Kumparan Logo

Kritikus Film: Perlu Ada Perbaikan Terhadap Sistem Penilaian FFI

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
FFI meluncurkan logo baru. Foto: Instagram/ @festivalfilmid
zoom-in-whitePerbesar
FFI meluncurkan logo baru. Foto: Instagram/ @festivalfilmid

Festival Film Indonesia (FFI) 2026 menuai kritik. Salah satu yang menjadi pembicaraan adalah mengenai Irma Rihi, pemain film Na Willa, yang tidak masuk nominasi.

Menanggapi hal itu, kritikus film Hikmat Darmawan menyoroti sistem seleksi yang perlu dievaluasi. Seleksi saat ini dilakukan dengan cara voting.

"Jadi pengin menggabungkan antara model Oscar yang semacam voting ya, dari anggota akademi yang 5.000 orang itu, dengan kemudian ada kayak Cannes, ada penjurian akhir," kata Hikmat kepada kumparan.

Hikmat mengatakan sistem seleksi dilakukan oleh orang-orang industri, mulai dari asosiasi tertentu hingga kelompok PH yang dominan.

Pengamat film Hikmat Darmawan. Foto: IG/@hikmat_darmawan

Hikmat mengatakan seleksi berdasarkan voting memiliki kelemahan, misalnya tidak ada jaminan pemilih menonton semua film. Akhirnya, memilih berdasarkan proxy (kedekatan) atau familiaritas.

"Jadi yang dikenal-kenal dalam sirkel-sirkel tertentu di industri, di ekosistem yang sedang didominasi oleh kelompok-kelompok tertentu, gitu," tuturnya.

Namun, menurut Hikmat, hal itu bukan merupakan unsur kejahatan atau unsur kesengajaan. Mungkin keadaannya yang membuat kelompok tertentu jadi lebih dominan.

"Kita harus mawas pada sistemnya, bukan pada orang per orang atau kelompok per kelompok," ucapnya.

Gurauan Harus Jadi Koreksi untuk FFI Terkait Sistem Penilaian

Karena itu, menurut Hikmat, munculnya gurauan FFI merupakan Festival Film Innercircle harus dijadikan sebagai koreksi untuk perbaikan ke depannya.

"Itu harus menjadi bagian dari mekanisme koreksi atau perbaikan terhadap sistem penilaian FFI," ungkapnya.