Hari 1 Ekspedisi Jalur Perbatasan RI-Malaysia

Hari pertama perjalanan ekspedisi Tour of West Borneo bersama Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat dimulai. Dari Bandara Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat, kami menggunakan pesawat ATR menuju ke Putusibau di Kalimantan Barat yang berjarak 578,03 kilometer.
Transportasi udara dipilih untuk mempersingkat waktu tempuh kami ke Putusibau. Jika ditempuh dengan jalur darat, perjalanan bisa memakan waktu hingga 18 jam. Sementara naik pesawat, perjalanan cukup ditempuh selama satu jam. Hanya ada dua penerbangan per hari.
Rombongan tiba di Bandara Pangsuma Putusibau pukul 13:00 waktu setempat, Rabu (26/4). Setelah melakukan briefing selama hampir satu, jam, ekspedisi jalur darat melintasi perbatasan Indonesia-Malaysia pun siap dimulai.
Tentu saja mobil yang digunakan berkapasitas mesin besar. Sebab, jalur yang ditempuh cukup ekstrem. Kami menuju titik pembangunan jalan perbatasan di kawasan Nanga Era yang berbatasan dengan Kalimantan Timur yang memiliki panjang 158 kilometer.
Jalan dari Putusibau menuju Nanga Era sendiri memiliki jarak 40 km, sepanjang jalan tersebut telah mulus hitam beraspal. Kecepatan kendaraan bisa mencapai 90 km per jam. Rambu dan marka jalan pun terlihat masih baru.

Meski jalanan mulus, lau lalang kendaraan masih sangat jarang. Sepanjang saya melalui jalur ini, terhitung hanya beberapa truk saja yang berpapasan dengan rombongan kami.
Baca juga: 3 Hari Menjajal Perbatasan Indonesia-Malaysia
Mengapa Nanga Era yang menjadi tujuan pertama? sebab di sana sedang dilakukan pembukaan jalan dengan membelah hutan Kalimantan, sekaligus pembangunan yang dikerjakan Zeni TNI-AD bersama Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, yakni untuk pengerjaan akses Nanga Era hingga perbatasan Kalimantan Timur sejauh 107,36 km yang sedang dikerjakan dan ditargetkan akan selesai tahun 2018.
"Dalam pembukaan jalan, kami dilaksanakan oleh Batalyon Zeni dari TNI AD, dengan lebar 25 meter, dengan produk awal tanah," kata Kepala Bidang Pembangunan dan Pengujian Balai Besar Jalan Nasional XI (BBPJN) Kalimantan, Nanang Handono Prasetyo, di Putusibau, Kalimantan Barat, Rabu (26/4).
Ketika kami memasuki titik pengerjaan jalan tersebut, sisi kiri dan kanan yang kami lalui berubah menjadi hutan lebat. Dengan kondisi jalan yang hanya tanah dan lereng dilengkapi jurang dan beberapa ruas sudah berbentuk agregat atau tanah yang dilapisi oleh bebatuan.

Setelah 1,5 jam perjalanan, pukul 15:30 tibalah kami di lokasi, pantauan kumparan (Kumparan.com) ada 5 alat berat yang sedang bekerja membelah hutan untuk dijadikan jalan, puluhan TNI-AD yang berasal dari Batalyon Zeni Sipur Kodam 12 Tanjung Pura ini bekerja siang dan malam bergantung pada cuaca. Apabila hujan mereka berhenti bekerja, sedangkan jika cuaca cerah tengah malam pun mereka bekerja.
Untuk membuka akses jalan di Nanga Era- Perbatasan Kalimantan Timur, terdapat dua Zeni TNI AD yang mengerjakan. Saat ini Zeni 18 efektif mengerjakan pembukaan jalan baru sepanjang 28 km dan Zeni 19 mengerjakan 12 km yang melewati kawasan hutan lindung tersebut.
Baca juga: Mengintip Video Pembangunan Lintas Batas RI

Dalam pembangunan jalan perbatasan ini pemerintah dalam hal ini TNI-AD dan Kementerian PUPR terus berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) untuk mengurus izin kehutanan.
"Sesuai dengan arahan, Menteri PUPR sudah ada komunikasi dengan Kemenhut sehingga bisa berjalan tanpa melanggar aturan, kita jalan terus," pungkas Nanang.
Kami pun menjajal jalan yang belum terbuka tersebut, melintasi rimbunnya hutan dengan jalan yang lebarnya 25 meter yang baru dibuka. Jalan itu masih berupa tanah merah dengan rute menanjak.

Licinnya jalan tanah di beberapa titik membuat jantung berdedup kencang saat memakai kendaraan. Tapi, sebagian jalan untungnya sudah ada yang memiliki kontur yang kuat setelah dilakukan pengerasan.
Nuansa hutan gelap pun mulai terasa, kami bersama rombongan pun menghentikan perjalanan. Untuk hari pertama, hanya satu titik yang kami lalui. Kami akan melanjutkan lagi perjalanan dari Putusibau-Badau-Nanga Kantuk-Merakai dengan total 200 km.
