Konten dari Pengguna

Mengenal Tage Lindbom, Filsuf Swedia yang Menyebut Demokrasi Mitos Modern

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yopi Makdori tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tak Sejalan dengan Semangat Zaman: Perkenalan Saya dengan Tage Lindbom

Ilustrasi/Yopi M.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi/Yopi M.

Di saat orang-orang berbondong-bondong ke utara, Tage Lindbom justru memilih jalan sunyi ke selatan. Ia duduk di sudut paling sepi di peradaban Barat, jalan tradisonalis.

Saya yakin sebagian besar dari kita belum mendengar nama Tage Lindbom, seorang pemikir konservatif asal Swedia. Sejauh ini namanya tidak pernah disebut dalam artikel atau literatur berbahasa Indonesia mana pun.

Di Barat, Lindbom juga tidak terlalu populer, bahkan di negara asalnya Swedia, karya-karya dia tidak banyak yang membaca. Hanya segelintir orang yang memang menekuni filsafat mungkin bertemu dengan pemikiran Lindbom.

Saya sendiri baru mengenal Lindbom, kendati telah memegang karya monumentalnya “Demokratin är en myt” atau “The Myth of Democracy” alias “Mitos Demokrasi” sejak lama. Buka itu tersimpan dalam sebuah diska lepas alias flashdisk yang bertahun-tahun tidak pernah saya gunakan.

Saya memang gemar mengamankan buku-buku yang diunduh dari pelbagai situs ke platform penyedia penyimpanan di awan, seperti MEGA, Mediafire atau dahulu yang pernah naik pamor 4Shared; dan terkadang ke diska lepas.

Buku Lindbom menjadi satu dari sekian buku yang diawatkan ke dalam diska lepas dan berada di sana cukup lama. Sampai satu ketika, saya bosan dan coba melihat-lihat isi sejumlah flash disk dan menemukan “The Myth of Democracy”.

Baru dari sana, saya menyadari briliannya Lindbom yang menarik benang merah demokrasi dengan pemikiran-pemikiran Barat dan membangun argumen bahwa ide itu bentuk perlawanan manusia terhadap otoritas Tuhan.

Garis Besar Isi Buku “The Myth of Democracy” karya Tage Lindbom

Melalui bukunya, Lindbom mengkritik habis-habisan dunia modern, sekularisasi, dan demokrasi. Menurutnya, selama berabad-abad, peradaban Barat telah berpindah dari tatanan yang berpusat pada Tuhan menjadi "Kerajaan Manusia" yang berpusat pada diri sendiri

Kisah panjang ini dimulai di ujung abad pertengahan, ketika Aristoteles kembali dibaca dan ilmu alam mulai merangkak masuk ke dalam pikiran Eropa. Dunia yang selama ini dipandang sebagai pantulan dari sesuatu yang lebih tinggi, yakni sebuah tatanan vertikal yang diikat kepada Tuhan, mulai dilihat sebagai dunia yang bisa dipahami dan dikuasai oleh akal manusia. Pengetahuan tak lagi semata-mata milik iman; ia menjadi ladang eksperimen.

Kemudian muncul William Ockham, yang dengan tajam merobek hubungan universal antara ciptaan dan Sang Pencipta. Nominalismenya membuka celah: bila universal tak lagi mengikat realitas, maka otoritas transenden menjadi goyah. Hubungan manusia dengan ilahi berubah dari garis lurus menjadi sesuatu yang lebih renggang; kebenaran ilahi kini lebih soal iman daripada pengetahuan empiris.

Renaisans dan humanisme menambah kayu ke dalam api itu. Seni, sains, dan cara hidup baru mengajarkan manusia untuk melihat dirinya sendiri bukan lagi sebagai makhluk yang ditentukan oleh tradisi sakral, melainkan sebagai agen kreatif. Pembacaannya tentang dunia makin profan, yang mana keindahan, makna, nilai semakin ditimbang oleh pengalaman duniawi.

Di abad ke-17 dan ke-18, Descartes memisahkan akal dari iman, menegaskan metode keraguan sebagai jalan menuju kepastian. Locke menempatkan pengalaman inderawi dan rasionalitas praktis sebagai dasar pemerintahan dan masyarakat. Dari sini, gagasan tentang manusia sebagai subjek otonom tumbuh subur: manusia yang dapat berpikir, memilih, dan mengatur nasibnya sendiri.

Ketika Revolusi Prancis meletup, bukan hanya raja yang jatuh. Simbol-simbol tatanan lama, otoritas yang bersandar pada kesinambungan vertikal antara manusia dan ilahi, runtuh. Di puing-puing pergolakan itu lahir keyakinan baru: bahwa manusia memiliki hak untuk menentukan nasibnya sendiri. Keyakinan ini, menurut Lindbom, tak lagi hanya politik praktis; ia berubah menjadi mitos: mitos tentang Kerajaan Manusia, di mana manusia menempatkan dirinya di pusat segala legitimasi.

Rousseau memainkan peran penting dalam mitos itu. Kontrak sosialnya, yang pada mulanya tampak sebagai alat rasional untuk mengatur hidup bersama, menurut Lindbom berkembang menjadi sesuatu yang hampir sakral. Konsep Kehendak Umum menjadi pijakan moral yang memindahkan legitimasi dari langit ke bumi, yakni dari Tuhan kepada kehendak kolektif manusia. Politik memperoleh aura suci baru, dan kehendak kolektif bisa menjadi ukuran kebenaran.

Dua arus besar liberalisme dan sosialisme berjalan di jalur yang berbeda namun menuju tujuan yang serupa: keduanya menantang tradisi vertikal dan menempatkan manusia di posisi sentral. Liberalisme merayakan kebebasan individu, pasar, dan wacana; sementara sosialisme menuntut keadilan kolektif dan pembebasan dari alienasi produksi. Keduanya, dengan cara masing-masing, memberi energi pada Kerajaan Manusia.

Di abad ke-20, hadir negara administratif besar yang Lindbom juluki sebagai Leviathan modern, yang mengatur hidup warga dengan teknik: statistik, birokrasi, dan teknologi. Ilmu menjadi instrumen pengelolaan.

Manusia mulai dipandang sebagai bagian dari sistem mekanis; perbedaan antara manusia dan mesin terasa kabur. Dalam bingkai ini, gagasan tradisional soal dosa, pengampunan, dan otoritas ilahi sulit menemukan tempat.

Heidegger memberi bingkai filosofis bagi suasana itu: keberadaan sebagai aliran waktu, pengalaman yang mengungkap, bukan sebagai sesuatu yang ditambatkan pada kebenaran transenden. Jika kebenaran hanya soal pengungkapan fenomenal, maka otoritas dogmatis runtuh dan sekularisasi menemukan formulasi yang rapi.

Setelah Perang Dunia II, Lindbom melihat terbentuknya sebuah trinitas budaya: Kerajaan Manusia, modernisme, dan demokrasi. Ketiganya saling menguatkan.

Demokrasi modern, yang membawa penghormatan pada kebebasan dan kesetaraan, berubah menjadi sistem yang bergantung pada kuantitas, suara mayoritas, statistik, ukuran tunggal yang memutuskan legitimasi. Modernisme menyatakan dunia cukup menjelaskan dirinya sendiri; Kerajaan Manusia menempatkan manusia sebagai penguasa moral terakhir. Gabungan ketiganya membentuk suatu tatanan di mana makna vertikal disingkirkan dan semua legitimasi direduksi menjadi kepentingan insan kolektif.

Namun di balik janji kebebasan dan kesetaraan itu, muncul paradoks. Kebebasan yang dipuja tanpa batas dapat mengikis norma dan menumbuhkan fragmentasi: individu-individu yang terpecah, mengejar hasrat pribadi tanpa pegangan bersama.

Kesetaraan yang dituntut secara kuantitatif dapat berubah menjadi mesin konformisme, menghapus beda demi keseragaman yang dapat diukur. Ketegangan antara kebebasan yang memecah dan kesetaraan yang menyeragamkan memanggil respons pengelolaan terpusat: negara yang semakin besar, semakin teknis.

Dalam ruang ketidakpastian itu, manusia mencari pelarian. Sebagian menenggelamkan diri dalam urusan privat, merutinkan hidup agar terasa bermakna. Sebagian lain menggantungkan harap pada pemimpin karismatik, figur yang memberi kemasan keluarga, ayah, atau penjelmaan tatanan yang hilang. Keduanya, menurut Lindbom, adalah jalan keluar palsu: menutup kecemasan eksistensial tanpa menyelesaikan akar persoalan tentang makna dan legitimasi.

Kesimpulannya sederhana namun berat, yakni kemenangan pasca-1945 bukan hanya kemenangan militerr; ia juga peneguhan struktur budaya yang menyingkirkan sisa-sisa tatanan tradisional. Demokrasi modern, modernisme, dan Kerajaan Manusia membentuk sebuah narasi baru, narasi yang memberi manusia posisi penguasa tetapi juga menutup ruang bagi pengampunan, vertikalitas moral, dan pluralitas makna.

Konsekuensinya bukan hanya krisis identitas, tetapi juga risiko otoritarianisme baru yang lahir dari kebutuhan untuk mengatur kehidupan kolektif secara efisien.

Kehidupan Lindbom

Ketertarikan saya terhadap gagasan-gagasan Lindbom mengantarkan pada pencarian akan kehidupan pribadinya. Cukup sedikit literatur yang menyinggung mengenai kehidupan sang tokoh. Hanya sebuah biografi yang digagas anaknya, Tomas Lindbom, yang menggambarkan secara utuh kehidupan filsuf yang wafat pada awal milenium ini.

Adalah “I otakt med tidsandan (2021),” buku yang secara detail mengulas kehidupan pribadi Lindbom dari kaca mata anaknya, Tomas. Namun, buku ini masih sukar didapatkan dan baru tersedia dalam bahasa Swedia.

Tapi untungnya saya menemukan sebuah siniar (podcast) berbahasa Swedia yang berisi wawancara dengan Tomas mengenai kehidupan ayahnya. Siniar Koranpodden bertajuk “Min pappa Tage blev muslim” (Ayah Saya Tage [Lindbom] Menjadi Seorang Muslim) itu mengungkap sisi pribadi Lindbom yang jarang diungkapkan.

Sebelum ke sana, kita mulai dengan hal umum yang telah banyak diketahui mengenai Lindbom. Ia lahir pada tahun 1909 di Malmö, kota terbesar ketiga di Swedia. Dia dibesarkan sebagai anak angkat dari Carl Theodor Lindbom dan Anna Sprinchorn. Setelah belajar di Universitas Uppsala, ia mendapatkan gelar fyllkand (sarjana penuh), dan pada tahun 1938, ia menjadi kepala Arsip dan Perpustakaan Gerakan Buruh.

Tage Lindbom adalah seorang sosialis yang gigih dan pada masa mudanya juga pernah menjadi seorang komunis. Sebagai pianis yang terampil, ia juga aktif dalam politik budaya, antara lain sebagai ketua komite investigasi musik negara tahun 1947 dan sebagai anggota dewan direksi Royal Theatre selama bertahun-tahun.

Seiring berjalannya waktu, Lindbom mulai meragukan visi sosialisme dan kehilangan kepercayaan pada partai sosial demokrat. Ia menarik diri, mempelajari sejarah ide Barat secara intensif, dan mengalami kebangkitan pribadi. Ia menjadi sangat religius, masuk Islam, dan mengambil nama Muslim Sidi Zaid. Ia menjadi konservatif secara agama dan antimodernis.

Di akhir hidupnya, Lindbom menjalani kehidupan yang menyendiri dan mengabdikan diri pada pengajaran spiritual, terutama melalui buku-bukunya. Lindbom meninggal pada 30 September 2001 di Stockholm.

Itu gambaran singkat soal Lindbom, secara lebih dalam mengenai sosoknya dijelaskan oleh Tomas dalam siniar yang dipandu Salih Tufekcioglu. Tomas menjelaskan bahwa masa kecil ayahnya sulit karena ia adalah anak di luar nikah yang pada usia satu setengah tahun dipindahkan dari keluarga angkat yang penuh kasih di Gothenburg ke pasangan tanpa anak di Hudiksvall. Pengalaman ini membentuk "perasaan beku" dan rasa "kemarahan" dalam dirinya.

Kemarahan ini mendorongnya ke dalam pemberontakan melawan otoritas dan konservatisme kota kecilnya, yang mengarah pada adopsi sosialisme. "Tage Lindbom menjadi sosialis karena kemarahan terhadap otoritas yang tidak memenuhi standar dan terhadap kurangnya kasih sayang," demikian kata Tomas dalam siniar tersebut.

Karier Lindbom

Tak diragukan lagi bahwa Lindbom adalah individu yang berbakat. Ia belajar di Universitas Uppsala, memperoleh gelar Fil. Kand. (Filosofian Kandidaatti, merupakan gelar pascasarjana dalam bahasa Finlandia yang setara dengan gelar Master atau S2) dalam waktu singkat. Pada tahun 1938, ia menjadi kepala Arsip dan Perpustakaan Gerakan Buruh.

Awalnya seorang sosialis yang yakin, Lindbom juga sempat menjadi komunis selama beberapa tahun di awal 1930-an. Tomas menceritakan bagaimana ayahnya, setelah terapi psikoanalitik, mulai "mencair" dari "kotak beku" batinnya, yang membuatnya meninggalkan Komunis dan kembali ke Sosial Demokrat sebagai "sosial demokrat reformis reguler."

Lindbom juga aktif dalam politik budaya, menjabat sebagai ketua Komite Musik Negara tahun 1947 dan anggota dewan Royal Theatre selama bertahun-tahun. Ia dianggap sebagai "orang penting dan mungkin akan menjadi Menteri Kebudayaan di pemerintahan Sosial Demokrat jika ia tidak melakukan 'penyimpangan' dengan mengkritisi kelompoknya sendiri.

Sesuatu yang dianggap sebagai penyimpangan ini bermula dari keraguan Lindbom terhadap visi sosialisme. Hal itu mulai muncul pada awal 1950-an. Ia kecewa dengan gerakan buruh yang semakin menjauh dari idealisme awalnya sebagai gerakan rakyat yang mengangkat kondisi materi dan spiritual, dan menjadi lebih berorientasi pada konsumsi dan pragmatisme material.

Ia mengamati bahwa kelas pekerja tidak lagi peduli dengan budaya, tidak lagi peduli dengan ide dan nilai sosialisme. Ini adalah titik balik baginya, di mana ia melihat bahwa masyarakat modern dan modernisme pada umumnya mengarah pada "teknokrasi" dan "top-down" alih-alih "bottom-up."

Setelahnya ia mengundurkan diri dari semua jabatan publiknya dan mulai "membaca kursus profesor di bidang filsafat," yang membawanya pada pemikiran konservatif dan akhirnya, konversi ke Islam (mualaf).

Konversi Tage Lindbom ke Islam, dan pengadopsian nama Muslim Sidi Zeid, adalah rahasia yang ia jaga dengan ketat selama bertahun-tahun. Tomas menemukan hal ini secara tidak sengaja pada usia 13 tahun, ketika menemukan ayahnya salat di kamarnya.

"Saya bertemu dengan sesuatu yang belum pernah saya impikan dan belum pernah saya lihat sebelumnya. Pertama, pencahayaan di dalam sangat remang-remang, dan ada lampu yang tidak saya kenal yang memancarkan cahaya yang sangat, sangat redup. Dan kemudian ketika saya melihat dalam cahaya redup ini, saya melihat sesosok tubuh terbaring di atas sajadah."

Konversi ini dirahasiakan karena Swedia pada tahun 1960-an adalah masyarakat yang sangat homogen, dan menjadi Muslim akan "sangat sulit" bagi karier dan reputasi intelektualnya. Lindbom menjelaskan, "Swedia adalah negara yang homogen dalam segala hal. Religius, budaya... ketika Anda belajar di sekolah... dipamerkan gambar-gambar orang salat... semua siswa tertawa dan menganggapnya lucu, dan saya duduk di sana dan tahu bahwa ayah saya melakukan itu di rumah."

Kerahasiaan ini berlanjut hingga tahun 1990-an, ketika Lindbom merasa bahwa imigrasi telah membuat Islam lebih umum di Swedia, dan ia mengizinkan putranya untuk menceritakan tentang konversinya.

Muslim Taat

Lindbom menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari, salat lima waktu dan berpuasa selama Ramadan. Tomas bercerita bahwa ayahnya menolak untuk meminum alkohol dan memakan daging babi saat jamuan Natal bersama saudaranya.

Bahkan di momen-momen akhir hidupnya, Lindbom banyak bercerita soal Islam kepada seorang perawat di rumah sakit tempatnya dirawat. Perawat pria itu bilang kepada Tomas, “ayahmu adalah pria yang baik. Ia berbicara begitu indah tentang Islam."

Bagi saya sendiri sebagai seorang Muslim, itu sangat indah dan unik, seseorang seperti Lindbom dengan sejarah hidup yang ia miliki, di waktu terakhir kehidupannya, dia memberikan kesan yang begitu baik kepada perawat malam itu.

Konservatif

Lindbom juga dikenal sebagai sosok konservatif, tapi konservatismenya berbeda dengan gerakan konservatif modern. Ia adalah seorang antimodernis yang berakar pada pemikiran klasik, seperti Plato, dan skolastisisme abad pertengahan, yang dianggapnya sebagai puncak budaya Barat. Baginya, Renaisans, Pencerahan, dan Romantisisme adalah "kemunduran."

Konservatismenya menekankan nilai-nilai tradisional seperti keluarga, otoritas, dan kebijaksanaan yang diturunkan antargenerasi. Ia sangat kritis terhadap kebijakan sekolah radikal yang mengutamakan "prinsip kesenangan" daripada tanggung jawab guru untuk menanamkan pengetahuan.

Lindbom juga secara "mengejutkan profetis" dalam pandangannya tentang masyarakat modern. Tomas menyiratkan bahwa ayahnya akan melihat perkembangan seperti operasi ganti kelamin, aborsi, dan eutanasia sebagai konsekuensi alami dari "kerajaan manusia" yang percaya pada "supremasi sendiri" dan hak untuk bereksperimen dengan tubuhnya sendiri. "Tidak ada batas sama sekali, dan kesenangan berada di pusat segalanya," katanya.

Sosok Lindbom di Mata Anaknya

Tomas menggambarkan tumbuh besar di bawah pengaruh ayahnya sebagai "menghambat." Lindbom menyediakan argumen dan pemikiran yang sudah jadi tentang kehidupan dan masyarakat, membuat Tomas merasa bahwa ia "tidak punya alasan untuk mengembangkan sesuatu."

Tomas awalnya memberontak terhadap pandangan ayahnya, memeluk modernisme dan postmodernisme. Tage pernah memarahinya dengan mengatakan, "Tomas, kamu adalah seorang modernis," yang merupakan "hal terburuk yang bisa dikatakan seseorang kepada putranya."

Setelah kematian ayahnya, Tomas perlahan-lahan kembali kepada pemikiran ayahnya, "tidak marah lagi" dan menghargai Lindbom sebagai "pemikir besar." Tomas kini telah menemukan keyakinan Kristen, meskipun Islam tetap "tertutup" baginya.