3 Hari Menjajal Perbatasan Indonesia-Malaysia

Cuaca mendung menyambut saya saat tiba di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, sekitar pukul 6.30 WIB, Rabu (26/4). Setelah melalui satu jam perjalanan dari Bandara Soekarno-Hatta, saya akan menuju daerah perbatasan Indonesia-Malaysia.
Bandara Supadio menjadi titik awal perjalanan saya bersama Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta rombongan lainnya di Kalimantan Barat. Dalam tiga hari ke depan, kami akan menyusuri ruas jalan yang membelah Indonesia dan Malaysia.
Dari Bandara Supadio, saya beserta rombongan melanjutkan perjalanan terlebih dahulu menggunakan pesawat kecil menuju Putusibau, lalu dilanjutkan dengan perjalanan darat selama tiga hari.
Baca juga: Berbenah di Lintas Batas RI
Adapun jalur darat yang akan dilintasi dalam tiga hari ke depan antara lain Putusibau - Nanga Era - Nanga Badau - Nanga Kantuk - Meraka.
"Kita akan melihat langsung kesulitan membuka jalan perbatasan," kata Kepala Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional XI Kementerian PUPR, Sugiyartanto, di Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, Rabu (26/4).

Baca juga: Mengintip Video Pembangunan Lintas Batas RI
Infrastruktur jalan di Kalimantan Barat ini terbentang sepanjang 850 kilometer. Ada sekitar 200-500 kepala keluarga yang tinggal di sekitar ruas jalan tersebut. Secara keseluruhan, jalan tersebut belum sepenuhnya mulus dan rapih ibarat jalan Sudirman di Jakarta.
"Ada yang belum tembus, ada yang sudah terbuka tapi belum nyaman. Itu proses yang ditargetkan pada 2019 bisa tembus dulu," katanya.
Jadi, mari kita lihat bagaimana pembangunan jalan di kawasan perbatasan dan perkembangan ekonomi masyarakat sekitar setelah akses infrastruktur dibuka. Tunggu laporan kumparan (kumparan.com) berikutnya.
