Prestasi itu Dicari, Bukan Ditunggu: Perjalanan Seorang Santa Menjadi The Winner

Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Sriwijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Angelica F B tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di balik kesibukan mahasiswa yang terus berjalan setiap semester, tidak semua orang berani keluar dari zona nyaman untuk mengejar prestasi. Namun, perjalanan Santa Iin Olivia Siagian seorang mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2023 menunjukkan bahwa titik balik bisa datang dari rasa bosan, lalu tumbuh menjadi keberanian untuk mau mencoba. Akhir-akhir ini, Santa sedang disibukkan dengan proyek-proyek akhir semester seperti artikel, jurnal, hingga berbagai lomba untuk menutup tahun ini dengan produktif.
Dalam dua tahun perkuliahannya, seorang Santa telah meraih berbagai pencapaian yang membanggakan. Pada saat pertama kali mencoba berkompetisi dikancah debat nasional secara online, menjadikannya sebagai salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan prestasinya. ”Waktu itu menang pertama kali, rasanya memorable banget. Kaya... Wah ternyata aku bisa.” Ia juga aktif sebagai volunteer dengan skema study exchange baik nasional maupun internasional dan masuk ke kategori special funded. Selain itu, ia juga baru saja mempublikasikan jurnal akademik dan artikel berita. Baginya,
Mencoba hal baru adalah cara terbaik untuk memahami dan menggali potensi diri.
Semua momen punya titik baliknya tersendiri. Titik balik terpenting dalam perjalanan prestasinya muncul pada saat semester dua. Saat itu hidupnya hanya berputar pada kuliah, nongkrong, makan, kemudian pulang. Hingga ada suatu momen ia merasa jenuh dan bertanya-tanya ”Kok hidupku gini-gini amat?” Kemudian ia juga melihat teman-temannya yang sering keluar kota, menang perlombaan, dari situ ia mulai penasaran bagaimana cara mereka melakukannya. Saat ia menjadi panitia dalam program kerja Bulan Kompetisi FISIP Universitas Sriwijaya di COGITO, ia bertemu dengan banyak mahasiswa berprestasi yang membuatnya kagum. Pada saat momen awarding, Santa kemudian bertekad dan dan berkataa pada diri sendiri ”Tahun depan aku harus ikut. Pokoknya aku harus ikut.” Dari sanalah ia mulai merasa penting untuk bersikap SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengan mahasiswa berprestasi lainnya. ”Asal punya tujuan jelas, mereka pasti kasih feedback yang baik,” tuturnya. Ia mulai latihan rutin, ikut sparing, dan dari konsistensi itulah ia meraih kemenangan pertamanya. Di balik prestasinya, terdapat rutinitas kecil yang ternyata sangat berarti bagi dirinya. Pada saat perlombaan, Santa selalu menyempatkan diri ke toilet untuk berdoa bersama partner karena mereka merasa malu jika terlihat oleh banyak orang. ”Itu jadi ritual kecil kami, saling support dan memberikan afirmasi positif,” katanya.
Capaian itulah yang menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih panjang dalam meraih predikat awardee Djarum Beasiswa Plus. Santa berproses dan membutuhkan empat semester penuh dengan berbagai kegagalan beasiswa yang telah dilewatinya dan ia memilih untuk terus berupaya.
Ia melakukannya dengan penuh persiapan sedetail mungkin, Santa selalu bertanya, mengecek ulang setiap dokumen dan berbagai hal sekecil apapun. ”Jangan malu bertanya, do the best. Ini the last choice, aku harus dapat,” tuturnya. Setelah berusaha semampunya, apapun hasil yang terjadi nanti cukup ia serahkan kepada Tuhan.
Meski selalu produktif, Santa tetap pernah mengalami burnout dan overwhelmed. Menurutnya, hal ini muncul ketika seseorang menyepelekan suatu tugas, mengira bisa diselesaikan dengan cepat, lalu menunda, hingga akhirnya menumpuk. Kunci untuk keluar dari zona ini adalah memaksakan diri untuk tetap konsisten. Baginya, konsistensi dimulai sejak pagi. Ia selalu bangun pukul enam, membuat daftar prioritas, membaca buku, hingga mengambil waktu singkat untuk beribadah. Di tengah kesibukan kuliah, ia pandai memanfaatkan sela waktu, termasuk mencari informasi lomba saat jeda perkuliahan. Ia juga berusaha menahan diri dari godaan ponsel saat dosen menjelaskan, karena setiap menit, menurutnya, bisa dipakai untuk menangkap ilmu. “Kalau bisa dikerjakan sekarang, jangan ditunda,” begitu prinsip yang terus ia pegang.
Dari perjalanan panjang itu, ia menyadari bahwa dukungan tidak pernah datang sendirian. Support system terbesarnya adalah Mamak, Abang Irvan dan Renaldi, serta Bapak yang menjadi penyemangatnya untuk terus bersinar dan menjadi wanita yang tangguh, ”Tanpa mereka, saya tidak akan ada di titik ini,” ucapnya. Untuk dirinya sendiri, Santa selalu menyimpan satu pesan: jangan pernah berhenti eksplor, jangan merasa cukup dengan apa yang sudah diperoleh, dan tetap menjadi diri yang selalu kepo akan banyak hal. Jadilah Santa yang selalu menjadi berkat bagi orang lain, terkhususnya teman-teman terdekat. Sementara untuk mahasiswa lain yang sedang berjuang, ia menegaskan satu hal yang paling ia yakini:
”Tidak ada kata terlambat. Kesuksesan datang ketika kesempatan bertemu dengan keberuntungan. Kalau kamu siap, kamu akan menjadi the winner.”
