Kumparan Logo

Bahlil Akui Stok Pertalite Menurun, Butuh Seminggu Agar Bisa di Atas 20 Hari

kumparanBISNISverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers pada Jumat (16/10). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers pada Jumat (16/10). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi yang juga menjabat sebagai Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengakui stok BBM Pertalite menurun menjadi sekitar 16-18 hari. Menurutnya, butuh waktu sepekan untuk memulihkannya di atas 20 hari.

Hal tersebut dibahas dalam rapat bersama Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad, Kepala BP BUMN Dony Oskaria, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani, Kapolri Jenderal Pol. Suyudi Ario Seto, hingga Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Muhammad Herindra.

"Tadi saya juga mendapat laporan dari Pertamina. Secara stok nasional kita, BBM itu di 16 sampai 18 hari. Jadi stok BBM nasional, Insyaallah itu aman," ungkap Bahlil saat konferensi pers, Jumat (16/10).

Bahlil menuturkan bahwa seretnya pasokan BBM yang terjadi di beberapa daerah, seperti Bali hingga Sulawesi Utara, disebabkan kendala distribusi terutama yang berkaitan dengan kapal, sehingga diantisipasi dengan penambahan kapal.

Meski demikian, dia mengakui bahwa terjadi penurunan stok Pertalite di kilang. Hal ini disebabkan oleh melonjaknya permintaan. Sementara jenis BBM lain seperti Pertamax (RON 92) dan Pertamax Turbo (RON 98) masih aman.

Pengendara antre membeli BBM jenis pertalite di salah satu SPBU di Medan, Sumatera Utara, Kamis (16/7/2026). Foto: Yudi Manar/ANTARA FOTO

"Sekarang lagi proses pencampuran, di kilang itu kan ada, yang kurang dari 20 hari itu hanya RON 90. Tapi kalau Solar, RON 92, RON 95, RON 98 itu no issue. Enggak ada masalah, yang terjadi pergeseran dari 16-18 hari itu adalah RON 90," ungkap Bahlil.

Lonjakan permintaan Pertalite, kata Bahlil, disebabkan pergeseran konsumen dari awalnya BBM nonsubsidi, namun karena harganya naik, maka akhirnya bergeser ke BBM subsidi yang harganya tetap.

"Terjadinya shifting yang tadinya orang pakai RON 92 dan 95, itu di-shifting ke RON 90 karena harganya kan berbedanya cukup ekonomis ini. Itu sebenarnya masalahnya," tuturnya.

Bahlil menyebutkan bahwa proses pengolahan Pertalite di kilang masih diproses dan memakan waktu hingga sepekan ke depan agar ketahanan stok bisa kembali di atas 20 hari.

"Tapi secara standar nasional oke. Mungkin untuk mencapai di angka 20 itu ya kita butuh waktu seminggu, seminggu selesai. Tapi di 16-18 hari itu kan bukan berarti kita kekurangan standar minimal, enggak," katanya.

instagram embed