Meriahnya Ritual Kebo-keboan Alasmalang di Banyuwangi

Ribuan warga dan wisatawan memadati Desa Alasmalang, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Minggu (28/6). Mereka antusias menyaksikan ritual adat Kebo-keboan Alasmalang, sebuah tradisi tahunan sebagai ungkapan rasa syukur atas kesuburan tanah dan hasil panen yang melimpah.
Ritual sakral ini dimulai dengan kenduri desa, di mana warga makan bersama dengan hidangan tumpeng dan lauk tradisional khas Banyuwangi, Pecel Pithik.
Acara kemudian dilanjutkan dengan prosesi ider bumi. Dalam prosesi ini, puluhan "kerbau" diarak mengelilingi desa menuju empat penjuru mata angin.
"Kerbau" ini, bukan hewan ternak, melainkan warga desa yang berdandan menyerupai kerbau. Tubuh mereka dilumuri jelaga hitam pekat, lengkap dengan aksesori tanduk di kepala serta gelang kerincing di tangan dan kaki.
Sepanjang rute, para pelaku ritual ini berjalan layaknya kerbau yang membajak sawah, berkubang, dan bergulung-gulung di lumpur dengan perut yang ditali.
Warisan Karakter Masyarakat Agraris
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan apresiasinya kepada para sesepuh adat, budayawan, dan pemuda setempat yang konsisten menjaga kelestarian tradisi yang sudah ada sejak abad ke-18 ini.
Menurut Ipuk, Kebo-keboan bukan sekadar tontonan, melainkan refleksi kuat dari kultur masyarakat agraris yang sarat nilai gotong royong, kerja keras, dan disiplin.
"Nilai ini sesuai dengan semangat Banyuwangi 'tandang bareng'—kerja bersama, tumbuh bersama. Di mana semua capaian prestasi dan hasil kinerja Banyuwangi adalah hasil gotong royong seluruh masyarakat," ujar Ipuk dalam sambutannya.
Pikat Wisatawan Asing hingga Bawa Berkah Ekonomi
Keunikan tradisi mistis ini rupanya sukses menarik perhatian wisatawan mancanegara. Salah satunya adalah Tara, turis asal Amerika Serikat yang sengaja datang setelah sebelumnya mendaki Gunung Ijen.
"Ini sangat unik. Saya belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya. Menakjubkan," kata Tara.
Tak hanya menjadi magnet wisata, pergelaran budaya ini juga membawa berkah ekonomi bagi warga lokal. Siti, salah seorang pemilik warung di sekitar lokasi acara, mengaku dagangannya habis tak tersisa berkat membeludaknya pengunjung.
"Mulai minuman, camilan, semuanya laris, Alhamdulillah," ucap Siti.
Sebagai informasi, tradisi Kebo-keboan memiliki akar sejarah yang kuat di Banyuwangi. Berawal dari kisah Buyut Karti yang mendapat wangsit untuk menggelar upacara bersih desa, tradisi ini kini rutin digelar di dua tempat di Banyuwangi, yakni Desa Alasmalang (Singojuruh) dan Desa Aliyan (Rogojampi).
