Kesalahan Investor Pemula dalam Berinvestasi

Analis Yunior di Bank Indonesia
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Andri Pratama Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika kecil kita rajin menabung di celengan ayam, ketika remaja kita menabung di tabungan. Kini kita memiliki peluang meningkatkan hasil tabungan melalui investasi. Salah satunya ialah melalui pasar keuangan. Pasar keuangan merupakan tempat berinvestasi yang dapat dilakukan oleh siapapun dan kapanpun.
Investasi adalah salah satu usaha dalam meningkatkan penghasilan jangka panjang. Seiring berkembangnya kemudahan dan teknologi, akses informasi, dan mudahnya mendapatkan informasi, mendorong investor pemula tertarik memasuki pasar keuangan, seperti reksadana, obligasi, atau saham. Dibalik banyaknya investor pemula, risiko kesalahanpun mengintai dan tidak dapat dihindari. Kesalahan itu menyebabkan kerugian finansial jika minim akan pengetahuan.
Salah satu kesalahan umum investor pemula adalah berinvestasi tanpa tujuan jelas. Banyak individu berinvestasi mengikuti tren tanpa memahami alasan berinvestasi. Padahal, tujuan investasi sangat penting karena akan menentukan strategi serta risiko. Investor yang tidak memiliki tujuan akan mudah panik ketika menghadapi fluktuasi pasar mengambil keputusan yang irasional.
Kesalahan selanjutnya ialah minim literasi akan instrumen investasi. Banyak investor pemula membeli produk investasi karena mendengar rekomendasi dari influencer, komunitas, atau media sosial tanpa melakukan menganalisis dahulu. Fenomena ini sering dikenal dengan istilah ikut-ikutan atau herd behavior. Akibatnya, investor membeli aset pada harga yang sudah ttinggi atau tidak sesuai dengan profil risikon. Setiap instrumen investasi memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda. Oleh karena itu, investor perlu mempelajari produk investasi yang akan dipilih.
Selain itu, investor pemula sering kali memiliki ekspektasi keuntungan yang terlalu tinggi dalam waktu singkat. Banyak orang tertarik berinvestasi karena melihat cerita kesuksesan investor lain dalam waktu cepat. Namun, mereka sering mengabaikan fakta investasi pada dasarnya memerlukan kesabaran dan proses. Harapan memperoleh keuntungan instan dapat mendorong investor mengambil risiko yang berlebihan, seperti menggunakan seluruh dana untuk membeli saham spekulatif. Ketika hasil yang diharapkan tidak tercapai, investor memutuskan untuk keluar dari pasar dengan kerugian.
Kesalahan lainnya adalah tidak mendiversifikasi portofolio. Diversifikasi merupakan strategi menyebarkan investasi ke berbagai aset untuk mengurangi risiko kerugian. Namun, banyak investor pemula menempatkan seluruh dana mereka pada satu saham atau satu jenis investasi karena tergiur potensi keuntungan. Strategi ini berisiko karena apabila aset tersebut mengalami penurunan nilai yang signifikan, seluruh portofolio investor juga akan terdampak.
Kurangnya pengelolaan risiko juga menjadi kesalahan yang sering dilakukan. Banyak investor hanya fokus pada potensi keuntungan tanpa mempertimbangkan kemungkinan kerugian. Mereka tidak menetapkan batas kerugian yang dapat diterima atau tidak memiliki strategi keluar ketika investasi mengalami penurunan. Dalam dunia investasi, risiko merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari potensi keuntungan. Oleh karena itu, investor perlu memahami profil risiko dan menerapkan manajemen risiko yang tepat agar dapat melindungi modal investasi.
Emosi juga menjadi faktor utama yang menyebabkan investor pemula melakukan kesalahan. Ketika harga aset naik secara signifikan, investor sering merasa takut ketinggalan peluang atau fear of missing out (FOMO), sehingga membeli aset pada harga yang sudah tinggi. Sebaliknya, ketika pasar mengalami penurunan, investor panik dan menjual aset dengan harga rendah karena takut mengalami kerugian yang lebih besar. Perilaku ini bertentangan dengan prinsip investasi yang baik, yaitu membeli ketika harga masih wajar dan menjual berdasarkan analisis, bukan berdasarkan emosi.
Kesalahan berikutnya adalah terlalu sering melakukan transaksi atau overtrading. Investor pemula sering menganggap bahwa semakin banyak transaksi yang dilakukan, semakin besar peluang mendapatkan keuntungan. Padahal, transaksi yang terlalu sering dapat meningkatkan biaya investasi, seperti biaya broker dan pajak, serta meningkatkan risiko pengambilan keputusan. Selain itu, terlalu sering memantau pergerakan harga juga dapat membuat investor lebih emosional dan mudah terpengaruh oleh fluktuasi jangka pendek.
Banyak investor pemula juga mengabaikan pentingnya analisis fundamental dan teknikal. Mereka lebih mengandalkan rumor, informasi, atau rekomendasi orang lain. Padahal, analisis fundamental dapat membantu investor memahami prospek perusahaan dan kondisi keuangan, sedangkan analisis teknikal dapat digunakan untuk mempelajari pola pergerakan harga di pasar. Dengan mengombinasikan kedua pendekatan tersebut, investor dapat membuat keputusan yang lebih objektif dan berdasarkan data.
Selain itu, investor pemula sering kali menggunakan dana yang tidak seharusnya digunakan untuk investasi, seperti dana kebutuhan sehari-hari atau dana darurat, atau uang panas. Keputusan ini dapat menimbulkan masalah keuangan ketika terjadi kebutuhan mendesak dan dana tidak dapat dicairkan dengan mudah atau mengalami penurunan nilai. Sebelum mulai berinvestasi, seseorang sebaiknya memiliki dana darurat yang cukup dan memastikan bahwa dana yang digunakan untuk investasi merupakan dana untuk tujuan jangka menengah atau jangka panjang.
Pada simpulannya, kesalahan investor pemula disebabkan kurangnya pengalaman, pengalaman, serta pengendalian emosi dalam menghadapi dinamika pasar. Kesalahan seperti yang dijabarkan sebelumnya dapat menghambat pencapaian tujuan keuangan. Oleh karena itu, edukasi keuangan dan peningkatan literasi investasi menjadi aspek yang penting bagi investor pemula. Dengan memahami prinsip dasar investasi, investor dapat membangun strategi investasi, mengurangi risiko kerugian, dan meningkatkan peluang memperoleh hasil investasi jangka panjang.
