KKN UIN Walisongo Kembangkan Jamu Tradisional Banyubiru lewat Digital Marketing

Mahasiswa KKN
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Yunita Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Desa Banyubiru, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. Tim KKN UIN Walisongo posko 37 berhasil mengidentifikasi potensi dalam bidang pengembangan jamu tradisional yang dimiliki masyarakat setempat, khususnya melalui usaha yang dirintis oleh Ibu Lina sejak tahun 2019. Usaha ini bertempat di Dusun Tawangrejo, Desa Banyubiru, Kab. Semarang.
Perjalanan usaha Ibu Lina bermula dengan modal yang sangat terbatas, hanya Rp200.000. Dengan modal tersebut, beliau memulai produksi pertamanya dengan membuat 20 botol jamu kunyit asam. Meski skala produksi awal masih sangat sederhana, namun semangat wirausaha dan komitmen terhadap kualitas produk menjadi fondasi utama kesuksesan usahanya yang kini terus berkembang pesat.
Seiring berjalannya waktu, Ibu Lina tidak hanya berhenti pada satu jenis produk. Saat ini, usahanya telah menghasilkan berbagai macam jamu tradisional berkualitas tinggi seperti kunyit asam, beras kencur, temulawak, wejangan, mpon-mpon, pahitan, kunyit asam sirih, jahe rempah, gula asam, jahe susu, hingga lemon serai. Selain produk jamu cair, beliau juga mengembangkan lini produk sari kacang-kacangan yang meliputi sari kedelai, sari kacang hijau, dan sari kacang merah.
Keunggulan produk jamu Ibu Lina terletak pada komitmen terhadap bahan alami dan proses produksi yang higienis. "Saya selalu menggunakan gula jawa asli tanpa campuran apa pun, pewangi pandan yang saya pakai juga dari daun pandan asli, bukan yang sintetis. Yang paling penting, semua produk saya tidak menggunakan pengawet sama sekali," ujar Ibu Lina dengan penuh keyakinan terhadap kualitas produknya.
Namun, keunggulan kualitas produk ternyata belum cukup untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Tim KKN UIN Walisongo Posko 37 kemudian memberikan solusi melalui pendampingan pemasaran digital yang inovatif. Strategi yang diterapkan mencakup optimalisasi keberadaan usaha Ibu Lina di Google Maps sehingga lebih mudah ditemukan oleh konsumen, serta pembuatan akun Instagram yang berisi katalog produk secara lengkap dan menarik.
Bu Lina menambahkan, "Dulu saya hanya menjual ke tetangga dan sanak saudara. Dengan pemasaran digital, semoga banyak yang pesan lewat online. Hal ini benar-benar membuka jalan baru bagi usaha saya. Karena sebelum ini, saya hanya memasarkan secara offline saja". Beliau juga menjelaskan bahwa produknya memiliki masa simpan yang terbatas namun aman dikonsumsi, yaitu hanya 1 hari pada suhu ruangan dan hingga 7 hari jika disimpan di kulkas.
Keberhasilan pendampingan ini menjadi bukti nyata bahwa potensi desa dapat dikembangkan secara maksimal melalui sinergi antara pengetahuan akademik dan kreativitas masyarakat lokal. Tim KKN UIN Walisongo Posko 37 berharap bahwa model pengembangan berbasis digital ini dapat menjadi inspirasi bagi pelaku usaha lain di Desa Banyubiru, sehingga mampu menciptakan ekosistem ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan berbasis pada kearifan lokal. (Ekonomi dan Kewirausahaan_KKN MIT Posko 37)
