Konten dari Pengguna

“Kuliah Scam” Menjadi Narasi: Antara Kritik, Realitas Dunia Kerja, dan Harapan

Andrian Rahmat Nurul Fauzi

Andrian Rahmat Nurul Fauzi

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Andrian Rahmat Nurul Fauzi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi pribadi 2026 : wawancara kemendikti saintek beasiswa KIP Kuliah
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi pribadi 2026 : wawancara kemendikti saintek beasiswa KIP Kuliah

Persoalan biaya masih menjadi salah satu tantangan bagi masyarakat untuk mengakses pendidikan tinggi. Namun, keterbatasan ekonomi tidak seharusnya menjadi alasan bagi generasi muda untuk menghentikan cita-cita melanjutkan pendidikan. Melalui berbagai skema beasiswa, termasuk Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP Kuliah), mahasiswa dari kelompok ekonomi kurang mampu tetap memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan hingga jenjang sarjana.

Hal tersebut disampaikan narasumber dalam wawancara Tim PKM-RSH IPB yang tengah mengkaji narasi “kuliah scam” dan persepsi Generasi Z terhadap urgensi pendidikan tinggi. Menurutnya, KIP Kuliah bukan hanya memberikan bantuan biaya pendidikan, tetapi juga menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan akademik dan keterampilan lainnya.

KIP Kuliah merupakan bantuan pendidikan yang mencakup biaya pendidikan dan biaya hidup. Program tersebut sebelumnya dikenal dengan nama Bidikmisi dan mulai berganti nama menjadi KIP Kuliah pada 2020.

Bukan Sekadar Membayar Biaya Kuliah

Pendidikan tinggi sering kali dikaitkan dengan peluang memperoleh pekerjaan setelah lulus. Namun, menurut narasumber, manfaat kuliah tidak semata-mata diukur dari pekerjaan yang diperoleh setelah menyelesaikan pendidikan.

“Di perkuliahan itu tidak hanya tentang pekerjaan saja, tetapi bagaimana kita mengasah skill dan yang lainnya,” ujarnya.

Karena itu, penerima KIP Kuliah tidak hanya mendapatkan dukungan finansial. Mereka juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan soft skill, kepemimpinan, hingga literasi keuangan melalui berbagai program pengembangan.

Menurut narasumber, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar memperoleh ijazah. Mahasiswa dapat membangun kompetensi yang menjadi bekal untuk menghadapi kehidupan setelah lulus.

Prestasi Akademik dan Peluang Kerja

Manfaat dukungan pendidikan juga terlihat dari capaian akademik penerima KIP Kuliah. Narasumber menyampaikan bahwa berdasarkan tracer alumni penerima KIP Kuliah yang dilakukan pada 2023, dari sekitar 20.000 sampel, sebanyak 98 persen memiliki IPK di atas 3.

Ia juga menyebut adanya penerima KIP Kuliah yang setelah menyelesaikan pendidikan dapat langsung memasuki dunia kerja. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa bantuan pendidikan dapat membantu mahasiswa menyelesaikan pendidikan sekaligus meningkatkan kapasitas mereka untuk memasuki dunia profesional.

Dengan demikian, anggapan bahwa pendidikan tinggi tidak memberikan manfaat perlu dilihat secara lebih utuh. Keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya pekerjaan setelah lulus, tetapi juga oleh proses pembentukan kemampuan selama menjalani pendidikan.

Media Sosial dan Cerita Keberhasilan

Di tengah maraknya informasi mengenai “kuliah scam” di media sosial, penyampaian cerita keberhasilan penerima beasiswa menjadi penting. Media sosial dapat menjadi sarana untuk memperlihatkan pengalaman mahasiswa yang berhasil memperoleh kesempatan pendidikan melalui bantuan pemerintah.

Narasumber menjelaskan bahwa pemerintah juga memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan best practice dan success story penerima KIP Kuliah. Cerita mengenai mahasiswa berprestasi diharapkan dapat memberikan motivasi kepada generasi muda agar tidak patah semangat untuk melanjutkan pendidikan.

Salah satu contoh yang disampaikan adalah penerima KIP Kuliah yang berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi dan kemudian mampu menjadi dokter di Inggris. Kisah semacam ini menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan dapat membuka peluang yang sebelumnya mungkin sulit dijangkau.

Ketepatan Sasaran Tetap Menjadi Tantangan

Meski demikian, pemberian beasiswa tidak terlepas dari tantangan. Salah satunya adalah memastikan bantuan diterima oleh mahasiswa yang benar-benar membutuhkan.

Narasumber menjelaskan bahwa sistem KIP Kuliah terus dikembangkan dengan memanfaatkan data sosial ekonomi. Penerima yang memenuhi kriteria dapat ditetapkan berdasarkan integrasi data tersebut. Namun, di lapangan masih ditemukan exclusion error, yaitu masyarakat yang seharusnya memperoleh bantuan tetapi belum masuk sebagai penerima.

Untuk menjaga ketepatan sasaran, penerima KIP Kuliah juga dievaluasi setiap semester. Evaluasi tidak hanya melihat kondisi ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan perkembangan akademik mahasiswa.

Menurut narasumber, KIP Kuliah memiliki prinsip yang perlu dijaga, yaitu keadilan, ketepatan sasaran, akuntabilitas, dan transparansi. Masyarakat juga diberikan ruang untuk menyampaikan laporan apabila menemukan penerima yang dinilai tidak sesuai dengan ketentuan.

Jangan Berhenti Kuliah karena Biaya

Pada akhirnya, persoalan biaya tidak seharusnya membuat calon mahasiswa mengubur keinginannya untuk melanjutkan pendidikan. KIP Kuliah memang menjadi salah satu skema bantuan, tetapi bukan satu-satunya pilihan.

Masih terdapat berbagai bentuk bantuan pendidikan lain, mulai dari bantuan UKT, beasiswa pemerintah daerah, beasiswa yayasan, hingga program beasiswa dari perguruan tinggi dan lembaga filantropi.

Pesan narasumber kepada generasi muda pun jelas: jangan berhenti mengejar masa depan hanya karena persoalan biaya. KIP Kuliah bukan satu-satunya jalan untuk memperoleh bantuan pendidikan. Masih banyak peluang beasiswa yang dapat dicari dan diperjuangkan.

Di tengah berkembangnya narasi “kuliah scam”, keberadaan berbagai skema bantuan pendidikan menunjukkan bahwa akses terhadap pendidikan tinggi terus diupayakan. Tantangannya bukan hanya memastikan mahasiswa dapat masuk perguruan tinggi, tetapi juga memastikan mereka mampu menyelesaikan pendidikan, mengembangkan kompetensi, dan memperoleh kesempatan untuk

membangun masa depan.

Kuliah memang tidak menjamin seseorang langsung mendapatkan pekerjaan. Namun, keterbatasan biaya juga tidak seharusnya menjadi alasan untuk berhenti mengejar pendidikan. Bagi generasi muda, yang terpenting adalah mencari informasi, memanfaatkan peluang yang tersedia, dan tidak berhenti memperjuangkan masa depan.