Konten dari Pengguna

Ilusi Capaian Administratif: Mengapa Pemimpin Sering Terjebak pada Kinerja Semu?

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Anastasia Faradila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah Anda merasa sesak saat melangkah masuk ke kantor, bukan karena tumpukan dokumen, tapi karena atmosfer yang kaku dan penuh kepura-puraan? Di banyak instansi pemerintah, kita sering menjumpai paradoks yang menggelitik: di dinding kantor terpampang poster besar tentang "Integritas", namun dalam keseharian, yang terjadi adalah tradisi "Asal Bapak Senang" (ABS) yang masih berakar kuat. Budaya kerja yang toxic ini sering dianggap sebagai nasib yang tak terelakkan, padahal sebenarnya ia adalah cerminan dari wajah pemimpinnya atau yang kita kenal sebagai Tone from the Top.

Terjebak dalam "Kinerja di Atas Kertas"

Awal tahun 2026 ini menjadi masa yang paling krusial sekaligus melelahkan bagi birokrasi kita. Inilah musim "hajatan" pelaporan, di mana setiap instansi seolah berlomba-lomba menyajikan wajah terbaik mereka dalam dokumen akuntabilitas kinerja. Di tengah hiruk-pikuk pengumpulan data dan konsolidasi laporan tahunan tersebut, ambisi untuk mendapatkan predikat nilai terbaik sering kali mengalahkan esensi dari pelayanan itu sendiri.

Dalam keriuhan musim pelaporan ini, lahir tren yang memprihatinkan: "Kinerja di Atas Kertas". Saat ini, banyak pemimpin yang seolah silau oleh angka-angka administratif. Mereka jauh lebih peduli pada grafik yang menanjak dan status laporan di aplikasi yang berwarna hijau, ketimbang apa yang sebenarnya dirasakan masyarakat di lapangan. Demi menjaga agar indikator kinerja tetap terlihat 'sempurna' di depan pimpinan pusat, kejujuran intelektual akhirnya dikorbankan demi validasi semu. Fenomena ini nyata terlihat dari meja-meja staf yang harus melakukan revisi berkali-kali, bukan untuk menajamkan substansi kebijakan, melainkan demi memastikan tampilan laporan terlihat tanpa celah secara administratif. Akibatnya, para staf terpaksa lembur demi mengejar hasil yang dianggap 'wah' di mata atasan meski terkadang angka yang disajikan berbeda jauh jika dibandingkan dengan realita di lapangan. Di sinilah manajemen integritas kita runtuh. Kecanggihan pelaporan digital justru menjadi alat untuk menutupi realita pelayanan publik yang sesungguhnya.

sumber: freepik

Jabatan Formal vs Pengaruh Nyata

Masalah ini berakar dari cara seseorang memimpin di tengah tekanan target. Mengacu pada pemikiran Peter G. Northouse (2019), banyak sosok di birokrasi yang memiliki kuasa hanya karena jabatan formal (assigned leadership), tapi mereka miskin pengaruh nyata yang diakui secara tulus oleh bawahannya (emergent leadership).

Karena merasa tidak memiliki pengaruh alami, pemimpin jenis ini biasanya akan lari ke gaya feodal yang kaku, terutama saat mengejar tenggat waktu laporan: anti-kritik, alergi pada masukan, dan menuntut loyalitas buta. Jika ada staf yang mencoba jujur tentang kendala target di lapangan, mereka sering dianggap sebagai "pengganggu" atau tidak loyal. Akibatnya, muncul "budaya ketakutan" yang secara perlahan membunuh kreativitas para ASN muda yang baru masuk dengan idealisme tinggi.

Tantangan Klaster Budaya

Kultur kolektif kita di Indonesia sering kali disalahartikan. Kebersamaan diartikan sebagai "jangan berbeda pendapat", dan harmoni dianggap sebagai "jangan buka aib organisasi". Berdasarkan studi GLOBE yang dikutip Northouse, pemimpin yang efektif seharusnya mampu beradaptasi dengan budaya tanpa harus kehilangan kompas moral.

Pemimpin birokrasi yang ideal bukanlah sosok diktator yang menakutkan, melainkan sosok yang mampu membangun kepercayaan diri timnya. Seperti yang diingatkan oleh Abraham Lincoln, karakter asli seseorang baru terlihat saat ia memegang kekuasaan. Apakah kekuasaan itu digunakan untuk memperbaiki sistem, atau justru untuk membangun tembok administratif yang menutupi kenyataan?

Kembali ke Integritas Manusia

Budaya organisasi bukanlah benda mati. Ia hidup dari perilaku pemimpinnya setiap hari. Transformasi birokrasi kita tidak akan pernah berhasil jika hanya berhenti pada urusan aplikasi dan tumpukan regulasi tahunan. Kita butuh pemimpin yang berani menanggalkan gengsi jabatan; pemimpin yang lebih memilih menerima laporan yang jujur meskipun hasilnya belum maksimal, daripada laporan yang terlihat "hijau" tapi palsu.

Pada akhirnya, pemimpin adalah nakhoda. Jika nakhodanya lebih sibuk memoles tampilan kapal agar terlihat megah dalam laporan tahunan sementara lambungnya bocor, maka karamnya kapal tersebut tinggal menunggu waktu. Budaya jujur harus dimulai dari meja paling atas, karena integritas tidak pernah bisa dipaksakan dari bawah; ia harus dicontohkan dari atas.