Konten dari Pengguna

Gen Z dan Media Sosial: Hidup di Layar yang Nggak Pernah Tidur

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Zulaika Haura K tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pukul 01.00 dini hari, kamarku gelap dan hanya cahaya ponsel yang menerangi wajahku. Aku masih ingat malam itu dengan jelas. Awalnya aku hanya ingin memeriksa satu notifikasi. Namun, satu video membawaku ke video berikutnya, lalu ke unggahan teman yang sedang berlibur di pantai, kemudian ke unggahan teman lain yang baru diterima magang di perusahaan impiannya. Ketika akhirnya kuletakkan ponsel, dadaku terasa sesak. Aku merasa tertinggal, padahal tidak ada yang sedang berlomba denganku. Keesokan paginya, aku hampir terlambat ke kampus dan sulit berkonsentrasi di kelas.

Kejadian itu membuatku bertanya-tanya: apakah hanya aku yang mengalaminya?

Sumber: https://stockcake.com/i/teens-using-phones_852989_882854
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://stockcake.com/i/teens-using-phones_852989_882854

Ternyata tidak. Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026 mencatat penetrasi internet nasional mencapai 81,72 persen. Di antara kelompok generasi, generasi Z menempati posisi kedua dengan penetrasi 89,02 persen, hanya di bawah generasi milenial. Artinya, hampir sembilan dari sepuluh anak muda seusiaku sudah terhubung ke internet. Kami memang tumbuh bersama layar.

Menurutku, media sosial memberi banyak hal baik. Aku mengenal teman dari kota lain, belajar menyunting video dari tutorial gratis, dan melihat beberapa teman seangkatan mulai berjualan atau menjadi kreator konten. Sebuah kajian pustaka tentang remaja juga menyebutkan bahwa pengaruh media sosial bersifat ganda: di satu sisi media sosial mendukung hubungan dan dukungan sosial, tetapi di sisi lain dapat memengaruhi kesehatan mental.

Sisi gelap itulah yang kurasakan malam itu. Sejumlah penelitian di Indonesia menemukan keterkaitan antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental. Penelitian pada mahasiswa Universitas Muslim Indonesia menemukan hubungan yang bermakna antara durasi serta frekuensi penggunaan media sosial dan gejala depresi. Penelitian lain menyebutkan bahwa penggunaan media sosial lebih dari tiga jam per hari berisiko tinggi terhadap masalah kesehatan mental remaja. Sebuah kajian tentang kecemasan digital bahkan mencatat bahwa kelompok remaja yang paling aktif menggunakan media sosial rata-rata menghabiskan empat hingga enam jam per hari. Jika kuhitung, waktu layarku pada minggu-minggu itu termasuk dalam kelompok tersebut.

Setelah malam itu, aku mulai mengubah kebiasaan. Pertama, aku mengaktifkan pembatas waktu penggunaan aplikasi di ponsel, sehingga TikTok terkunci setelah satu jam. Kedua, aku meletakkan ponsel di seberang kamar saat tidur agar tidak tergoda menggulir layar tengah malam. Ketiga, aku berhenti mengikuti akun yang membuatku merasa kurang. Awalnya terasa janggal dan aku sempat gelisah. Namun, setelah dua minggu, tidurku lebih nyenyak dan aku lebih mudah berkonsentrasi di kelas.

Aku juga belajar memeriksa informasi. Di media sosial, berita dan hoaks sering tampak serupa, dan yang viral belum tentu benar. Sekarang aku membiasakan diri membaca sumber aslinya sebelum membagikan sesuatu.

Dari pengalaman dan data tadi, kesimpulanku sederhana: masalahnya bukan pada media sosial itu sendiri, melainkan pada cara kita menggunakannya. Berhenti total tidak realistis bagi kita yang hidup di era digital. Namun, kita dapat lebih sadar, membatasi waktu, memilih akun yang membuat kita bertumbuh, dan mengingat bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh jumlah tanda suka.