Konten dari Pengguna

Buku di Tangan, HP di Genggam : Mana yang Lebih Dinikmati?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zahra Arwiana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Jika satu tangan memegang buku dan tangan lainnya menggenggam smartphone, kira-kira mana yang akan diangkat lebih dulu. Ponsel pintar dengan segala notifikasinya, atau buku dengan segala ilmunya?

Jauh kebelakang sebelum masa digital menjadi konsumsi sehari-hari, buku telah mengajarkan manusia pengetahuan sedalam lautan. Melalui membaca buku, manusia mengasah daya pikirnya. Tentu membaca tidak hanya sekedar menghafal informasi. Melainkan memahami realitas dengan berbagai sudut pandang. Buku banyak menampung pengetahuan, namun tak hanya sekedar membaca suatu huruf. Ilmu menguji manusia dengan seberapa jauh ia berhasil menerapkan pengetahuannya dalam kehidupan nyata.

Zaman sekarang, orang tak perlu pusing-pusing untuk membuka atau membaca buku hanya untuk mencari suatu informasi. Mengingat ada ponsel pintar di genggaman yang mempermudah segala urusan. Tinggal tap-tap dan beres! Namun, apakah hal tersebut pantas dinormalisasikan?

Sumber : Dokumen Pribadi

Masa dimana segala hal dapat disulap menjadi serba digital, nyatanya tak selalu memberikan dampak positif. Terlalu sering bergantung pada media digital untuk mengakses informasi justru dapat menjebak pola pikir. Ponsel merupakan mesin yang bekerja dengan algoritma dan rentan menciptakan ruang gema (echo chamber). Fenomena Echo chamber dapat mengurung manusia dalam gelembung informasinya sendiri dan menutup opini atau pandangan orang lain mengenai informasi yang lain. Akibatnya, manusia mudah termanipulasi oleh data yang disajikan dalam media digital karena sering menerima informasi yang serupa. Akhirnya, seseorang menjadi menolak fakta yang tak sejalur dengan opini yang dicari karena ia tak suka pada oposisi dari informasi tersebut.

Disini pentingnya membaca secara kritis, tak hanya menerima teks informasi mentah-mentah. Melainkan memahami keadaan yang sesungguhnya dengan cermat. Mempelajari segala sesuatunya sampai ke ujung akar dari suatu pengetahuan. Pada akhirnya, buku mempunyai peran lebih dalam dari hanya sekedar benda yang dipegang.