi masuk dalam leadership pipeline, jalur penyiapan calon pemimpin. Agar pengaruhnya matang, ia perlu mentoring dari senior supaya kemampuan memengaruhi itu dibangun di atas substansi dan integritas, bukan hanya kepiawaian berbicara.

Adifia Rizqullah, Si Tenang Penjaga Suasana Kerja

Adifia adalah sosok yang tenang. Di tengah tenggat yang menekan, ia tidak ikut panik dan justru menjaga suasana kerja tetap nyaman. Kontribusi seperti ini sering luput dicatat karena tidak tampil sebagai angka, padahal sangat berpengaruh pada kekompakan dan produktivitas tim.

Karakter ini sejalan dengan peran coach. Coaching membantu seseorang menemukan solusinya sendiri lewat pertanyaan, refleksi, dan umpan balik, dan itu membutuhkan kemampuan mendengarkan yang baik. Adifia juga cocok dengan peer learning, yaitu belajar dari rekan sejawat melalui diskusi dan kolaborasi. Untuk jangka panjang, job enrichment berupa tambahan tanggung jawab dan otonomi akan menguji apakah ketenangannya dapat berkembang menjadi ketegasan dalam mengambil keputusan.

Tiga Karakter dalam Satu Tim

Dari proses ini kami melihat bahwa ketiga karakter tersebut saling melengkapi. Suandi menjaga kualitas, Fikry menggerakkan dan menyatukan, Adifia menjaga iklim kerja. Tim yang hanya berisi orang kritis bisa penuh perdebatan. Tim yang hanya berisi orang persuasif bisa kurang mendalam. Tim yang hanya berisi orang tenang bisa lambat bergerak. Kekuatan tim lahir dari komposisi, dan komposisi hanya bisa dikelola jika talenta dikenali lebih dulu.

Beda Pengembangan dan Pembelajaran Talenta

Dua istilah ini sering dianggap sama, padahal fokusnya berbeda. Pembelajaran talenta adalah upaya terencana untuk membekali individu dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan, misalnya lewat pelatihan, e-learning, dan workshop. Tujuannya menutup kesenjangan kompetensi. Pengembangan talenta berfokus pada pertumbuhan jangka panjang dan persiapan pemimpin masa depan, misalnya lewat coaching, job rotation, dan mentoring.

Keduanya perlu berjalan beriringan. Kolb (1984) menjelaskan bahwa pembelajaran adalah proses di mana pengetahuan diciptakan melalui transformasi pengalaman. Mengamati dan menganalisis rekan sendiri adalah pengalaman kecil yang membuat teori di buku terasa nyata.

Pelajaran bagi Organisasi

Pesan utamanya sederhana: jangan menunggu program besar untuk mulai mengenali talenta. Atasan, dosen, atau ketua tim bisa memulainya dari pengamatan jujur terhadap kekuatan tiap anggota, lalu menyusun rencana pengembangan yang sesuai.

Manfaatnya nyata. Organisasi menjadi lebih efisien karena memaksimalkan potensi talenta internal alih-alih terus bergantung pada rekrutmen eksternal. Karyawan pun cenderung lebih puas dan loyal karena merasa dihargai dan diberi kesempatan berkembang.

Talenta sebenarnya sudah ada di sekitar kita. Tugas kita adalah melihatnya, lalu memberinya ruang untuk tumbuh.