Konten dari Pengguna

Fenomena "Switch Career": Mencari Kepuasan di Luar Zona Nyaman

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anastasia Faradila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah switch career atau beralih profesi kian santer terdengar dalam peta ketenagakerjaan beberapa tahun terakhir. Fenomena ini merujuk pada tren di mana seorang pekerja memutuskan untuk berpindah ke bidang yang sepenuhnya baru, berbeda total dari latar belakang keahlian atau pendidikan awalnya.

Didominasi oleh kelompok Gen Z dan milenial, langkah ini bukan sekadar upaya berpindah instansi atau perusahaan. Lebih dari itu, switch career kini dipandang sebagai langkah strategis demi pertumbuhan pribadi dan aktualisasi diri. Kita bisa melihat contoh nyata pada seorang staf administrasi yang beralih menjadi pengembang web (web developer), atau karyawan kantoran yang memutuskan terjun penuh menjadi konten kreator.

Lantas, apa yang memicu maraknya fenomena ini? Setidaknya ada beberapa faktor pendorong utama, yaitu Ketidaksesuaian Nilai. Banyak pekerja merasa profesi saat ini tidak lagi memberikan kepuasan atau berseberangan dengan nilai pribadi mereka; Stagnasi Karier. Tidak adanya ruang untuk tumbuh dan berkembang di posisi saat ini; Faktor Lingkungan. Keinginan untuk keluar dari lingkungan kerja yang tidak sehat atau toxic; Motivasi Finansial dan Fleksibilitas. Mengejar kompensasi yang lebih tinggi serta waktu kerja yang lebih fleksibel.

sumber: freepik

Data menunjukkan bahwa fenomena ini bukan sekadar keresahan segelintir orang. Survei LinkedIn yang dirilis oleh Forbes taahun 2024 mengungkapkan bahwa 90% pekerja muda di berbagai kelompok usia telah berpikir serius untuk mengganti jalur karier profesional mereka. Hal ini menandakan meningkatnya keberanian individu untuk mengambil risiko demi keluar dari titik jenuh.

Secara teoritis, hubungan antara pekerja dan perusahaan dapat dijelaskan melalui Social Exchange Theory (SET), yang mengedepankan prinsip timbal balik. Secara sederhana, jika perusahaan memperlakukan karyawannya dengan baik, misalnya melalui program pengembangan diri, maka karyawan cenderung merasa memiliki "utang budi". Perasaan ini biasanya diwujudkan melalui peningkatan kepuasan kerja dan komitmen organisasi yang lebih kuat atau loyalitas.

Terkait loyalitas, Meyer dan Allen (1990) membagi alasan seseorang bertahan di suatu organisasi ke dalam tiga kategori komitmen. Affective Commitment, Bertahan karena ikatan emosional dan rasa bangga menjadi bagian dari instansi tersebut. Continuance Commitment, Bertahan karena pertimbangan untung-rugi secara ekonomi, seperti takut kehilangan penghasilan atau sulitnya mencari pekerjaan baru. Atau Normative Commitment. Bertahan karena merasa memiliki kewajiban moral atau tanggung jawab untuk tidak meninggalkan organisasi.

Namun, kepuasan kerja tidak sesederhana itu. Menurut Hoppock (1935), kepuasan kerja merupakan kombinasi dari aspek psikologis internal dan kondisi lingkungan fisik tempat bekerja. Ketika elemen-elemen kepuasan ini tidak lagi terpenuhi, maka switch career menjadi jalan keluar yang paling masuk akal.

Meskipun terdengar menjanjikan, switch career bukannya tanpa hambatan. Para pelakunya harus siap menghadapi tantangan besar, yaitu menguasai keterampilan baru dari nol (reskilling). Mereka juga harus siap bersaing di pasar kerja dengan para pakar yang sudah jauh lebih lama bergelut di bidang tersebut.

Pada akhirnya, keputusan untuk beralih jalur karier memerlukan kematangan strategi dan mental. Jadi, apakah Anda termasuk salah satu yang tertarik untuk melakukan switch career?