Menhub Akan Ikuti Rekomendasi KNKT soal Kecelakaan Kereta di Bekasi

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan pemerintah akan menjalankan rekomendasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) terkait hasil investigasi kecelakaan maut KA Argo Bromo dengan KRL di Bekasi Timur.
Dudy menyebut, rekomendasi tersebut akan menjadi acuan bagi Kementerian Perhubungan maupun PT KAI untuk melakukan perbaikan.
“Apa yang menjadi rekomendasi KNKT tentu akan dijalankan ya. Baik dari kementerian maupun dari operator dalam hal ini KAI. Jadi apa yang menjadi masukan yang menjadi kesimpulan itu harus kami jalankan,” kata Dudy kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (30/9).
Dudy mengatakan, investigasi kecelakaan dan proses hukum pidana dilakukan oleh pihak yang berbeda. KNKT melakukan investigasi dari sisi kecelakaan, sedangkan kepolisian melihat kejadian tersebut dari aspek pidana.
“Jadi karena ini sudah masuk ke dalam ranahnya masing-masing, jadi kami serahkan kepada masing-masing pihak,” tutur Dudy.
Dudy juga mengatakan, pemerintah tidak ingin terburu-buru mengambil kesimpulan terkait penyebab kecelakaan.
Meski demikian, Kementerian Perhubungan sebagai regulator akan mendorong operator untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), sekaligus memperhatikan aspek sarana dan prasarana perkeretaapian.
“Jadi kalau berkaitan dengan peningkatan SDM, kami sebagai regulator tentu akan mendorong operator untuk senantiasa meningkatkan kualitas SDM, bukan hanya kualitas SDM tapi juga dengan sarana dan prasarana lainnya, ya,” sambungnya.
Dudy mengatakan langkah jangka pendek untuk mencegah kecelakaan serupa juga akan disesuaikan dengan rekomendasi KNKT.
“Ya, kita nanti saya coba lihat lagi apa yang disampaikan oleh KNKT berkaitan dengan apakah rekomendasinya terkait dengan pembinaan SDM atau hal-hal lain tentu kita akan ikuti apa yang menjadi rekomendasi KNKT,” kata Dudy.
“Itu nanti kita serahkan kepada kepolisian untuk menindaklanjuti temuan itu dan juga dari KNKT. Kalau memang itu masuk dalam rekomendasinya, kami akan jalankan apa yang menjadi rekomendasi KNKT,” sambungnya.
Untuk penyempurnaan aspek teknis bersama PT KAI, Dudy mengatakan Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan akan berkoordinasi dengan KAI setelah melihat rekomendasi KNKT.
“Kita akan lihat di rekomendasinya KNKT kemudian kita Dirjen Perkeretaapian akan melakukan koordinasi secara teknis, ya,” pungkasnya.
Hasil Investigasi KNKT
Kecelakaan ini bermula dari KRL yang menabrak taksi hijau Green SM mogok di sebuah perlintasan sebidang. KRL itu berhenti sesaat setelah meninggalkan Stasiun Bekasi Timur, lalu ditabrak KA Argo Bromo yang melaju dari arah Jakarta.
Adapun hasil investigasi KNKT terhadap kecelakaan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sinyal kuning yang hilang
Argo Bromo dapat sinyal hijau saat keluar Stasiun Bekasi, lalu langsung bertemu sinyal merah karena ada KRL berhenti di Bekasi Timur.
Seharusnya ada sinyal kuning sebagai peringatan sebelum merah, tapi tidak muncul. Celah ini ada sejak Stasiun Bekasi dirombak tahun 2021. Gambar desainnya tak memperlihatkan kondisi ini, jadi tak ada yang sadar sampai kecelakaan terjadi.
2. Laporan darurat lambat dipahami
Masinis KRL yang menabrak taksi melapor lewat panggilan biasa, bukan tombol darurat. la bicara terlalu jauh dari mikrofon, sehingga suaranya bergema, bergetar, dan pelan. Belum ada aturan baku cara melapor saat darurat.
Butuh 3 menit 20 detik sampai petugas paham situasinya.
3. Panggilan yang tak terjawab
Masinis KRL mencoba mengabarkan keretanya berhenti di Stasiun Bekasi Timur karena ada kerumunan warga di rel.
Petugas sedang sibuk melapor soal tabrakan taksi, jadi panggilan tak terdengar.
Karena memakai panggilan biasa, tak ada tanda darurat di meja petugas. Akibatnya, tak ada yang tahu ada kereta tertahan di depan Argo Bromo.
4. Dua petugas, tak saling berkabar
KRL dihubungi petugas Pusat Kendali Selatan, Argo Bromo dihubungi petugas Pusat Kendali Timur. Tak ada prosedur agar kedua pusat kendali saling berbagi info.
Petugas Timur hanya tahu ada kecelakaan karena ikut mendengar radio, dengan info yang tak lengkap. Arahannya ke masinis Argo Bromo pun kurang tepat.
5. Sinyal peringatan yang terlewat
Sinyal merah di depan tertutup tikungan, jadi baru terlihat dari dekat. Karena itu, sebelumnya dipasang sinyal peringatan yang memberi tahu: “sinyal di depan merah, siap-siap berhenti.”
Masalahnya, lampu sinyal ini sulit terlihat di malam hari. Kaca depan lokomotif penuh goresan, sehingga semua cahaya tampak buram. Masinis baru melewati sinyal hijau, jadi tidak menyangka harus berhenti.
Akibatnya, lampu peringatan itu terlewat, dan masinis baru sadar saat sinyal merah sudah dekat.
6. Masinis Argo Bromo tak tekan rem darurat
Saat melihat sinyal merah, Argo Bromo sedang di tikungan dengan kecepatan tinggi.
Masinis khawatir rem darurat bisa membuat kereta anjlok, jadi ia rem biasa dulu, lalu rem darurat setelah keluar tikungan. la belum pernah dilatih untuk situasi ini, dan memang tak ada prosedur resminya.
