Herbarium Bogoriense: Penjaga Jejak Flora Indonesia

Pranata Humas di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Yetty Lestriani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Lebih dari empat dekade, Dr. Rugayah mendedikasikan kiprahnya di Herbarium Bogoriense, meneliti dan ikut mendokumentasikan di antara jutaan spesimen tumbuhan yang menjadi jejak kekayaan flora, sekaligus fondasi ilmu pengetahuan Indonesia.

Suasana di dalam Gedung Herbarium nyaris hening. Lorong panjang dipenuhi kabinet penyimpanan yang berjajar rapi. Keheningan ruangan berpadu dengan aroma khas spesimen tumbuhan yang telah diawetkan. Namun, di balik itu tersimpan salah satu pusat data pengetahuan botani paling penting dan terbesar di Asia Tenggara.
Bangunan yang berada di Kawasan Sains dan Teknologi (KST) Soekarno, Cibinong, Bogor ini dikenal sebagai Herbarium Bogoriense (BO), salah satu pusat penyimpanan koleksi tumbuhan (kering, basah) terbesar di Indonesia. Kini, pengelolaannya berada di bawah Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah, Deputi Bidang Infrastruktur Riset dan Inovasi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Di balik pintunya, tersimpan jutaan spesimen tumbuhan yang telah dikumpulkan dari berbagai penjuru Nusantara, menjadikannya salah satu pusat dokumentasi flora tropika terpenting di Indonesia.
Herbarium Bogoriense yang telah berdiri sejak 14 Agustus 1841, bukan sekadar tempat menyimpan daun-daun kering. Ia adalah bank data keanekaragaman hayati Indonesia, pusat referensi ilmiah, sekaligus benteng terakhir yang menjaga identitas flora Nusantara. Jutaan spesimen tumbuhan dari Sabang hingga Merauke tersimpan di sini sebagai bukti keberadaan kehidupan yang pernah tumbuh di alam Indonesia.
Herbarium terlahir seiring dengan dibangunya Kebun Raya Bogor pada masa kolonial Hindia Belanda. Awalnya herbarium ini berfungsi sebagai penyimpan dan pemelihara koleksi hasil inventarisasi flora Nusantara, terutama kawasan Malesia, wilayah biogeografi yang mencakup Indonesia, Malaysia, Singapore, Brunei Darussalam, Timur Leste, Papua Nugini, hingga Filipina.
Koleksinya juga mencakup duplikat spesimen herbarium dari berbagai herbaria lain. Seiring waktu, perannya berkembang menjadi pusat depositori dan penyedia bahan penelitian di bidang taksonomi tumbuhan, ekologi, etnobotani, hingga dokumentasi biodiversitas nasional serta sebagai referensi koleksi tumbuhan tropika pertama di Indonesia.
Di tempat inilah Dr. Rugayah, Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menapaki sebagian besar hidupnya. Sejak bergabung sebagai peneliti pada 1982, Dr. Rugayah telah berkarya selama lebih dari empat dekade meneliti dan mendokumentasikan kekayaan flora Indonesia.
"Bagi saya, herbarium bukan hanya tempat menyimpan spesimen. Herbarium adalah pusat kehidupan ilmu pengetahuan,"ujarnya
Ketika Daun Kering Menjadi Penjaga Peradaban
Banyak orang memandang herbarium sebagai kumpulan daun kering yang ditempel pada lembaran kertas. Padahal, menurut Rugayah, setiap spesimen menyimpan cerita yang jauh lebih besar.
Pada setiap lembar herbarium tercatat identitas tumbuhan secara rinci yaitu nama ilmiah, lokasi penemuan, tanggal pengambilan, nama kolektor, kondisi habitat, hingga berbagai catatan lapangan dan karakter-karakter yang hilang pada pemrosesannya seperti warna, aroma, dan rasa, maupun pemanfaatannya oleh masyarakat. Tanpa informasi tersebut, sebuah spesimen tidak memiliki arti ilmiah.
"Tanpa label itu, herbarium hanya seperti tumpukan dedaunan biasa dan koleksi herbarium basah yang sudah berubah warna, tetapi sesungguhnya di situlah tersimpan informasi yang sangat berharga,"ungkap Rugayah.
Data dasar inilah yang kemudian menjadi fondasi bagi berbagai disiplin ilmu. Peneliti farmasi membutuhkannya untuk mencari sumber senyawa obat baru. Ahli pertanian menggunakannya dalam pemuliaan tanaman untuk merajut kultivar baru. Para ekolog memanfaatkannya untuk mempelajari perubahan ekosistem. Bahkan kebijakan konservasi suatu spesies sering kali berawal dari informasi yang tersimpan pada satu lembar spesimen herbarium.
Menjelajah Nusantara Mencari Kehidupan
Menjadi peneliti taksonomi bukan pekerjaan yang hanya dilakukan di balik meja laboratorium. Sebaliknya, pekerjaan itu dimulai jauh dari ruang penyimpanan herbarium, dengan melakukan eksplorasi ke hutan-hutan tropis, pegunungan, rawa, hingga pulau-pulau terpencil.
Selama lebih dari 40 tahun berkarier, Dr. Rugayah telah mengikuti berbagai ekspedisi ilmiah ke pelosok Indonesia. Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya adalah penelitian di Pulau Wawonii, Sulawesi Tenggara, pada periode 2003–2006.
Pulau yang belum pernah dijelajahi peneliti asing sebelumnya ini menyimpan keanekaragaman hayati yang sangat tinggi, baik dari jumlah jenis maupun endemisitasnya yaitu banyaknya tumbuhan dan hewan yang hanya ditemukan di pulau tersebut, serta menyuguhkan panorama alam yang sangat menakjubkan.
Selama lima kali ekspedisi, tim peneliti berhasil mendokumentasikan berbagai jenis tumbuhan yang sebelumnya belum pernah tercatat sekaligus memetakan pola persebaran flora yang unik antara wilayah barat dan timur Indonesia.
Namun, ketika mengenang lokasi penelitian tersebut, saat ini kebanggaan ilmiah itu bercampur dengan rasa kehilangan. Sebagian kawasan yang dahulu dipenuhi hutan kini berubah akibat aktivitas pertambangan nikel. Habitat berbagai tumbuhan endemik ikut terancam, sumber air masyarakat terganggu, dan lanskap alami berubah dalam waktu yang relatif singkat.
Bagi seorang taksonom, kehilangan satu spesies bukan sekadar hilangnya satu nama dalam daftar flora. Itu berarti hilangnya bagian dari sejarah evolusi kehidupan yang mungkin tidak akan pernah dapat dipelajari kembali.
Herbarium: Penjaga Memori Bangsa
Menurut Rugayah, istilah herbarium paling tidak memiliki tiga arti utama. Pertama, sebagai koleksi spesimen tumbuhan yang berupa ranting yang telah dikeringkan dan diawetkan. Kedua, sebagai fasilitas penyimpanan yang mampu menjaga koleksi selama ratusan tahun. Ketiga, yang paling penting, sebagai lembaga yang bertugas mengumpulkan, merawat, dan memanfaatkan koleksi tersebut.
"Kalau herbarium tidak dimanfaatkan, ia hanya akan menjadi museum. Misinya bukan sekadar menyimpan, tetapi juga memelihara, pembaruan nama spesimen koleksi dan memanfaatkannya untuk penelitian, serta aktif melakukan pertukaran spesimen dengan herbarium lain di dunia,”ujarnya.
Pertukaran spesimen antar herbaria merupakan praktik ilmiah yang telah berlangsung sejak lama. Selain memperkaya penelitian, kegiatan ini juga menjadi strategi penyelamatan data apabila koleksi di suatu negara rusak akibat bencana alam, kebakaran, ataupun perubahan lingkungan.
Meskipun dunia digital telah berkembang pesat, dapat mendokumentasikan semua informasi dalam bentuk soft file, namun bagi peneliti taksonomi sosok spesimen herbarium masih sangat diperlukan. Karakterisasi suatu tumbuhan dapat diamati secara jelas dan diukur lebih tepat.
Di tengah laju deforestasi, perubahan iklim, dan alih fungsi lahan yang terus meningkat, herbarium menjadi arsip permanen yang menyimpan jejak flora Indonesia sebelum semuanya berubah.
Bagi masyarakat umum, nama ilmiah (bahasa latin) suatu tumbuhan sering dianggap rumit dan sulit diingat. Namun bagi para peneliti, nama ilmiah merupakan bahasa universal yang dapat menghubungkan seluruh penelitian di dunia. Nama adalah pembuka khasanah ilmu pengetahuan dan dengan menyebutkan sebuah nama, secara otomatis seseorang dapat mencirikan suatu benda.
Melalui identifikasi nama spesies yang tepat, data hasil penelitian bidang lain juga akan tepat. Ketepatan nama sangatlah penting karena dapat dimanfaatkan oleh berbagai bidang ilmu lain secara konsisten dan sebagai pijakan untuk penelitian lanjutan. Disinilah penelitian taksonomi diperlukan.
Meskipun taksonomi merupakan ilmu dasar, namun ilmu tersebut terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi, mulai dari pendekatan morfologi klasik, sitologi, kimia, genetika hingga analisis molekuler. Salah satu hasil penelitiannya berkontribusi dalam up dating nama-nama ilmiah yang terekam saat ini.
Di dalam menjaga kualitas spesimennya, suatu herbarium harus senantiasa mengikuti setiap perubahan klasifikasi dan melakukan validasi nama yang saat ini dianggap tepat. Salah satunya melalui jaringan ilmiah internasional seperti Plants of the World Online, World flora of line, sehingga seluruh komunitas ilmiah menggunakan standar data yang sama.
Menjaga Masa Depan dari Ruang yang Sunyi
Seiring perubahan bentang alam yang kian cepat, herbarium memegang peran penting sebagai penyimpan rekam jejak keanekaragaman tumbuhan. Dokumentasi yang rapi dan teliti menjadi fondasi bagi penelitian, konservasi, dan pengenalan spesies, termasuk yang kini semakin langka di habitat alaminya.
Rugayah meyakini bahwa keberlangsungan herbarium membutuhkan dukungan kebijakan jangka panjang serta komitmen kuat terhadap riset dasar. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang mampu menjaga kekayaan hayatinya adalah bangsa yang memahami pentingnya pengetahuan sebagai fondasi pembangunan.
"Bila satu spesies hilang sebelum sempat didokumentasikan, maka yang hilang bukan hanya tumbuhannya, tetapi juga pengetahuan yang dikandungnya,"tuturnya.
Selain itu, dengan kekayaan flora yang dimiliki Indonesia, keterlibatan generasi muda menjadi kunci untuk memastikan warisan hayati ini tetap lestari. Melalui herbarium, mereka dapat belajar mengenali keanekaragaman tumbuhan, memahami pentingnya data ilmiah, hingga berkontribusi dalam riset dan konservasinya.
Herbarium merupakan ruang belajar yang terbuka bagi pelajar, mahasiswa, peneliti, guru, dosen, hingga komunitas pecinta alam untuk mengenal kekayaan flora Indonesia secara langsung. Dari setiap spesimen, lahir pemahaman bahwa menjaga keanekaragaman hayati bukan hanya tugas peneliti, tetapi tanggung jawab bersama.
Di balik ruang koleksi Herbarium Bogoriense, jutaan spesimen tumbuhan menjadi jejak ilmiah yang merekam kekayaan flora Indonesia dari berbagai penjuru Nusantara. Lembaran-lembaran daun yang tampak sederhana itu sesungguhnya menyimpan memori kehidupan, sejarah evolusi, hingga potensi masa depan bagi pangan, kesehatan, dan konservasi.
Empat dekade pengabdian Rugayah menunjukkan bahwa menjaga warisan hayati tidak selalu dilakukan di garis depan yang riuh. Kadang, ia hadir dalam ketekunan yang nyaris tak terdengar dengan hasil penelitiannya melalui selembar daun kering. Dari ruang yang sunyi itulah masa depan pengetahuan tentang flora Indonesia terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman.
