Konten dari Pengguna

IPK Tinggi, tapi Takut Berpendapat: Ada Apa dengan Pendidikan Kita?

sumber: pexels
zoom-in-whitePerbesar
sumber: pexels

Memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tinggi tentu menjadi kebanggaan bagi mahasiswa. Banyak mahasiswa yang berusaha keras mengerjakan tugas, mengikuti perkuliahan, dan mempersiapkan ujian demi mendapatkan nilai terbaik. Namun, pernahkah kita berpikir bahwa nilai akademik yang tinggi belum tentu selalu mencerminkan keberanian seseorang dalam menyampaikan pendapat?

Dalam kehidupan perkuliahan, kita mungkin pernah menjumpai situasi ketika dosen selesai menjelaskan materi dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk bertanya. Alih-alih terjadi diskusi, ruang kelas justru menjadi hening. Sebagian mahasiswa memilih diam karena takut salah, malu, atau khawatir pertanyaannya dianggap kurang berbobot.

Fenomena ini menarik untuk diperhatikan karena perguruan tinggi seharusnya menjadi tempat mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis. Sayangnya, kebiasaan mengejar nilai terkadang membuat mahasiswa lebih berfokus pada jawaban yang benar daripada memahami dan mempertanyakan materi yang dipelajari.

John Dewey dalam bukunya Democracy and Education (1916/2021) memandang pendidikan sebagai proses yang berkaitan dengan pengalaman dan kehidupan demokratis. Pendidikan tidak hanya berfungsi menyampaikan pengetahuan, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran.

Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa mahasiswa seharusnya tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga memiliki ruang untuk berdiskusi, bertanya, dan menyampaikan pandangan yang berbeda.

Sejalan dengan itu, bell hooks dalam Teaching to Transgress (1994) menekankan pentingnya pendidikan sebagai praktik kebebasan. Pembelajaran seharusnya menciptakan ruang yang mendorong keterlibatan aktif mahasiswa, bukan sekadar hubungan satu arah antara dosen dan mahasiswa.

Jika mahasiswa terus merasa takut untuk bertanya atau mengemukakan pendapat, maka proses pendidikan berisiko kehilangan salah satu tujuan pentingnya, yaitu membentuk individu yang mampu berpikir secara mandiri.

Tentu saja, tidak semua mahasiswa yang diam berarti tidak memiliki pemikiran kritis. Ada mahasiswa yang membutuhkan waktu untuk memahami materi, ada pula yang merasa kurang percaya diri ketika harus berbicara di depan banyak orang. Karena itu, lingkungan pembelajaran perlu memberikan ruang yang aman dan terbuka bagi setiap mahasiswa.

Dosen dapat mendorong diskusi dengan menghargai pertanyaan dan perbedaan pendapat. Sementara itu, mahasiswa juga perlu membiasakan diri untuk berani menyampaikan gagasan, meskipun belum tentu semua pendapatnya benar.

Pada akhirnya, IPK tinggi tetap menjadi pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, pendidikan tidak seharusnya hanya menghasilkan mahasiswa yang pandai menjawab soal ujian, melainkan juga mahasiswa yang mampu mempertanyakan sesuatu, berpikir kritis, dan menyampaikan pendapat dengan bertanggung jawab.

Sebab, keberhasilan pendidikan bukan hanya tentang seberapa tinggi nilai yang kita peroleh, tetapi juga seberapa berani kita menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk memahami dan mempertanyakan dunia di sekitar kita.